|
Sebuah pesawat terbang kembali mengalami insiden. Saya baca beritanya di Kompas
tadi pagi. Pesawat nahas itu milik Lion Air, jenis MD-82 dengan
nomor penerbangan IW 8987 dari Denpasar tujuan Surabaya. Pesawat itu tergelincir ketika mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, kemarin pagi sekitar pukul 16.23. Untung saja, tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Saya buka-buka catatan dan kliping. Masya Allah! Ternyata ada beberapa pesawat sejenis milik Lion Air yang mengalami kecelakaan. Pada 18 Januari 2006, misalnya, MD-82 Lion Air juga tergelincir di Bandara Hasanuddin, Makassar. Setahun sebelumnya, pesawat serupa pecah ban saat mendarat di bandara yang sama, persisnya pada 6 Mei 2005. Pesawat sejenis juga mengalami musibah pada 30 November 2004, di Solo. EDAN! Saya mengumpat dalam hati. Baru kemarin rasanya, saya dan si Mbilung ledek-ledekan soal pesawat terbang milik low cost carrier. Eh, kejadian beneran. Saya tertegun. Ada apa dengan maskapai kita? Si Mbilung pun setengah tak percaya ketika tadi pagi saya kabari. "Lah kok bisa?" begitu reaksinya. "Beritanya ada di mana? Saya belum baca koran pagi ini." Kawan saya si Mbilung itu tentu saja kaget setengah mati karena ia baru saja mengirimkan e-mail tentang pesawat yang mengantarnya ke Timor Leste kemarin. Begini isinya. "Mas, aku tiba dengan selamat di Dili." Syukurlah. Saya menggumam dalam hati. "Di Hotel ada internetnya, broadband. Cihuiiii ... deh. Tapi aku punya cerita yang benar-benar pecas ndahe. Soal pesawat lagi." Alamak. Again? "Soal ban vulkanisir, bensin campur air, navigasi mati, sudah pernah ada beritanya kan? Nah, kali ini pasti belum pernah dengar. Sampeyan apa pernah nemu berita pesawat pakai plester?" Ceritanya
gini. Aku tadi dari Denpasar ke Dili naik pesawat Merpati dengan nomor
penerbangan MZ8480. Jenis pesawatnya Boeing 737-200, registrasi pesawat
PK-MBU. Aku sengaja menyebut agak detail soalnya nggak bawa kamera. Aku
duduk di kursi 8F, jendela, persis di samping mesin kanan (starboard engine). Pesawat nyaris kosong. Awalnya aku nggak begitu menaruh perhatian dengan pemandangan di luar. Pesawat didorong, taxi menuju runway. Aku masih cuek. Pas mau take off, barulah aku lihat ke luar jendela. Itu selongsong mesin pesawat (nacelle) kan nggak langsung nempel ke sayap, tapi terhubung melalui gantungan mesin (pylon). Lha itu, persis di antara nacelle dan pylon, walaaaahhh .... kok ada selembar plester yang membalut. Pesawat
sudah lari sak kenceng-kencengnya, hidung terangkat. Aku mulai
merasakan horor. Lembaran plester itu ada yang mulai mengelupas.
Berkibar-kibar dengan seremnya. Pesawat nanjak terus ke ketinggian
jelajah 33.000 kaki. Itu potongan plester masih berkibar-kibar. Kira-kira
setengah jam kemudian sebagian besar plester mulai terbuka dan terurai
semua, melambai-lambai. Pelan sih, tapi kelihatan jelas gerakannya.
Lama-lama tersingkaplah apa yang sesungguhnya hendak dilindungi dengan
plester itu. Rupanya karet penyekat (seal) antara pylon dan nacelle sudah copot. Ada kemungkinan, teknisi pesawat di darat mau main gampang aja. Karetnya dijejalkan kembali, terus diplester. Beres. Rapi. Aku nggak tahu persis apa fungsi karet itu, tapi mesti ada gunanya. Kalau nggak, ngapain dipasang? Setengah jam sebelum mendarat, itu plester sudah nyaris bergulung semuanya. Karetnya ikut berkibar-kibar. Waaaaaaaaaaaaaa........ Akhirnya pesawat mendarat
di bandara Presidente Nicolao Lobato di Dili sesuai jadwal.
Horeeeeeee .... Nggak mulus sih, mendaratnya, tapi yang penting aku
selamat. Seperti salah satu lagu Paramitha Rusadi, Merpati tak Pernah Ingkar Janji. Merpati benar-benar menepati janji, sekaligus mewujudkan semboyannya, "Get the feeling".... Tapi yang ini "feeling scared, man!"
Saya hanya bisa mengelus dada setelah tamat membaca surat dari si Mbilung. |
| Leave a Comment: |