"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, November 25, 2006
Dummies Pecas Ndahe

Saya bukan pembaca buku yang baik dan benar. Ndak baik karena saya jarang beli sendiri -- lebih sering meminjam dan [pura-pura] lupa mengembalikan atau diberi oleh orang baik seperti Paman Kemplu... Big Smile

Ndak benar karena saya jarang baca buku sampai tamat. Biasanya saya cuma memilih bagian yang saya sukai, atau kebetulan menarik perhatian.

Kalau novel, biasanya cuma saya lihat bagian awal dan akhirnya. Kalau buku literatur, saya pilih yang penting-penting saja. Bagian intinya.... Big Smile

Karena itu, ilmu, pengetahuan, wawasan saya ya ndak nambah-nambah. Hanya mirip katak dalam tempurung.

Buat saya, kegiatan membaca buku itu terlalu menghabiskan waktu. Padahal waktu itu sesuatu yang "mewah" buat saya. Saya juga bukan orang yang sabar, maunya sekali lihat langsung sampai bagian akhir dan saya tambah pinter seperti Miss Doyle yang hobinya membaca itu ... Big Smile

Lah kok tiba-tiba Ndoro Juragan Ageng, Bosnya Para Bos, bawa buku yang barusan dibelinya dari toko buku jarang laku di negeri entah berantah. Terus dia memamerkan buku itu ke saya. "Kamu mesti baca ini," katanya.

Halah, saya membatin. Lah wong Sabtu, weekend, kok disuruh baca buku. Apa dia itu ndak tahu profesi saya saban Sabtu itu pengasuh anak? Apa dia itu belum paham bahwa batas antara sebutan suami dan jongos itu tipis pada setiap Sabtu?

Oalah, bos...Bos! Boro-boro baca buku. Mata saya belum melek saja, bedhes-bedhes di rumah sudah langsung nemplok, terus ngajak jalan-jalan. Belum lagi ibunya yang sudah menyiapkan sederet tugas yang harus saya kerjakan setiap Sabtu: dari ngepel sampai nyuci bak. Soalnya, dia mau ke pasar dan memasak. Begitulah ritual mingguan di sebuah keluarga tanpa bedinde. Lah kok sekarang mau disuruh baca buku. Wis jan ramutu tenan iki ... Sad

Tapi, namanya juga perintah Juragan Ageng, saya ya sendiko dawuh saja, mengikuti perintahnya dengan takzim. Tentu saja dengan tambahan, nanti kalau saya sudah punya waktu dan sempat membaca.

Sempat? Eh, tunggu dulu. Lah kok judul bukunya nyeleneh begini? Islam for Dummies? Apa buku ini seperti buku-buku tips sebangsa Football for Dummies, Photography for Dummies, dan dummies-dummies yang lain itu?

Ah, kalau begitu saya mesti menyempat-nyempatkan diri baca buku ini. Unik je. Saya membayangkan, jangan-jangan ada Buddha for Dummies, Christian for Dummies, Catholic, Hindu, etc? Kalau benar ada, bagus kan itu?

Soalnya saya merasa seandainya ada lebih banyak buku lagi yang mirip-mirip seperti ini, orang-orang dengan latar belakang berbeda itu kan jadi bisa saling mempelajari orang lain yang keyakinannya berlainan pula. Pemeluk Islam, misalnya, jadi lebih bisa mengenal umat Kristiani atau sebaliknya. Tak kenal maka tak sayang, bukan? Atau seperti petuah para cerdik pandai itu: aku berbeda, maka aku ada.

Pemahaman dan toleransi itu penting di kala kita telanjur hidup suasana yang kian tegang. Konflik mengintai setiap saat. Pluralisme, ide kebhinekaan yang tunggal ika, berada di atas benang yang rapuh dan suatu saat mudah putus. Buku semacam ini bisa menjadi pintu awal agar keberagaman dapat diterima secara luas.

Bukan begitu Ki Sanak?


Posted at 8:08:08 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (33)  

Next Page