Baru sekarang saya merasa bersyukur tinggal di Tangerang. Bukan di Jakarta. Bukan di Bogor. Terutama ketika Mister George Waduh Nggedabrush dari Ngamerika mau berkunjung ke sini. Soalnya, saya ndak perlu ikut sengsara.
Bayangkan saja. Saya ndak perlu takut keblasuk-blasuk nyari jalan yang ndak ditutup. Ndak perlu bingung ke mana nyari warung yang masih buka. Dan anak-anak saya ndak perlu libur sekolah seperti anak-anak Bogor pada Senin nanti.
Kalau dipikir-pikir, sebetulnya saya agak heran juga sama Mister Nggedabrush itu. Lah wong mau bertamu saja kok bikin syusah orang. Mbok ya kalau bertandang yang tinggal datang saja. Ndak usah bikin heboh. Ndak usah nutupin jalan seperti orang mau pesta pernikahan di kampung. Ndak perlu membuat anak-anak libur sekolah.
"Itulah bedanya Presiden Ngamerika yang sekarang dan yang dulu. Dulu, pernah ada masanya Ngamerika punya presiden yang membuat saya kagum, Mas," kata Paklik Isnogud yang saya sambati, ajak curhat, tadi sore.
"Memangnya ada, Paklik? Siapa?"
"Namanya Woodrow Wilson, Mas."
"Oh, saya ndak kenal Paklik. Mesti sudah lawas ya?"
"Iya. Dulu, ketika Wilson meninggal, sebetulnya dia pergi dengan kekecewaan besar. Penyair Robinson Jeffers menulis sebuah sajak tentang momen itu, dengan dialog imajiner itu: bekas presiden itu terbaring, dan harapan-harapannya, agar dunia lebih baik dan lebih damai, berantakan.
Wilson memang aneh, seorang presiden Amerika yang aneh, di abad ke-20. Ia bicara tentang perlunya "perdamaian, tanpa kemenangan". Ia menolak untuk menggunakan kekuatan fisik Amerika terhadap negeri-negeri yang lebih lemah.
Bahkan ketika kapal Inggris Lusitania tenggelam ditorpedo Jerman, dan ada 12
penumpang Amerika tenggelam, Wilson tetap belum meneriakkan pekik pertempuran. 'Memang ada dalam hidup ini sebuah bangsa yang teramat sadar akan harga dirinya untuk mau berkelahi,' katanya.
Lawan politiknya menuduhnya sebagai peragu dan takut-takut -- seperti presiden sampean itu, Mas. Pengagumnya mendengarkan. Suaranya suara seorang Yudhistira: orang yang bicara tentang kebersihan dan perdamaian biarpun di ambang perang.
Ia barangkali memang kuno, tak tepat, dan celaka dalam sebuah zaman yang lebih suka gagah-gagahan. Ia akan diketawakan oleh Rambo. Ronald Reagan mungkin akan geleng-geleng kepala tak bisa memahaminya. Suara tak bernama dalam sajak Robinson Jeffers, Woodrow Wilson, juga seperti mencemoohnya - atau meletakkannya dengan lugas ke dalam dunia yang keras: 'Kemenangan, kau tahu/memerlukan kekuatan untuk mempertahankan kemenangan, beban itu tak akan pernah jadi ringan ...'
'Visionless men, blind hearts, blind mouths, live still,' Wilson mengeluh dalam sajak Robinson Jeffers. Tapi bila orang-orang tanpa visi, bila hati yang buta dan mulut yang picak Itu masih terus hadir, apa yang bisa dilakukan?
Rakyat Amerika bertepuk sorak, jingoisme dan kepala panas memenangkan suara - persis seperti yang dialami Wilson sendiri di hari-hari menjelang 2 April 1917. Di hari itu, Wilson akhirnya menyatakan perang kepada Jerman. Api dan asap khalayak ramai yang marah akhirnya mendesaknya untuk bertindak. Dan sejak itu Amerika pun merasakan manisnya kemenangan, dan perlunya kekuatan - seorang jago sehabis mencicipi kemasyhurannya yang pertama.
Wilson, tentu saja, bukan jago. Ia tak cocok untuk potongan itu. Sehabis kemenangan, ia malah menyerukan rekonsiliasi. Suaranya sebenarnya berbicara seperti seorang filosof Jawa pernah bicara: ia ingin menang tanpa ngasorake, memang tanpa menghinakan pihak yang kalah. Itulah sebabnya semboyannya berseru, 'perdamaian, tanpa kemenangan'.
Tapi suaranya memang aneh dan ia sia-sia. Sebab, dendam dan ketakutan kepada Jerman dengan segera, setelah yang terakhir ini kalah, menyebabkan negeri Eropa yang menang mencoba sebaik mungkin menginjak-injak. Keserakahan dan kompromi juga berperan; Jepang mulai masuk ke Cina, dan bangsa-bangsa yang terjajah tetap tak dimerdekakan oleh kolonialis mereka.
Empat belas Pasal Wilson yang terkenal itu akhirnya hanya sebuah risalah yang bagus tapi bangkrut - suatu bukti bahwa sejarah selalu tidak bisa teramat sabar dengan ide-ide yang luhur. Entah di mana, selalu bersembunyi pengkhianatan.
Seperti kata sang suara dalam sajak Robinson Jeffers lagi, 'Ada begitu banyak pengkhianatan, dan orang Rusia dan orang Jerman tahu.'
Tidak mengherankan bila Woodrow Wilson mati kecewa. Tak mengherankan pula bila banyak orang - tak cuma orang Jerman dan Rusia - tahu dan kecewa: dunia tak punya lagi sebuah negeri, tak ada lagi seorang pemimpin, tempat orang mendengarkan suara yang lebih berharga ketimbang cuma pekik kemenangan dan kekuatan.
Sayang Wilson bukan Bush ya, Mas?"
Saya mengangguk.
Posted at 11:04:33 pm by pecas ndahe
tautan tetap