"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, November 12, 2006
Cruz Pecas Ndahe

Hari ini, 12 November, 15 tahun silam. Sebuah insiden meletus di kuburan Santa Cruz di Kota Dili. Ratusan orang tewas pada Selasa pagi itu. Dan kegemparan terjadi. Gaungnya jauh, sampai ke seberang benua dan dampaknya masih dirasakan hingga lebih dari satu dasawarsa kemudian. Tapi tak jelas apa yang sebenarnya yang terjadi pada hari itu?

Di sini, catatan lengkap tentang Tragedi Santa Cruz itu terselip entah di laci siapa. Untunglah, jagad maya menyediakan cukup informasi tentang kasus memalukan yang membuat Amerika mengembargo peralatan dan bantuan militer Indonesia itu.

Maklum, pada insiden itu, tentara Indonesia menembaki warga sipil tak bersenjata dengan M-16 buatan Amerika. Tapi, tetap saja belum jelas benar apa yang menyebabkan segerombolan serdadu berubah begitu liar seperti kuda-kuda Sumba lepas dari penggembalanya waktu itu?

"Kalau mau tahu soal itu, kalau mau tahu soal kebenaran, sampean mesti nonton dulu film Rashomon," kata Paklik Isnogud.

“Memangnya kenapa, Paklik? Kenapa sampean ndak menyarankan saya baca buku Jazz, Parfum dan Insiden?”

”Kebenaran bukan sesuatu yang bersih dalam cerita Rashomon. Kebenaran,  akhirnya, ditetapkan oleh kepentingan setiap pihak yang terlibat, atau hanya merupakan pernyataan harga diri dan sikap mau selamat tiap orang. Samurai yang terbunuh oleh perampok dalam cerita itu tak ingin dipandang lemah, sedang isterinya yang berada di tempat pembunuhan mungkin tak mau dianggap perempuan tak setia, dan perampok itu mungkin hendak menunjukkan kegagahan dirinya. Di akhir cerita, kita akhirnya tak diberi sebuah keputusan. Kebenaran tetap luput.”

”Masalahnya, Paklik,” saya menukas, “dalam hidup kita yang cuma sebentar ini, mampukah kita selamanya menanggungkan itu, dan tidur berselimut? Bila kebenaran tidak pernah putih, tak berarti kita tak akan tergerak untuk menggosoknya dari polusi. Kalaupun tak tampak keputusan, kita akan selalu coba mendapatkannya sendiri -- setidaknya agar bisa tetap jadi manusia seutuhnya, biarpun sehari. "

”Sudahlah, Mas. Sampean bukan nabi. Bukan petugas. Kalau sampean mau mendapatkan keterangan yang sampean sendiri tak tahu untuk apa, dan untuk kepentingan siapa?”

”Ah, Paklik. Saya bertahun-tahun hidup dengan mendengarkan sinisme macam itu. Saya capek. Saya ingin punya harapan. Saya ingin sebuah Indonesia yang tidak kusam oleh rasa tak percaya yang serba mencemooh atau mencurigai. Sungguh.”  

“Mas, dulu Presiden Soeharto pernah membentuk Komisi untuk menyelidiki insiden itu. Kalau tak salah namanya KPN. Saya lupa apa kepanjangannya. Maklum, di negeri ini terlalu banyak komisi dan singkatan. Saya jadi bingung, Mas. Nah, saya dengar ada anggota KPN yang pernah mengeluh: ‘siapa sebenarnya saya dan apa posisiku untuk ngotot mencari kebenaran? Dan akan beranikah aku jika hasilnya menyakitkan?’

Toh pada akhirnya anggota KPN itu tak ingin jadi pejuang gagah hak-hak asasi. Dia hanya ingin bertatap muka dengan rasa pedih para orangtua yang anaknya mati atau hilang.”  

“Saya bisa memahami perasaan mereka, Paklik. Saya juga punya anak seperti mereka. Saya telah menyaksikan sebuah masyarakat yang jadi takut. Dalam sejarah kita sudah banyak hal semacam itu terjadi. Saya tak ingin lebih banyak lagi. Saya cuma ingin Indonesia yang bisa dicintai juga oleh mereka yang tidak berdaya, Indonesia yang selalu bisa dibuat baik, juga oleh dan untuk mereka yang tak berdaya."

”Kalau saya justru tak mau memimpikan sebuah Indonesia yang sempurna, Mas. Itu berbahaya. Saya hanya ingin jadi bagian dari bangsa yang bisa menerima kemungkinan dirinya untuk bersalah, seperti manusia lain di benua dan zaman lain. Sebab, dari situlah kita bisa maju. Penyair Soebagio Sastrowardojo mengatakan, ‘Melalui dosa kita bisa dewasa’.  

Kunci katanya adalah ‘melalui’: kita tidak terperosok di sana. Itulah benih harapan: rasa bersalah menyebabkan kerendahan hati, tanah subur di mana akan tumbuh nilai yang kuat tentang apa yang buruk dan baik. Tanpa itu, kita hidup dalam keliaran yang buas.

Dan itulah yang sedang saya coba buktikan sekarang, Mas. Sampean jangan ketawa. Anggaplah ini suatu latihan untuk menjadi seorang Indonesia di dunia yang sukar ini.

Saya memilih jalan itu setelah membaca sajak Adrienne Rich yang mungkin belum pernah sampean baca: A patriot is not a weapon. A patriot is one who wrestles for the soul of her country. Saya ingin bergulat untuk menebus kembali sukma negeri ini.”

Aih, Paklik ....


Posted at 7:10:01 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (4)  

Next Page