Hari ini, 12
November, 15 tahun silam. Sebuah insiden meletus di kuburan Santa Cruz di Kota
Dili. Ratusan orang tewas pada Selasa pagi itu. Dan kegemparan terjadi.
Gaungnya jauh, sampai ke seberang benua dan dampaknya masih dirasakan hingga
lebih dari satu dasawarsa kemudian. Tapi tak jelas apa yang sebenarnya yang
terjadi pada hari itu?
Di sini, catatan
lengkap tentang
Tragedi Santa Cruz itu terselip entah di laci siapa. Untunglah,
jagad maya menyediakan cukup informasi tentang kasus memalukan yang membuat
Amerika mengembargo peralatan dan bantuan militer Indonesia itu.
Maklum, pada
insiden itu, tentara Indonesia menembaki warga sipil tak bersenjata dengan M-16
buatan Amerika. Tapi, tetap saja belum jelas benar apa yang menyebabkan
segerombolan serdadu berubah begitu liar seperti kuda-kuda Sumba lepas dari
penggembalanya waktu itu?
"Kalau mau tahu soal itu, kalau mau tahu soal kebenaran, sampean mesti nonton
dulu film
Rashomon," kata Paklik Isnogud.
“Memangnya
kenapa, Paklik? Kenapa sampean ndak menyarankan saya baca buku
Jazz, Parfum dan Insiden?”
”Kebenaran bukan sesuatu yang bersih dalam cerita
Rashomon. Kebenaran, akhirnya,
ditetapkan oleh kepentingan setiap pihak yang terlibat, atau hanya merupakan
pernyataan harga diri dan sikap mau selamat tiap orang. Samurai yang terbunuh
oleh perampok dalam cerita itu tak ingin dipandang lemah, sedang isterinya yang
berada di tempat pembunuhan mungkin tak mau dianggap perempuan tak setia, dan
perampok itu mungkin hendak menunjukkan kegagahan dirinya. Di akhir cerita,
kita akhirnya tak diberi sebuah keputusan. Kebenaran tetap luput.”
”Masalahnya, Paklik,” saya menukas, “dalam hidup kita yang cuma sebentar ini,
mampukah kita selamanya menanggungkan itu, dan tidur berselimut? Bila kebenaran
tidak pernah putih, tak berarti kita tak akan tergerak untuk menggosoknya dari
polusi. Kalaupun tak tampak keputusan, kita akan selalu coba mendapatkannya
sendiri -- setidaknya agar bisa tetap jadi manusia seutuhnya, biarpun sehari.
"
”Sudahlah, Mas. Sampean bukan nabi. Bukan petugas. Kalau sampean mau
mendapatkan keterangan yang sampean sendiri tak tahu untuk apa, dan untuk
kepentingan siapa?”
”Ah, Paklik. Saya bertahun-tahun hidup dengan mendengarkan sinisme macam itu.
Saya capek. Saya ingin punya harapan. Saya ingin sebuah Indonesia yang tidak
kusam oleh rasa tak percaya yang serba mencemooh atau mencurigai. Sungguh.”
“Mas, dulu
Presiden Soeharto pernah membentuk Komisi untuk menyelidiki insiden itu. Kalau
tak salah namanya KPN. Saya lupa apa kepanjangannya. Maklum, di negeri ini
terlalu banyak komisi dan singkatan. Saya jadi bingung, Mas. Nah, saya dengar
ada anggota KPN yang pernah mengeluh: ‘siapa sebenarnya saya dan apa posisiku
untuk ngotot mencari kebenaran? Dan akan beranikah aku jika hasilnya
menyakitkan?’
Toh pada akhirnya anggota KPN itu tak ingin jadi pejuang gagah hak-hak asasi.
Dia hanya ingin bertatap muka dengan rasa pedih para orangtua yang anaknya mati
atau hilang.”
“Saya bisa
memahami perasaan mereka, Paklik. Saya juga punya anak seperti mereka. Saya
telah menyaksikan sebuah masyarakat yang jadi takut. Dalam sejarah kita sudah
banyak hal semacam itu terjadi. Saya tak ingin lebih banyak lagi. Saya cuma
ingin Indonesia yang bisa dicintai juga oleh mereka yang tidak berdaya,
Indonesia yang selalu bisa dibuat baik, juga oleh dan untuk mereka yang tak
berdaya."
”Kalau saya justru tak mau memimpikan sebuah Indonesia yang sempurna, Mas. Itu
berbahaya. Saya hanya ingin jadi bagian dari bangsa yang bisa menerima
kemungkinan dirinya untuk bersalah, seperti manusia lain di benua dan zaman
lain. Sebab, dari situlah kita bisa maju. Penyair Soebagio Sastrowardojo
mengatakan, ‘Melalui dosa kita bisa dewasa’.
Kunci katanya adalah ‘melalui’: kita tidak terperosok di sana. Itulah
benih harapan: rasa bersalah menyebabkan kerendahan hati, tanah subur di mana
akan tumbuh nilai yang kuat tentang apa yang buruk dan baik. Tanpa itu, kita
hidup dalam keliaran yang buas.
Dan itulah yang sedang saya coba buktikan sekarang, Mas. Sampean jangan ketawa.
Anggaplah ini suatu latihan untuk menjadi seorang Indonesia di dunia yang sukar
ini.
Saya memilih jalan itu setelah membaca sajak
Adrienne Rich yang mungkin belum
pernah sampean baca:
A patriot is not a weapon. A patriot is one who
wrestles for the soul of her country. Saya ingin bergulat untuk menebus kembali
sukma negeri ini.”
Aih, Paklik ....