Beginilah cuplikan singkat adegan pada malam yang menjengkelkan itu. Kawan saya
Mas Jari Ajaib menggambarkannya lewat kartun yang jenaka, khas anak Purbalingga.

Ceritanya saya harus membuat yang namanya berita acara pemeriksaan (BAP). Orang-orang menyebutnya proses verbal. Dalam proses itu, pak pulisi bertanya dan saya menjawab banyak hal yang berkaitan dengan kecelakaan yang menimpa saya.
Tapi, saya mesti menunggu berjam-jam di masjid di dalam kompleks kantor pak pulisi sebelum proses pembuatan BAP dilakukan. Masjid itu gelap tanpa lampu dan saya dikerubuti nyamuk ganas. Nyamuknya sih, ndak apa-apa, tapi temennya itu loh banyak amat.
Malam pun merangkak menuju pagi, hingga terang tanah.
Setelah menunggu berjam-jam, sekitar pukul 06.00 pagi, pembuatan BAP dimulai. Kami, saya dan pak pulisi itu, cuma sempat cuci muka. Mandi? Mana sempat .....
Pak pulisi mengajukan belasan pertanyaan yang harus saya jawab secara jelas. Salah satu pertanyaan yang membuat saya bengong adalah, "Bagaimana riwayat hidup saudara hingga sampai Jakarta?"
Saya balik bertanya, "Lah apa hubungan antara riwayat hidup saya dengan kecelakaan, Pak?"
Eh, pak polisi ngotot. "Sudah ceritakan saja. Singkat juga nggak apa-apa."
Alamak.
Begitulah. Proses pembuatan BAP memakan waktu berjam-jam. Setelah diselingi makan, salat, dan istirahat sebentar, akhirnya selesai juga. Saya lihat jam, sudah pukul 21.00. Berarti sudah 24 jam saya di kantor pulisi. Apes, dah. Mudah-mudahan sampean semua ndak perlu mengalami kayak saya ...
Posted at 9:13:48 pm by pecas ndahe
tautan tetap