
Coba barongsai itu sejenis kambing, kuda, atau kirik. Ceritanya mungkin bisa lain. Begitu pemiliknya tidur, pasti dia sudah keluyuran ke mana-mana mencari makan. Apalagi lehernya tak diikat tali. Tapi siapa bisa menyalahkan? Kelelahan memang cuma bisa dibayar dengan kelelapan. Di bawah pohon pula. Angin sepoi-sepoi pasti cepat membuat siapa pun pulas dalam hitungan detik.
Mas Pengusung barongsai ini pun mungkin juga sudah terlalu lelah setelah berkeliling dari satu kompleks ke kompleks lain, sampai akhirnya mendarat di kompleks perumahan saya. Ia sendirian. Barongsainya pun cuma bagian kepalanya. Ekornya entah ke mana. Entah ke mana pula teman-teman Mas Pengusung itu.
Maka, begitu dia melihat pohon yang rindang dan meneduhkan, juga bangku panjang, badan pun langsung direbahkan. Zzz...grrr....zzz...grrr .... zzzz ... Mas Pengusung seperti tak takut barongsainya bakal lari sendiri atau digondol maling. Tidurnya sudah terlalu nyenyak siang itu.
Ah, kalau sudah begini, siapa pun dia, kalau mertua lewat pun pasti ndak bakal dilirik ya .... 
Posted at 10:46:12 am by pecas ndahe
tautan tetap