Di tengah suasana Lebaran, silaturahmi antarkerabat, kemacetan di jalur pantai utara dan selatan, arus mudik, teror di Poso, siapa yang masih ingat tentang Sumpah Pemuda? Siapa yang masih hapal bait-bait manifesto politik yang lahir pada 28 Oktober 1928 itu?
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Saya ingat Mister Sunario Sastrowardoyo. Bersama Hatta, ia dulu menjadi Pengurus Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia. Sunario menjadi Sekretaris II, Hatta bendahara I. Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia adalah penggagas kongres pemuda yang melahirkan manifesto itu.
Sunario menjadi penasihat panitia Kongres Pemuda II pada 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Dalam kongres itu, ia menjadi pembicara dengan makalah Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia.
Sunario Sastrowardoyo, Islam, berasal dari Jawa Timur. Ia menikah dengan gadis Minahasa beragama Protestan yang ditemuinya saat berlangsung Kongres Pemuda 1928.
Darah politiknya menurun kepada salah seorang putrinya, Prof Astrid Susanto, guru besar ilmu politik di Universitas Indonesia. Astrid pernah lama berkarier di Bappenas dan menjadi anggota DPR.
Sunario dikenal sebagai pribadi sederhana, setelah pensiun ia mengajar di beberapa perguruan tinggi. Ada yang bercerita, karena tak punya mobil pribadi, dari rumah di Jalan Raden Saleh, Jakarta, ia selalu pergi ke kampus naik bus kota atau bajaj.
Setelah pensiun sebagai Menteri Luar Negeri, dia pernah membuat heboh pejabat Departemen Luar Negeri karena datang ke Pejambon dengan naik sepeda.
Pelajaran utama yang selalu diajarkan kepada anak-anaknya serta dijalaninya sendiri adalah hidup jujur. Kenapa harus jujur? Alasannya sederhana, supaya bisa tidur nyenyak di malam hari.
Sunario wafat pada 1997, tiga tahun setelah istrinya dimakamkan. Malam ini, tepat 78 setelah Sumpah Pemuda lahir, saya teringat kembali padanya. Di TV, sekilas saya melihat cucunya, Dian Sastrowardoyo, tengah berakting dalam serial Dunia Tanpa Koma. Dian menjadi Raya, jurnalis muda yang terlibat asmara dengan rekan seprofesinya dan tengah mengikuti naluri dan tuntutan pekerjaannya membongkar jaringan sindikat narkotik. Saya tak tahu apakah malam ini Dian juga teringat pada kakeknya, eyang kakungnya yang luar biasa itu.
"Tiap era punya tokoh sejarahnya sendiri, tiap masa memilih kenangannya," kata Paklik Isnogud yang dari tadi duduk di sebelah menemani saya ngoceh ngalor ngidul tak keruan. Kata-katanya membuyarkan lamunan saya tentang Mister Sunario Sastrowardoyo.
Posted at 10:22:22 pm by pecas ndahe
tautan tetap