Setiap kali Lebaran tiba, dan kebetulan saya tak bisa pulang mudik, saya selalu ingat akan masjid di kampung. Sebuah masjid sederhana, kecil, tapi bersih. Apa sampean juga punya kenangan tentang masjid di kampung, yang tentu saja sudah lama tak sampean singgahi sejak merantau?
Saya ingat masjid di kampung itu tak bermenara. Hanya di atas atapnya, agak persis di tengah, terdapat sebuah ruang berdinding kayu. Orang naik ke sana dengan sebuah tangga bambu. Tak ada kubah menggelembung. Tak ada pengeras suara. Arsitektur dan letaknya tak mencolok dan tak ingin mendamik dada ke sekitar rumah-rumah rakyat yang miskin. Hanya ruang dalamnya lebih sejuk. Lantainya lebih bersih. Sumurnya lebih dalam, dan air kulahnya tak pernah kering.
"Masjid itu pasti bukan karya yang layak dipotret untuk buku sejarah ya, Mas?" tanya Paklik Isnogud.
Aha. Paklik selalu punya sebutan yang pas untuk setiap ilustrasi yang saya ceritakan. Kami bertemu tadi siang dalam sebuah silaturahmi yang hangat. Jajanan kampung, kue khas Lebaran, bercampur jadi satu dengan opor ayam, dan aneka suguhan lainnya menghiasi pertemuan kami di rumahnya yang asri.
"Masjid itu mungkin juga tak merasa punya sejarah," saya menimpali. "Tapi, seperti wajah perabotnya yang tua, ia terus saja di sana. Bila atapnya bocor ia diperbaiki sekadarnya. Bila menjelang Idul Fitri dindingnya dikapur secukupnya. Masjid yang dibangun dengan ongkos murah, dan dipelihara dengan uang sedikit (tapi toh cukup) itu dengan demikian terbebas dari ketergantungan pada penyumbang-penyumbang kakap. Ia juga bisa terus, tanpa minta diperhatikan pejabat-pejabat kakap."
"Itu persis masjid di kampung saya dulu, Mas. Letaknya di pinggir kali, di bawah kerimbunan pohon nangka. Saya ingat Mas, kalau di masjid-masjid megah biasanya bertemu kekuasaan para pembesar agama dengan pembesar negeri. Kadang pertemuan itu mulia, kadang tidak. Tapi di masjid desa saya itu, pertemuan yang mulia ataupun tak mulia tak pernah terjadi.
Sebab ia bukan masjid Istiqlal yang menyedot begitu banyak uang, dan menghimpun banyak dana, hingga memungkinkan skandal korupsi. Ia juga bukan masjid di sekitar Baghdad, yang berlampu kristal besar tergantung-gantung, dengan pintu perak atau emas berukir, dengan kubah dan menara keemasan atau warna-warni -- yang
direstorasi dengan bantuan pemerintah, dan yang ulamanya seakan harus menyebut bantuan itu kepada tetamu."
"Kenapa nasib masjid di kampung-kampung nyaris sama ya, Paklik?"
"Sebab masjid desa bukan masjid tempat menyimpan makam orang besar, dalam kandang yang kukuh dan wangi yang dikitarl taburan mata uang penderma. Ia bukan bangunan yang gemerlap, sementara di luarnya orang hidup zuhud atau papa.
Di saat-saat kita merasa minder, kita memang sering berlebihan berlagak. Bahwa masjid desa kita tak merasa perlu berlagak, mungkin karena ia tak berdiri untuk kasih unjuk apa pun selain sebagai tempat ibadah. Ia merupakan cerminan dari masyarakat yang tak merasa perlu pamer karena ia intim dengan sekitar."
Saya mencomot secuil nogosari dan menggelontorkannya masuk ke perut dengan es setup jambu. Paklik menghirup kopi hitamnya, lalu melanjutkan obrolannya.
"Bangunan memang mencerminkan sikap orang yang mendirikannya. 'Lingkungan luar yang diciptakan manusia untuk dirinya sendiri tak lebih dari satu cerminan keadaan batinnya,' begitu menurut Seyyed Hossein Nasr dalam makalahnya yang berjudul panjang, The Contemporary Muslim and The Architectural Transformation of the Urban Environment of The Islamic World.
Sampean tahu, Mas? Profesor Nasr itu dengan sedih pernah berbicara tentang krisis yang terjadi dalam pembangunan kota-kota serta bangunan di banyak-negeri Islam dewasa ini. Ia bicara tentang 'hilangnya kerendahan hati dan sikap bermartabat' yang pernah ada dalam arsitektur tradisional.
Dengan kata lain, ia juga berbicara tentang krisis keadaan batin. Tapi benar sekularisasikah penyebabnya? Atau penyempitan agama, hingga hanya mencakup hukum dan peraturan tingkah-laku, dan melalaikan compassion dan tumpul rasa terhadap sekitar? Ataukah karena orang Islam tak lagi rendah hati tapi rendah diri? Ataukah karena betapapun juga kota dan orang Islam tak bisa lepas dari perkembangan yang sering buruk dan tak teratur di zaman ini?
Barangkali kita ingat akan masjid desa tempat kita dibesarkan, tapi kebanyakan kita sudah tak mengunjunginya lagi."
Paklik mengakhiri ceritanya berbarengan ketika suara azan dari masjid di sebelah rumahnya mengingatkan kami untuk mendirikan salat lohor. Anak-anak sudah berleleran keringat di dahinya. Ibunya memberi kode supaya kami segera pamit. Kami pun pulang.
Sebelum saya meninggalkan halaman rumahnya, saya masih sempat melihat Paklik Isnogud mengambil sarung dan pecinya -- sebuah pemandangan yang nyaris tak pernah saya lihat sebelum ini. Ah, Lebaran ternyata masih selalu memberikan kejutan yang tak pernah kita sangka ....
Posted at 10:25:11 pm by pecas ndahe
tautan tetap