Mudah-mudahan alunan lagu takbir, yang selalu terdengar sedih di hari-hari Lebaran, mengelus pundak anak-anak ini. Mudah-mudahan selalu ada alasan kegembiraan dalam hidup mereka yang telanjang. Atau sekadar sebuah suasana, yang tidak duniawi, yang melagukan pengakuan bahwa banyak orang di dunia yang sebenarnya berdiri di pihak mereka.
Beberapa hari lagi anak-anak ini mungkin akan berangkat ke lapangan: kecil-kecil, dengan peci kecil atau mukena pemberian orang.
Barangkali pula mereka tak sempat, dan tetap "berdinas" dari emper toko ke emper toko, seperti hari-hari kemarin, sambil mengejek sikap kita yang kesuci-sucian.
Entah mengapa, alunan takbir Lebaran selalu terdengar sedih. Mungkin karena ibadah ini dilakukan justru sebagai pernyataan syukur sesudah puasa, latihan mawas diri dan identifikasi dengan yang papa.
Mungkin pula karena ibadah ini dahulu dimulai di tengah suasana perang, dengan harapan perlindungan dari ancaman dan kemelaratan. Waktu itu, seingat kita, tak ada anak-anak seperti ini. Mereka sudah jadi satu bagian dari kelompok orang-orang yang sangat bersahaja.
Dan kini, di tengah suara takbir yang sedih, mereka mengganggu bayangan kita. Mereka ini jugalah yang sudah mengganggu pesta Natal dalam cerita Eropa: menggigil di tengah salju dalam jas rombengan, tersuruk kecil dan miskin di satu sudut gerbang gereja.
Mereka, "anak-anak Tuhan" dalam ucapan Mahatma Gandhi, datang dari emper-emper seluruh dunia, dan muncul di depan pintu kita, persis ketika kita hendak mengiris ketupat pertama nanti.
SELAMAT IDUL FITRI 1427 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
Buat sampean yang mau pulang kampung hari ini, saya ucapkan selamat jalan. Hati-hati, Ki Sanak. Sampai jumpa di
posting berikutnya setelah Lebaran. Mulai hari ini saya mau istirohat dulu .... prei ndak nulis. Soalnya ndak sempat. Saya mau
umbah-umbah, mencuci, resik-resik rumah, ngurusin bedes-bedes kecil itu.
Posted at 7:21:31 am by pecas ndahe
tautan tetap