"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, October 20, 2006
Takbir Pecas Ndahe

Mudah-mudahan alunan lagu takbir, yang selalu terdengar sedih di hari-hari Lebaran, mengelus pundak anak-anak ini. Mudah-mudahan selalu ada alasan kegembiraan dalam hidup mereka yang telanjang. Atau sekadar sebuah suasana, yang tidak duniawi, yang melagukan pengakuan bahwa banyak orang di dunia yang sebenarnya berdiri di pihak mereka.

Beberapa hari lagi anak-anak ini mungkin akan berangkat ke lapangan: kecil-kecil, dengan peci kecil atau mukena pemberian orang.

Barangkali pula mereka tak sempat, dan tetap "berdinas" dari emper toko ke emper toko, seperti hari-hari kemarin, sambil mengejek sikap kita yang kesuci-sucian.

Entah mengapa, alunan takbir Lebaran selalu terdengar sedih. Mungkin karena ibadah ini dilakukan justru sebagai pernyataan syukur sesudah puasa, latihan mawas diri dan identifikasi dengan yang papa.

Mungkin pula karena ibadah ini dahulu dimulai di tengah suasana perang, dengan harapan perlindungan dari ancaman dan kemelaratan. Waktu itu, seingat kita, tak ada anak-anak seperti ini. Mereka sudah jadi satu bagian dari kelompok orang-orang yang sangat bersahaja.

Dan kini, di tengah suara takbir yang sedih, mereka mengganggu bayangan kita. Mereka ini jugalah yang sudah mengganggu pesta Natal dalam cerita Eropa: menggigil di tengah salju dalam jas rombengan, tersuruk kecil dan miskin di satu sudut gerbang gereja.

Mereka, "anak-anak Tuhan" dalam ucapan Mahatma Gandhi, datang dari emper-emper seluruh dunia, dan muncul di depan pintu kita, persis ketika kita hendak mengiris ketupat pertama nanti.


SELAMAT IDUL FITRI 1427 H

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN


Buat sampean yang mau pulang kampung hari ini, saya ucapkan selamat jalan. Hati-hati, Ki Sanak. Sampai jumpa di posting berikutnya setelah Lebaran. Mulai hari ini saya mau istirohat dulu .... prei ndak nulis. Soalnya ndak sempat. Saya mau umbah-umbah, mencuci, resik-resik rumah, ngurusin bedes-bedes kecil itu.


Posted at 7:21:31 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (8)  

Next Page