"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, October 17, 2006
Si Bung Pecas Ndahe

Jakarta 17 Oktober 1952. Ratusan demonstran berdiri di depan Istana Merdeka. Mereka mendesak Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi, untuk berbuat sesuatu. Dan pagi pun berubah panas dengan cepat.

Paklik Isnogud menceritakan kepingan sejarah itu tadi malam setelah pabrik tutup. Waktu itu, kata Paklik, Bung Karno berteriak lantang, "... Aku tidak mau jadi diktator. Bukankah kamu tidak pula menghendaki bahwa aku menjadi diktator?"

Sebelumnya, para demonstran itu merangsek gedung Parlemen. Di sana serombongan orang berikat kepala merah mengobrak-abrik kursi. DPR, bagi mereka, sudah jadi "Dewan Penipu Rakyat." Parlemen harus bubar.

Bung Karno tak sependapat. Kita, katanya, "sebagai negara demokrasi perlu alat demokrasi, yaitu suatu parlemen, sebagaimana pula. halnya di negeri-negeri lainnya."

Kenapa di hari itu -- yang kemudian dikenal sebagai hari "peristiwa 17 Oktober" -- orang banyak itu marah kepada DPR? Sebagian analisa menyebut bahwa massa itu digerakkan oleh para pemimpin militer di Jakarta. Tentara memang tak puas dengan dewan perwakilan yang jadi ajang partai-partai itu terutama ketika di sana ada mosi yang menuntut, antara lain, peninjauan kembali kepemimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia.

Memang, di hari itu ke Istana menghadap sejumlah perwira tinggi. Mereka menyatakan ketidakpuasan yang sama seperti yang dinyatakan di kalangan demonstran. Tapi tentu saja harus diakui, bahwa di luar para pemimpin partai, ada rasa capek umum terhadap keadaan. Bukankah kabinet jatuh bangun oleh mosi demi mosi para wakil partai, dan pemerintahan nyaris tak bisa bekerja?

Keadaan seperti itulah yang mendukung semangat antipartai yang kemudian kian kuat suara dan langkahnya-sampai dengan hari ini. Di tanggal 17 Oktober 1952 itu, Bung Karno memang belum setuju betul. Seperti yang nampak dari studi yang menarik oleh Daniel Dhakidae tentang tiga pemilihan umum Indonesia dalam majalah Prisma September 1981, ada jarak jelas antara sang Presiden dengan para pemimpin angkatan perang.

Tapi kemudian, dengan cepatnya jarak itu jadi jarak antara dua garis sejajar. Tanggal 28 Oktober 1956, Bung Karno bicara di depan utusan pemuda. Dalam pidato yang kemudian dijuduli Indonesia, Pilihlah Demokrasimu yang Sejati itu Bung Karno menyebut mimpinya yang indah bahwa para pemimpin politik bersedia menguburkan partai masing-masing.

Dan itu terjadi justru setelah pemilihan umum di tahun 1955 yang berhasil membentuk DPR yang tak lagi "sementara".

Rupanya harapan Bung Karno tak terpenuhi. Ketika ia bicara di depan massa 17 Oktober 1952, ia bicara bahwa pemilihan umum akan menghasilkan suatu "parlemen yang sempurna". Tapi setelah pemilu yang cukup bebas dan rahasia itu selesai, dan parlemen tersusun, kenapa ia kecewa? Kenapa "parlemen yang sempurna" itu tak terjadi?

Jawabnya bisa banyak. Salah satunya mungkin karena Pemilu 1955 ternyata tak menghasilkan suatu mayoritas tunggal. Tak ada pemenang yang dapat suara unggul di atas kontestan lain: PNI 57 kursi, Masjumi 57 kursi, NU 45 kursi dan PKI 39 kursi. Dan karena partai-partai pemenang itu tak bisa bersama-sama memerintah, stabilitas tak terjadi.

Syahdan, beberapa tahun kemudian -- setelah melalui banyak kejadian yang keras dan berdarah - lahirlah Order Baru. Pemilu 1971 menghasilkan suatu mayoritas tunggal, Golkar. Pemilu 1977 hanya mengulangi apa yang terjadi. Suatu pemerintahan yang terkuat dalam sejarah Indonesia modern telah lahir, dan stabil.

Orang bisa bersyukur. Tapi orang bisa bertanya juga sejauh mana suatu mayoritas tunggal berbeda dengan partai monopolistis -- yang misalnya ada di negeri komunis. Kita seharusnya tahu jawabnya: monopoli lahir dari keserakahan, keserakahan lahir dari ketidakpastian."

"Ah, sejarah ternyata cuma sesuatu yang berulang ya, Paklik."


Posted at 7:53:32 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (4)  

Next Page