Hanya seorang miskin yang tahu kekayaannya kemiskinan. Hanya seorang miskin yang tahu kekayaannya penderitaan. Paklik Isnogud menuturkan kalimat dahsyat itu pada sebuah siang yang panas, ketika lalu lintas Jakarta dilanda kemacetan yang sangat gila-gilaan, dan kami terjebak di tengahnya. Saya termangu dibuatnya.
Gara-gara saya banyak bertanya soal kemiskinan tak lama setelah di sebuah perempatan kami melihat serombongan pengemis menengadahkan tangan ke para pengendara mobil, Paklik Isnogud pun lalu bercerita tentang Stephan Kovalski, pastor Polandia yang hidup dengan orang-orang miskin di Calcutta, India. Menurut Paklik, kisah tentang Kovalski itu dikabarkan oleh penulis Dominique Lapierre dalam The City of Joy: Kota Sukacita.
"Itu buku yang bertutur bahwa di sudut-sudut miskin dan pengap Kota Calcutta, solidarias, cinta kasih, dan harapan, justru gemerlap bagai bintang pagi, Mas," kata Paklik bersemangat. "Sampean pasti pernah dengar tentang buku itu, tapi belum pernah membacanya kan, Mas?"
"Ah, Paklik tahu saja. Ayo, cerita tentang buku itu dong, Paklik," saya berharap setengah mengemis. Paklik tersenyum meneduhkan.
"Buku itu bercerita bahwa selama di Calcutta, Pastor yang suka memakai celana jeans dan sepatu basket itu kerap mendengar rintihan orang-orang miskin di sekitarnya.
Ia, misalnya, mendengarkan rintihan Sabia, anak berumur 10 tahun, tetangganya, yang mendekati ajal karena TBC tulang. Stephan Kovalski berlutut di kamarnya di perkampungan kumuh itu dan berdoa kepada Jesus, "Engkau yang mati di atas salib untuk menyelamatkan umat manusia, tolonglah aku untuk memahami misteri penderitaan. Tolonglah aku untuk mengatasinya. Tolonglah aku, di atas segalanya, melawan sebab musababnya, melawan kurangnya rasa cinta, melawan kebencian dan semua ketidakadilan yang telah menyebabkan ini."
Senyuman Sabia ketika menanggungkan rasa sakit, serta keyakinan manusia kepada Tuhan yang mendengarkan doa -- itu agaknya yang membuat Kovalski bertahan di tengah-tengah kesengsaraan orang-orang yang melarat di Calcutta.
Ia lahir di tahun 1933 di Krasnik, sebuah kota pertambangan di Silesia. Stephan memang keturunan buruh tambang batu bara. Ketika umurnya baru 5 tahun, ayahnya membawanya pindah ke Prancis Utara, untuk memperoleh upah yang lebih baik. Tapi pada suatu hari, sang ayah ditangkap. Ia terlibat dalam pelbagai kegiatan buruh radikal. Kemudian keluarganya diberi tahu: di dalam selnya, Kovalski tua menggantung diri.
Lalu Stephan pun, setelah beberapa saat terguncang, memutuskan untuk menjadi pada dan ikut misi. Ia mengatakan ia ingin pergi setelah ayahnya mati dengan cara sedih itu, dan sekaligus ia ingin mencapai apa yang pernah dicoba oleh ayahnya dengan cara kekerasan.
Apa sebenarnya yang dulu hendak dicoba ayah itu? Dari riwayatnya mungkin kita bisa menebak: Kovalski tua mencoba menghapuskan penghisapan dan penderitaan.
Kovalski muda, tak jadi buruh tambang, tapi pastor, dan pergi ke Calcutta dan mencoba mengatasi penderitaan. Tapi kita tak mendengar ia berbicara tentang penghisapan. Yang kita tahu dalam buku Lapierre ini, pastor yang bersemangat ini datang untuk mengetuk pintu kemelaratan, lalu masuk. Ia bahkan seperti mencintai kemelaratan itu.
Ia menyewa sebuah gubuk di Nizamudhin Lane 49: reyot, tanpa listrik, tanpa air ledeng, tanpa perabot. Di luarnya sebuah saluran terbuka, luber dengan lanyau hitam yang busuk. Di seberangnya: seunggun sampah. Baik pemimpin parokinya yang montok, maupun tetangga-tetangga barunya yang nestapa, mula-mula tak percaya bahwa Kovalski bersedia hidup di tempat semacam itu. Tapi padri ini merasa bahagia.
Kenapa? Dia nampaknya tak bermaksud menyebarkan agamanya di kalangan orang miskin yang kebanyakan Islam ini. Ia memang bercerita tentang penderitaaan Yesus kepada Anouar, seorang penderita kusta, yang kemudian mengerti mengapa gambar Yesus yang dibawa Kovalski tak tampil dengan mata biru bersinar-sinar.
Tapi ketika menyaksikan perayaan Maulud yang gembira di daerah miskin itu, sang pastor tak luput berbisik, "Terima kasih, ya, Tuhan, sebab telah Kauberi orang-orang jelata ini kekuatan yang sungguh besar untuk beriman dan mencintai-Mu."
Kovalski memang bukan pelopor Kristenisasi. Dia ingin berada di tengah yang jembel dan terinjak itu: penarik becak yang ditekan juragan, setengah gelandangan yang harus membayar sewa kepada satu mafia, korban-korban lepra, orang di bawah yang dilalaikan dunia bisnis dan birokrasi, dimanipulasikan oleh politik dan
diteror oleh lapar, juga penyakit.
Akhirnya Kovalski akhirnya merasa ia hanyalah seorang sukarelawan untuk kemelaratan -- bahkan dengan antusiasme. Ia memilih. Sementara itu, berjuta manusia lain di Calcutta, di Jakarta, dan entah di mana lagi, tidak: kemiskinan adalah belenggu yang berat, yang panjang, yang mungkin membuat kita sedih dan terkadang bijaksana."
Paklik mengakhiri ceritanya tepat ketika kami sampai di depan pintu gerbang pabrik. Matahari tepat di atas ubun-ubun. Kami sama-sama berkeringat dalam diam.
Selamat berakhir pekan, Ki Sanak!
Posted at 6:56:37 am by pecas ndahe
tautan tetap