Kota-kota berbicara tentang kemiskinan dengan cara yang paling menikam. Tapi, selalu ada orang yang tak mudah menyerah. Mereka bertahan dengan cara masing-masing.
Saya melihat bara semangat yang tak kunjung padam itu pada sosok pak tua penjual gamelan mainan ini. Kami bersua di sebuah tikungan perjalanan, pada sebuah siang yang menyengat, di pertengahan Ramadhan ini.
Saya melihat dan memotretnya dari jauh. Ia berjalan perlahan seolah tak peduli ada orang yang mengikutinya.
Langkahnya gontai. Sandal jepitnya reyot. Dekil, penuh debu. Pikulannya sesak oleh gamelan-gamelan kecil warna-warni. Saya tak tahu berapa harga gamelan itu dan berapa ia mendapatkan laba dari dagangannya itu. Mungkin tak seberapa. Barangkali cuma cukup untuk makan sehari.
Tapi, dengan yang tak seberapa itu, saya tahu ia mampu bertahan dalam belitan kemelaratan yang menyakitkan.
''Kemelaratan yang paling nyata adalah yang terdapat di kota-kota karena di sanalah ekses-ekses saling bertetangga,'' kata Paklik Isnogud suatu ketika. Saya tahu ia mengutip Andre Gide.
"Sampean tahu kan, Mas. Jakarta, tahun 2006, seperti London pada 1849, adalah contoh tentang ekses yang berdampingan dengan ekses lainnya yang sedemikian rupa jelasnya hingga praktis sudah menjadi klise: Rumah-rumah real estate dengan kolam renang (dan listrik ribuan watt) berhimpun bagaikan para anggota sebuah klub yang mahal tidak jauh dari bedeng-bedeng yang kumal dan termangu di tepi selokan cemar yang mati.
Lapangan golf luas yang segar bugar membentang di dekat kampung-kampung yang tak berpekarangan. Orang-orang yang bisa menghabiskan uang Rp 3 juta untuk sekali bertaruh di lapangan tenis berpapasan dengan orang-orang yang harus hidup dengan Rp 1.000 sehari.
Itulah sebabnya nasib si miskin rasanya tak cukup didendangkan dalam lagu kroncong ciptaan Maladi, Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Kita telah lama berteriak dengan marah tentang mereka yang hidup dalam kemiskinan: kita telah bicara dengan kata ''marhaen'' atau ''proletar'' pada masa penjajahan. Kita telah bertubi-tubi mendesak, dan berbuat, untuk zakat bagi yang fakir dan papa. Kita telah membikin sejumlah besar proyek pemerataan.
Persoalannya, apa sebenarnya yang hendak kita capai: menghabisi kemelaratan
atau menghilangkan ketimpangan?"
Saya menggeleng dengan benak tak keruan. Paklik meneruskan kisahnya, seperti biasa.
"Benjamin Franklin pernah menulis tentang Inggris: ''Tak ada negeri di dunia ini yang membangun sebanyak itu perlengkapan bagi orang miskin. Begitu banyak rumah sakit untuk menerima mereka bila mereka sakit atau lumpuh, semuanya dibangun dan dirawat oleh organisasi amal sukarela. Begitu banyak rumah derma untuk orang tua dari kedua jenis, dan ada sebuah undang-undang yang khidmat dibuat oleh orang kaya untuk menjadikan tanah mereka kena pajak yang tinggi guna mendukung orang melarat.Toh kemiskinan tak ada habisnya."
"Apa yang salah, Paklik?" saya bertanya dengan sedikit ragu.
"Jalan menuju ke kemakmuran memang rumit. Menghabisi kemelaratan saja dengan memberi banyak dana dan kemudahan bagi si papa ternyata tak memperbaiki keadaan.
Benjamin Franklin sendiri pada 1766 itu sudah melihat bahwa kedermawanan yang melimpah-ruah yang disaksikannya di Inggris itu hanya merupakan suatu hadiah untuk menggalakkan kemalasan. Tak mengherankan, kata Franklin pula, bahwa akibatnya ialah bertambahnya kemiskinan.
Tapi bukankah kitab suci dan sejarah telah mengajarkan bahwa si miskin
akan selalu bersama kita, Mas?"
Dalam hati saya membatin, pantas saja orang miskin tak habis-habis.
Posted at 8:17:30 pm by pecas ndahe
tautan tetap