
Para penjual barang biasanya memasang iklan baris di koran. Selain tarifnya murah, efektivitasnya cukup tinggi. Apalagi kalau iklan barisnya di koran tertentu. Hari ini keluar di koran, hari ini juga sudah ada yang menghubungi, minimal menanyakan harga.
Saya tak tahu kenapa sopir taksi ini tetap memasang advertensi di kaca belakang mobilnya. Tak percaya iklan baris? Tak mampu pasang iklan di koran?
Entah. Tapi dia memang bukan yang pertama. Saya beberapa kali melihat mobil yang mau dijual diiklankan dengan cara swadaya seperti ini. Maksudnya tak perlu memasang iklan di koran, melainkan mengiklankan diri dengan cara memasang pengumuman di kaca belakang.
Saya tak tahu apakah sudah ada survei yang mengukur efetivitas iklan swadaya seperti ini. Jangan-jangan justru tinggi ya? Mungkin pemasangnya merasa siapa saja yang berpapasan akan langsung angkat ponsel begitu membacanya.
Ngomong-omong, sedan keluaran 2001 dihargai Rp 28 juta, apa ndak kemahalan ya? Ah, tapi bisa nego ya, katanya. Sampean tertarik?
Posted at 8:22:08 am by pecas ndahe
tautan tetap