"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, October 06, 2006
Musiman Pecas Ndahe

Trotoar mestinya hanya untuk pejalan kaki, bukan untuk pedagang blewah. Tapi, karena sedang bulan puasa, para pedagang buah musiman itu kerap memakai trotoar sebagai tempat berdagang.

Para pejalan kaki pun [pasti] terpaksa turun ke jalan seandainya kalau mau lewat. Kalaupun mau nekat jalan di atas trotoar, mereka tentu harus siap menerima pelototan mata para pedagang.

Entah kenapa para petugas keamanan dan ketertiban [Tramtib] yang biasanya rajin menggusur para pedagang kaki lima tak terlihat bulu matanya barang selembar pun. Padahal lokasi pasar kaget itu di kawasan elit di jantung kota, persisnya di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Mungkin karena ini perdagangan musiman, tenggang waktunya sebentar saja. Barangkali lantaran permintaan melonjak drastis sehingga para pedagang harus jemput bola sampai ke kawasan permukiman. Boleh jadi karena para petugas Tramtib itu sedang berpuasa, sehingga tak boleh marah-marah dan mengacak-acak tempat usaha orang. Mungkin karena sekarang bulan puasa, mereka [pedagang dan petugas itu] lalu saling memaafkan kalau ada pelanggaran. Siapa tahu juga karena mereka sudah kongkalikong. Tahu sama tahu, gitulah.

Ah, tak baik bergunjing di bulan puasa. Ghibah. Halah ...


Posted at 7:14:18 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (2)  

Next Page