
Trotoar mestinya hanya untuk pejalan kaki, bukan untuk pedagang blewah. Tapi, karena sedang bulan puasa, para pedagang buah musiman itu kerap memakai trotoar sebagai tempat berdagang.
Para pejalan kaki pun [pasti] terpaksa turun ke jalan seandainya kalau mau lewat. Kalaupun mau nekat jalan di atas trotoar, mereka tentu harus siap menerima pelototan mata para pedagang.
Entah kenapa para petugas keamanan dan ketertiban [Tramtib] yang biasanya rajin menggusur para pedagang kaki lima tak terlihat bulu matanya barang selembar pun. Padahal lokasi pasar kaget itu di kawasan elit di jantung kota, persisnya di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Mungkin karena ini perdagangan musiman, tenggang waktunya sebentar saja. Barangkali lantaran permintaan melonjak drastis sehingga para pedagang harus jemput bola sampai ke kawasan permukiman. Boleh jadi karena para petugas Tramtib itu sedang berpuasa, sehingga tak boleh marah-marah dan mengacak-acak tempat usaha orang. Mungkin karena sekarang bulan puasa, mereka [pedagang dan petugas itu] lalu saling memaafkan kalau ada pelanggaran. Siapa tahu juga karena mereka sudah kongkalikong. Tahu sama tahu, gitulah.
Ah, tak baik bergunjing di bulan puasa. Ghibah. Halah ...
Posted at 7:14:18 pm by pecas ndahe
tautan tetap