Tiga kali ke tempat pencuci mobil otomatis, tiga kali saya mendapat pengalaman berbeda. Tapi, lumayanlah hasilnya. Sampean juga pernah mencoba kan, Ki Sanak? Ayo coba kita berbagi pengalaman.
Di Jakarta, setidaknya ada tiga tempat pencucian mobil otomatis -- mungkin lebih, tapi saya tak tahu di mana saja. Yang saya tahu ada satu di Kelapa Gading, lalu di dekat Pancoran, dan di dalam kawasan bandara Soekarno-Hatta.
Tentu saja bisnis cuci mobil seperti ini sudah lama ada, mungkin sejak lima tahun yang lalu. Barangkali juga lebih.
Pertama kali menggunakan jasa pencuci mobil otomatis, kebetulan saya pakai mobil pinjaman kakak saya. Karena saya mau mengembalikannya dalam keadaan bersih, tapi tak sempat mencucinya sendiri, jadilah saya pilih jasa yang maunya cepat dan praktis itu.
Wah, jan rasanya saya nggaya betul waktu itu. Kaca mobil saya tutup rapat. AC dan tape disetel kenceng. Saya duduk dengan kaki selonjor. Mobil bergerak sendiri karena ada sistem ban berjalan di bawahnya. Di luar, air sabun menyemprot sendiri dan kipas pembersih mulai bekerja.
Eh, lagi enak-enaknya goyang kepala mengikuti irama lagu, mendadak mesin mobil mati. Pet. Saya gelagapan. Bingung. Untung, karena berada di atas roda berjalan, mobil tetap melaju. Wah, bagaimana ini? Mau keluar mobil takut basah. Mau di dalam terus kok ya horor juga rasanya. Ah, sudahlah. Pasrah saja.
Begitu sampai di ujung lorong ruang cucian, saya makin bingung. Mobil tak bisa jalan. Mobil-mobil lain mulai mendekat dari belakang. Kalau tak maju-maju bisa ditabrak. Wah, bagaimana ini? Ah, saya terpaksa melambai-lambaikan tangan, memanggil mas-mas tukang cuci untuk minta tolong mendorong mobil.
Untunglah mereka melihat. Dengan sigap mereka langsung kasih bantuan mendorong mobil ke pinggir. Nah, ketika mendorong mobil itulah, salah satu dari mereka nyeletuk, "Mobilnya sudah tua sih, Pak. Pasti kabel akinya ada yang bocor kena air."
"Tua? Tua gundulmu," saya mengumpat tentu saja cuma dalam hati. "Iya kali Mas. Ini juga minjem," jawab saya sambil tersipu. Benar saja. Begitu kap mobil dibuka, terlihat ada kabel aki yang sedikit terkelupas dan basah. Mas-mas itu langsung mengeringkannya dan sebentar kemudian mesin sudah bisa dinyalakan.

Kali kedua saya pakai mobil pabrik tempat saya kerja. Karena tak mau kejeblos ke lobang yang sama, sebelum masuk ke tempat pencucian otomatis itu, saya cek dulu kabel-kabel akinya. Setelah yakin tak ada yang bocor atau terbuka, berarti aman bila kena air, saya pun berani masuk.
Beres? Ternyata masalah baru datang kemudian. Ketika saya sudah di dalam ruang pencucian dan air menyembur kencang itulah saya baru tahu kalau pintu mobil tak bisa menutup dengan pas. Akibatnya air ikut masuk lewat sela-sela karet pintu. Alias bocor. Walhasil, saya pun sedikit basah kuyup kena air sabun. Dasar apes!
Dua kali mendapat pengalaman ndak enak membuat saya kapok memakai jasa cuci mobil otomatis bila sedang memakai mobil pinjaman. Saya baru memakai ke sana lagi setelah naik mobil sendiri yang saya tahu persis kondisinya. Kabel akinya beres dan interiornya tak bocor.
Toh, masalah tetap terjadi ketika pertama kali saya ke sana bersama anak-anak. Anak bungsu saya berteriak ketakutan dan menangis kencang begitu mobil masuk ruang pencucian. Dia mengira mobil akan dijepit oleh dua pasang bulu raksasa. Untung kakaknya bisa menenangkan dan menghibur adeknya. Oalah .... ada-ada saja.
Sampean punya pengalaman lain dengan tempat cucian mobil otomatis, Ki Sanak?
Posted at 3:23:42 pm by pecas ndahe
tautan tetap