"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, October 02, 2006
Gandhi Pecas Ndahe

Hari ini, 137 tahun yang lalu, Mahatma Gandhi lahir di Porbandar, Gujarat, India. Ia tutup usia pada 30 Januari 1948 di tangan seorang pengikut Hindu yang menembaknya. Adakah di antara sampean yang mengidolakan Gandhi?

Tanpa saya sadari, Paklik Isnogud tiba-tiba sudah di samping saya. "Saya, Mas. Saya mengidolakan Mahatma Gandhi, tokoh besar itu," jawab Paklik.

"Ah, saya ndak tanya sampean, Paklik."

"Ya ndak apa-apa. Pokoknya saya mau bilang Gandhi itu idola saya," kata Paklik tak mau kalah.

"Yowes, saya ngalah. Tapi kenapa, Paklik? Jangan-jangan sampean cuma tiru-tiru saja?"

Paklik tersenyum, lalu membetulkan duduknya. Saya tahu, it's show time.

Begini Mas, [tuh kan, benar dugaan saya], Paklik memulai pertunjukkannya dengan gaya seorang konduktor sebuah orkestra, Gandhi itu orang yang mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk menentang kekerasan. Pada 1925 ia menulis, "Bila keraguan menghantuiku, bila kekecewaan menatap wajahku ... aku berpaling ke Bhagavad Gita."

Lah itu ganjil kan, Mas? Sebab kita tahu: Gita itu justru sebuah dialog yang memberi semangat di ambang perang dan pembantaian.

Arjuna di atas kereta tempur. Kresna sebagai sais. Arjuna bimbang; ia suara yang bertanya kenapa ia harus membunuh sanak-saudara. Kresna, yang bijak berkata-kata itu, adalah suara yang menjawab. Ia bicara tentang jiwa yang kekal dan tak akan binasa. Ia mengingatkan tugas seorang kesatria yang harus dijalankan. Dan akhirnya Arjuna pun mengerti, "Aku berdiri tegak, tak lagi ragu/Oh, Acuta, aku 'kan bertindak, seperti Sabda-Mu".

Lalu kereta itu menderu maju. Arjuna akhirnya membunuh Karna, saudaranya seibu -- dan perang antarkeluarga Bharata itu pun berlanjut terus dengan pertumpahan darah yang mengerikan.

Gandhi membaca Gita dan menafsirkannya dalam kerangka pikiran seorang yang menentang kekerasan. Mungkin karena itu pula ia dihormati tanpa sepenuhnya dipahami.

Bagi orang lain, Gita justru mengakui kekerasan sebagai sesuatu yang kadang-kadang tak terelakkan, sesuatu yang keji tapi niscaya. Bahkan pembunuhan bukan sesuatu yang teramat perlu disesali. Bukankah, seperti tercantum dalam Seloka ke-30, Percakapan Kedua, jiwa, yang menghuni badan setiap orang "tak kan dapat dibunuh?" Dan karena itu, kita "jangan duka/atas kematian makhluk mana pun?"

Barang siapa yang membaca Gita dengan pandangan yang berbeda dari Gandhi memang akan heran, bagaimana ia, tokoh gerakan tanpa kekerasan, dapat ilham dari kitab ini?

Saya mengangguk-anggukkan kepala, antara bingung dan mencoba memahami kata-kata Paklik Isnogud.

Lalu ini Mas -- Paklik melanjutkan pertunjukkannya -- Gandhi memang menyatakan diri menolak kerjasama dengan pemerintah kolonial Inggris, dan 15 Desember 1921 dia bahkan menyatakan "perang", serta "pemberontakan"-nya. Ia menggalang gerakan massa untuk itu.

Namun, seperti dikatakan oleh seorang penulis biografinya, ia tetap sangat human dan bahkan nyaris sentimentil, juga dalam politik di suatu zaman ketika sentimentalitas dicemoohkan. Gandhi, jauh di dalam hatinya, tetap mempercayai ada sesuatu yang baik pada pemerintahan kolonial Inggris.

Pada akhir 1921, sebuah tulisannya dalam Young India menyebut,  "Lembaga-lembaga yang nampaknya pemurah dari pemerintah Inggris sebenarnya adalah seperti ular dalam dongeng: bermahkotakan berlian cemerlang di kepalanya, tapi penuh racun di taringnya." Tentu, di akhir 1921 itu, ia tak lagi bicara seperti pada 1915, tatkala ia menyatakan loyalitasnya kepada Imperium Inggris.

Namun, Gandhi toh tetap masih menyatakan: "tak ada negara yang ... sama sekali tak ada segi baiknya."

Barangkali dia benar. Dilihat kembali di zaman sekarang, pemerintah penjajahan Inggris di India waktu itu memiliki satu hal yang baik -- yang ternyata sering hilang dalam pemerintahan bekas jajahannya.

Satu hal itu adalah ideal untuk mernberi keleluasaan besar bagi kawulanya: keleluasaan untuk mencurahkan tenaganya, menampilkan kehormatannya dan, dalam kata-kata Gandhi, "apa saja yang dianggapnya layak bagi hati nuraninya."

Gandhi adalah orang yang jatuh cinta kepada yang ideal seperti itu.

Seorang penulis resensi tentang buku biografi Gandhi oleh Ved Mehta yang terbit pada 1977 pun mengatakan, bahwa metode perjuangan Gandhi -- satyagraha, tanpa kekerasan, puasa, dan sebagainya itu -- hanya bisa berhasil dalam masyarakat seperti Imperium Inggris dan Amerika Serikat. Yakni masyarakat yang punya kemerdekaan menerbitkan dan berbicara, di mana ada opini publik, dan di mana menerima pengaruh pikiran bukanlah dosa. Juga di mana kekuasaan yang dikendalikan oleh kemutlakan moral -- hingga rasa bersalah timbul ada setiap langkah menindas yang terjadi.

Adakah dengan demikian metode Gandhi tidak universal, dan kebohongan, kekerasan serta kasak-kusuk bisa dihalalkan bagi politik?

"Ratusan orang seperti saya oleh enyah, tetapi biarlah kebenaran bertakhta," kata Gandhi di pengantar otobiografinya. "Saya harus merendahkan diri sampai nol."

Syahdan pada 1947, ketika India sedang di ambang kemerdekaannya dan tanah jajahan itu mau lepas dari tahta Inggris, sejarah pun mempertemukan Gandhi dengan Louis Mountbatten, Panglima Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara. Seorang perwira dengan seorang tua berumur 77 tahun yang pendek dan gundul.

Keduanya dengan segera jadi lambang dari dua sisi India menjelang Agustus 1947. Setidaknya, merekalah tokoh utama dari buku Freedom At Midnight, karya Larry Collins dan Dominique Lapierre.

Gandhi tentu saja bukan Lord Mountbatten yang berseragam necis. Ketika Januari 1947 Mountbatten berbincang dengan Raja George VI di ruang dalam Istana Buckingham, Gandhi mengunjungi desa-desa di Noakhali, diiringi kemenakanannya, Manu yang membawa alat pintal sederhana, Bhagavad Gita, Quran, dan buku tentang Jesus. Ia tengah mencoba mendamaikan orang Islam yang sedang bentrok berdarah dengan orang Hindu.

Itu tidak berarti antara sang Vicero dan pemimpin India itu tak ada semacam persentuhan hangat. Di bulan Juli, di suatu siang, pak tua itu masuk ke ruang studi Mountbatten. Orang yang pernah dipenjarakan Inggris itu menawarkan suatu kehormatan kepada sang wakil penjajah: Gandhi mengundang Mountbatten untuk jadi Gubernur Jenderal bagi India, setelah kemerdekaan yang sedang disetujui bersama diproklamasikan.

Mountbatten, yang menghormati Gandhi, terharu. Hampir terbit airmatanya. Ia mengucapkan terima kasih. Namun, Gandhi, menambahkan, bahwa untuk itu Istana Viceroy, dengan taman-taman Moghulnya, dengan segala kemewahannya, harus ditinggalkan. Semua benda itu merupakan penghinaan bagi rakyat jelata India yang
melarat. "Tinggallah di rumah bersahaja," kata Gandhi.

Kita tahu kemudian bahwa Mountbatten memang bukan Gandhi. Kita juga tahu bahwa banyak orang bukan Gandhi. Seperti dikatakan oleh pengarang Freedom at Midnight, cita-cita Gandhi tentang cara hidup adalah sebuah cita-cita yang sempurna untuk manusia-manusia yang tak sempurna.

Manusia memang bukan semuanya wali. Tapi mungkin sejarah juga mengajari kita, bahwa keadaan tak sempurna bukanlah dasar untuk terus-menerus menghalalkan kerakusan. Keadaan tak sempurna itu justru alasan untuk kesediaan ditegur, untuk mengerti rasa malu dan rasa dosa.

"Sik, sik, Paklik. Saya ingin tahu bagaimana sikap Gandhi terhadap pluralisme?"

Oh iya. Ada cerita. Syahdan, seseorang pernah bertanya kepada Gandhi, "Bila hanya ada satu Tuhan, tidakkah seharusnya hanya ada satu agama saja?"

Gandhi, menurut kisah Louis Fischer, menjawab, "Sebatang pohon punya sejuta daun. Ada banyak agama sebagaimana ada banyak pria dan wanita, tapi semua berakar kepada Tuhan."

Kiasan yang dipergunakan Gandhi barangkali tidak tepat, tetapi siapa yang hidup di India, yang tumbuh dengan pengalaman India, akan memahami mengapa tanya jawab seperti itu terjadi. India, kata Jawaharlal Nehru (pejuang kemerdekaan dan pembangun tanah air yang sulit ini), "berisi semua hal yang memuakkan dan semua hal yang luhur".

Beratus-ratus tahun negeri ini memang tak putus-putusnya menyaksikan apa yang indah dari perjalanan spiritual manusia. Tapi pada saat yang sama ia juga menyaksikan bagaimana jutaan orang ganas mengganasi orang lain atas nama agama yang berbeda. Apa desain Tuhan dengan semua ini? Apa gerangan iradah-Nya?

Banyak mungkin jawab bisa diberikan, tapi satu hal jelas: kita tak bisa mengatakan bahwa Tuhan mengutuk manusia dengan memberinya pelbagai iman dan kepercayaan, tetapi kita juga tak bisa menyimpulkan bahwa dunia menjadi tempat yang berbahagia karena itu....

Ah, Paklik ... Saya kehabisan pertanyaan. Saya sudah pecas ndahe mendengarkan kuliah Paklik. Sampean punya ndak, Ki Sanak?

"Bumi punya cukup persediaan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi tak akan cukup untuk memenuhi keserakahan kita." -- Mahatma Gandhi


Posted at 7:51:21 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (6)  

Next Page