Kekerasan dan darah, silih berganti menghampiri negeri kita. Karena itu, kata Paklik Isnogud, tanah ini disebut tanah tumpah darah. Pelakunya, suka atau tak suka, ya kita ini -- sebagai korban sekaligus sasaran.
Paklik bercerita soal kekerasan itu ketika tadi pagi kami menonton upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Museum Lubang Buaya lewat televisi. Ini sebetulnya jarang terjadi: Saya dan Paklik sama-sama nonton acara yang sama. Mungkin karena hari Minggu. Mungkin karena kami sama-sama sedang jemu dan kehabisan hiburan.
Tiba-tiba Paklik mengajak saya ngobrol. "Sampean tentunya masih ingat, Mas. Pada dini hari itu, 1 Oktober 1965, di Jakarta sejumlah tentara digunakan. Mereka menangkap, dan kemudian membunuh, sederet perwira tinggi Angkatan Darat. Lalu sejarah Indonesia pun bergerak, dan berubah, cepat. Seorang presiden dimakzulkan. Sebuah partai komunis terbesar di dunia -- setelah partai komunis di Uni Soviet dan di Daratan Cina -- hancur."
"Oh ya, saya tahu itu Paklik. Saya membacanya dari buku-buku sejarah dan film propanda Orde Baru itu, Paklik," jawab saya sekenanya.
"Kita punya riwayat yang sama: sejarah sebuah negeri yang tak serta-merta sunyi, tenteram, damai, seperti Telaga Sarangan dalam nyanyian orkes keroncong. Tanah ini memang tanah tumpah darah.
Kita mengenal kekerasan seperti kita mengenal kakek, ayah, dan paman-paman kita. Kita ingat urutannya, dan kita sadar kedekatannya. Yu Ginah, pembantu di pabrik, bisa bercerita dengan suara gemetar bagaimana rasanya hidup di desa yang terkepung gerilyawan Darul Islam.
Ia melihat rumah yang dibakar, orang yang ditembak dari jarak dekat, anak-anak yang menjerit. Maka, bila ada ketakutan, bila ada kecurigaan, bila ada sakit dan amarah -- bagaimana kita bisa ambil jarak dari semua ini? Kita tak tahu. Barangkali sampai kita bersua dengan seorang asing: seorang dari sejarah yang lebih tenang, dari perubahan zaman yang lebih necis.
Banyak memang yang telah kita alami. Dentam dan darah, badik dan bedil, celurit, dan api, hadir dalam layar sesak kesadaran kita. Bahkan yang keras itu terungkap dalam bahasa politik kita. Untuk menghantam musuh-musuhnya, Bung Karno memperkenalkan kata ganyang dan kremus; Pramudya Ananta Toer memperkenalkan babat.
Yang pertama membayangkan kekuatan meluluhlantakkan dengan rahang dan gigi; yang kedua menyarankan satu hantaman dengan parang, untuk merobohkan lalang dan belukar.
Nasib kita memang tidak unik. Namun, tak setiap bangsa kiranya punya sederet pengalaman dahsyat itu dalam satu generasi. Kekerasan dan kebengisan memang ada dalam setiap kurun, tapi, pada suatu tahap, hal-hal itu bisa saja surut dan berubah jadi legenda.
Hanya saja kita, di sini, bukanlah sekadar tukang cerita. Suka atau tak suka, kita pelaku. Kita mungkin juga korban dan sasaran.
Mungkin sampean menonton film Pengkhianatan G-30-S/PKI hampir 20 tahun setelah peristiwa sebenarnya terjadi. Mungkin sampean gentar melihat kejadian buas yang di sana. Namun, jelas, kegentaran itu tidak sama dengan kegentaran melihat film penggantungan yang dilakukan Nazi pada masa Perang Dunia II.
"Apa bedanya, Paklik?" tanya saya.
"Sebab, kita, meskipun sebagai penonton, sebenarnya belum terbebas dari apa yang bengis dan menakutkan dari masa sebelum, dan sesudah, 1 Oktober 1965. Sebab, kita bukan tamu. Kita bukan orang asing. Kita punya beban sejarah, yang tak ada pada mereka: bukan hanya sebuah trauma, tapi juga harapan. Bahkan ketidaksabaran."
Saya menggelengkan kepala. "Ndak ngerti, Paklik."
"Ah, makanya kalau puasa itu yang tekun Mas, biar pikiran ndak nggrambyang ke mana-mana."
"Loh, apa hubungannya Paklik?"
"Embuh," jawab Paklik sambil mematikan TV, lalu keluar.
Saya protes. "Ah, wagu ki ... ramutu. Paklik, Paklik....Mau ke mana? Aku melu ..."