"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, September 30, 2006
Tontonan Pecas Ndahe

Dulu, setiap malam menjelang 1 Oktober, kita disuguhi film legendaris itu, Pengkhianatan G30/S PKI. Malam ini, saya tak melihatnya lagi di stasiun televisi mana pun. Aha! Zaman sudah berubah rupanya.

Malam ini ada lebih banyak pilihan tontonan ketimbang dulu. Yang suka film aksi dan laga bisa menonton XXX yang dibintangi Vin Diesel di Trans TV. Yang suka dangdut dapat memindahkan remote control-nya ke TPI, nonton acara KDI. Yang suka sinetron? Di RCTI ada tontonan asyik Dunia Tanpa Koma. Yang suka bola, ada pertandingan Liga Inggris di TV7: Chelsea vs Aston Villa, Bung! Pendeknya, pemirsa zaman sekarang punya lebih banyak suguhan variatif.

Tapi, kadang saya punya kerinduan yang aneh: pengen nonton Umar Kayam [almarhum] memerankan Bung Karno dan Amaroso Katamsi memerankan Soeharto di film yang setiap tahun diputar di seluruh stasiun TV itu -- pada masa-masa tontonan pun  merupakan sesuatu yang harus dikontrol. Tahun berapa itu? Pertengahan 80-an atau awal 90-an?

Saya juga kehilangan potongan-potongan dialog yang tak gampang pudar dari ingatan itu. "Darah itu pedih, Jenderal." Juga adegan para anggota laskar wanita Gerwani menari-nari dalam terang api unggun, menyanyikan lagu Genjer-genjer.

Ah, betapa cepat sebuah masa berlalu. Setelah Soeharto lengser, film itu tak pernah nongol lagi di TV mana pun. Adakah di antara sampean yang masih ingat film karya Arifin C. Noer itu? Bagian mana yang membekas di ingatan sampean, Ki Sanak?

Menurut sampean -- meskipun film itu belum tentu benar karena dibuat menurut versi Orde Baru -- perlukah film itu ditayangkan lagi sesekali? Atas nama sejarah atau atas nama apa pun. Soalnya, aneh juga ya kalau anak-anak muda zaman sekarang tak mengenal sama sekali salah satu episode yang kelam dalam sejarah republik ini. Barangkali ada baiknya kalau anak-anak era iPod dan Ragnarok ini mendapat lebih banyak versi tentang sejarah masa itu.

Soalnya saya membayangkan besok pagi pasti saya bakal bingung juga kalau anak sulung saya melihat televisi dan bertanya, "Ayah, kenapa kita harus memperingati Hari Kesaktian Pancasila? Emang Pancasila punya senjata apa sih kok bisa sakti begitu? Dulu berantem sama siapa? Power Rangers ya?"

Apa ndak pecas ndahe itu ...


Posted at 10:26:43 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (7)  

Next Page