"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, September 29, 2006
Generasi Pecas Ndahe

Pohon-pohon selalu punya dua cerita, cerita daun dan cerita kulit. Jika terlalu lama kita simak daun-daun, dan hanya teringat akan perubahan generasi ke generasi, ada baiknya kita saksikan kulit yang setidaknya memberikan ilusi tentang sesuatu
yang permanen.

Saya mendapatkan ajaran itu dari Paklik Isnogud ketika tadi kami berbincang ringan tentang rencana Ndoro Tuan Gubernur Sutiyoso yang akan menebang pohon-pohon di Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan M.H. Thamrin.

"Mungkin Ndoro Tuan Gubernur itu tak pernah tahu filsafat pohon, Mas," kata Paklik Isnogud.

"Filsafat pohon? Halah, Paklik ini kok serius amat," saya sedikit meledek.

"Loh iya, Mas. Lihatlah pohon-pohon itu, Mas. Mereka bercerita tentang generasi. Bahkan Homerus, penyair Yunani Kuno itu, dalam buku ke-VI cerita besar Iliad beratus-ratus tahun yang silam sudah bisa memetik amsal dari padanya:

Sebagaimana generasi daun-daun, begitulah generasi manusia suatu ketika angin mengguncang daunan hingga rontok ke tanah, tapi kemudian hutan yang rimbun melahirkan, dan musim semi hadir. Begitulah generasi manusia, yang berganti-ganti datang dan pergi.

Tapi Homerus hanya melihat daun. Padahal pohon selalu punya dua cerita-cerita daun dan cerita kulit.

Dari jauh kita sering terpesona akan tamasya yang hijau dan rimbun, yang di negeri empat musim, bisa demikian mengasyikkan perubahannya. Suatu ketika merah dan kuning menumpuk. Suatu ketika segalanya runtuh. Suatu saat lain pupus terbit, dan burung menjemputnya kembali. Mungkin karena itu kita melupakan kulit, yang dengan kasar menutupi tubuh pepohonan.

Lihatlah dari dekat. Rasanya ada cerita lain: bukan cerita perubahan, tapi cerita sesuatu yang menetap. Bahkan sesuatu yang bertimbun bersama waktu -- satu jejak sejarah. Kadang ada tulisan ditorehkan dengan pisau ke sana. 'Bejo was here' atau yang lebih norak gambar jantung hati dipanah. Kita tak selalu tahu apa maksudnya, tapi yang jelas itu pun sebuah percobaan untuk membikin kekal suatu peristiwa, biasanya indah, tapi sekaligus mungkin tak begitu penting.

Pohon-pohon selalu punya dua cerita, cerita daun dan cerita kulit. Jika terlalu lama kita simak daun-daun, dan hanya teringat akan perubahan generasi ke generasi, ada baiknya kita saksikan kulit yang setidaknya memberikan ilusi tentang sesuatu yang permanen. Orang tua mati dan orang muda muncul.

Cerita seperti Ramayana dan Mahabarata yang kita kenal bukanlah cerita tentang suatu generasi baru dan generasi lama sebagai satuan yang saling terpisah. Bahkan dalam kedua cerita itu, terutama jika kita kenang kisah Pandawa Lima, yang pokok hanyalah satu generasi. Pada akhirnya semua anak para Pandawa gugur dalam perang. Dan sebelumnya tentu kakek mereka sudah pada almarhum.

Tetapi toh kita berbicara tentang generasi lama dan baru, seperti Homerus dalam Iliad. Kita berbicara tentang pemuda. Barangkali karena hidup bukanlah cerita wayang: sesuatu yang bisa kita selesaikan sebelum siang hari Dengan kata lain, barangkali karena ternyata kita bukan para Pandawa. Anak kita tak mati. Justru kita yang berangkat mati."

"Paklik. Ini bahan kotbah Jumat nanti, ya?"

"Haiyah. Gundulmu, Mas."


Posted at 7:47:22 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (7)  

Next Page