Pohon-pohon selalu punya dua cerita, cerita daun dan cerita kulit. Jika terlalu lama kita simak daun-daun, dan hanya teringat akan perubahan generasi ke generasi, ada baiknya kita saksikan kulit yang setidaknya memberikan ilusi tentang sesuatu
yang permanen.
Saya mendapatkan ajaran itu dari Paklik Isnogud ketika tadi kami berbincang ringan tentang rencana Ndoro Tuan Gubernur Sutiyoso yang akan menebang pohon-pohon di Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan M.H. Thamrin.
"Mungkin Ndoro Tuan Gubernur itu tak pernah tahu filsafat pohon, Mas," kata Paklik Isnogud.
"Filsafat pohon? Halah, Paklik ini kok serius amat," saya sedikit meledek.
"Loh iya, Mas. Lihatlah pohon-pohon itu, Mas. Mereka bercerita tentang generasi. Bahkan Homerus, penyair Yunani Kuno itu, dalam buku ke-VI cerita besar Iliad beratus-ratus tahun yang silam sudah bisa memetik amsal dari padanya:
Sebagaimana generasi daun-daun, begitulah generasi manusia suatu ketika angin mengguncang daunan hingga rontok ke tanah, tapi kemudian hutan yang rimbun melahirkan, dan musim semi hadir. Begitulah generasi manusia, yang berganti-ganti datang dan pergi.
Tapi Homerus hanya melihat daun. Padahal pohon selalu punya dua cerita-cerita daun dan cerita kulit.
Dari jauh kita sering terpesona akan tamasya yang hijau dan rimbun, yang di negeri empat musim, bisa demikian mengasyikkan perubahannya. Suatu ketika merah dan kuning menumpuk. Suatu ketika segalanya runtuh. Suatu saat lain pupus terbit, dan burung menjemputnya kembali. Mungkin karena itu kita melupakan kulit, yang dengan kasar menutupi tubuh pepohonan.
Lihatlah dari dekat. Rasanya ada cerita lain: bukan cerita perubahan, tapi cerita sesuatu yang menetap. Bahkan sesuatu yang bertimbun bersama waktu -- satu jejak sejarah. Kadang ada tulisan ditorehkan dengan pisau ke sana. 'Bejo was here' atau yang lebih norak gambar jantung hati dipanah. Kita tak selalu tahu apa maksudnya, tapi yang jelas itu pun sebuah percobaan untuk membikin kekal suatu peristiwa, biasanya indah, tapi sekaligus mungkin tak begitu penting.
Pohon-pohon selalu punya dua cerita, cerita daun dan cerita kulit. Jika terlalu lama kita simak daun-daun, dan hanya teringat akan perubahan generasi ke generasi, ada baiknya kita saksikan kulit yang setidaknya memberikan ilusi tentang sesuatu yang permanen. Orang tua mati dan orang muda muncul.
Cerita seperti Ramayana dan Mahabarata yang kita kenal bukanlah cerita tentang suatu generasi baru dan generasi lama sebagai satuan yang saling terpisah. Bahkan dalam kedua cerita itu, terutama jika kita kenang kisah Pandawa Lima, yang pokok hanyalah satu generasi. Pada akhirnya semua anak para Pandawa gugur dalam perang. Dan sebelumnya tentu kakek mereka sudah pada almarhum.
Tetapi toh kita berbicara tentang generasi lama dan baru, seperti Homerus dalam Iliad. Kita berbicara tentang pemuda. Barangkali karena hidup bukanlah cerita wayang: sesuatu yang bisa kita selesaikan sebelum siang hari Dengan kata lain, barangkali karena ternyata kita bukan para Pandawa. Anak kita tak mati. Justru kita yang berangkat mati."
"Paklik. Ini bahan kotbah Jumat nanti, ya?"
"Haiyah. Gundulmu, Mas."
Posted at 7:47:22 am by pecas ndahe
tautan tetap