Thursday, September 28, 2006
Naik kereta api, tut...tut...tut...
Siapa hendak turut
Ke Bandung ... Surabaya ...
Bolehlah naik dengan percuma ....
Ah, siapa yang masih ingat lagu kanak-kanak ini? Saya ingat lagu itu karena kebetulan hari ini kereta api Indonesia berulang tahun yang ke-51. Sampean pasti juga lupa ya?
Ndak apa-apa. Lah wong saya juga sudah lama ndak naik kereta api. Terakhir naik kereta jarak jauh sekitar lima tahun lalu, ketika mengajak Mas Sulung yang masih bayi menengok eyangnya.
Kereta jarak dekat? Yah kurang lebih sama, terakhir lima tahun yang lalu, saya naik KRL dari Kota ke Gambir. Saya cuma bisa menceritakan betapa sesak dan pesingnya gerbong-gerbong kereta itu. Lebih dari itu tidak.
Karena itu saya ndak punya banyak cerita tentang romantika kehidupan di dalam gerbong kereta. Para KRL MANIA pasti jauh lebih banyak punya cerita seru seperti yang sering baca di situsnya. Kang Mbilung yang hampir tiap hari nggandul pintu gerbong Shinkanzen pasti juga lebih bisa ndobos soal kereta ketimbang saya.
Di Engdonesah, proyek kereta api dimulai pada 17 Juni 1864. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele di desa Kemijen, Jawa Tengah, yang meresmikan pembangunan rel kereta api jalur Kemijen - Tanggung, di dekat Semarang, waktu itu.
Tahukah sampean bagaimana acara itu diresmikan? Peletakkan batu pertama? Bukan. Dengan ayunan cangkul! Iya, cangkul. Jadi Sinyo Beele itu mengayunkan cangkul sebagai tanda dimulainya pembuatan jalan kereta.
Hanya dalam enam tahun proyek itu selesai. Jalur Semarang – Solo pun sudah dapat dilewati kereta api.
Naik kereta api, tut...tut....tut....
Siapa hendak turut
Ke Depok, atau Bogor
Bolehlah naik ke atap saja ....
Ayo, cerita pengalaman sampean naik kereta Ki Sanak ...
Posted at 12:10:16 pm by pecas ndahe
tautan tetap