"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, September 28, 2006
Kereta Pecas Ndahe

Naik kereta api, tut...tut...tut...
Siapa hendak turut
Ke Bandung ... Surabaya ...
Bolehlah naik dengan percuma ....


Ah, siapa yang masih ingat lagu kanak-kanak ini? Saya ingat lagu itu karena kebetulan hari ini kereta api Indonesia berulang tahun yang ke-51. Sampean pasti juga lupa ya?

Ndak apa-apa. Lah wong saya juga sudah lama ndak naik kereta api. Terakhir naik kereta jarak jauh sekitar lima tahun lalu, ketika mengajak Mas Sulung yang masih bayi menengok eyangnya.

Kereta jarak dekat? Yah kurang lebih sama, terakhir lima tahun yang lalu, saya naik KRL dari Kota ke Gambir. Saya cuma bisa menceritakan betapa sesak dan pesingnya gerbong-gerbong kereta itu. Lebih dari itu tidak.

Karena itu saya ndak punya banyak cerita tentang romantika kehidupan di dalam gerbong kereta. Para
KRL MANIA pasti jauh lebih banyak punya cerita seru seperti yang sering baca di situsnya. Kang Mbilung yang hampir tiap hari nggandul pintu gerbong Shinkanzen pasti juga lebih bisa ndobos soal kereta ketimbang saya.

Di Engdonesah, proyek kereta api dimulai pada 17 Juni 1864. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele di desa Kemijen, Jawa Tengah, yang meresmikan pembangunan rel kereta api jalur Kemijen - Tanggung, di dekat Semarang, waktu itu.

Tahukah sampean bagaimana acara itu diresmikan? Peletakkan batu pertama? Bukan. Dengan ayunan cangkul! Iya, cangkul. Jadi Sinyo Beele itu mengayunkan cangkul sebagai tanda dimulainya pembuatan jalan kereta.

Hanya dalam enam tahun proyek itu selesai. Jalur Semarang – Solo pun sudah dapat dilewati kereta api.

Naik kereta api, tut...tut....tut....
Siapa hendak turut
Ke Depok, atau Bogor
Bolehlah naik ke atap saja ...
.

Ayo, cerita pengalaman sampean naik kereta Ki Sanak ...


Posted at 12:10:16 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (8)  

Next Page