Benarkah pulisi cuma rajin menggelar razia pas tanggal tua? Jangan-jangan, razia itu semata-mata demi menutup kantong para opas berbaju cokelat yang sudah menipis?
Dua pertanyaan itu mengganggu saya setelah tadi malam saya dicegat razia pulisi di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Razia dilakukan oleh petugas dari Kepolisian Jakarta Barat, persisnya di sebuah kawasan yang gelap, menjelang perbatasan Jakarta-Tangerang. Yang dirazia khusus sepeda motor. Hanya satu-dua mobil yang diminta berhenti secara acak. Kebetulan saya ikut disetop.
Karena merasa surat-surat saya lengkap, dengan santun saya pun meminggirkan kendaraan. Pak pulisi yang mencegat seperti biasa menyapa dengan sopan.
"Selamat malam, Pak. Boleh lihat surat-suratnya?"
"Ah, tentu saja boleh. Tapi, ngomong-omong, ini razia apa ya, Pak? Ada teroris lepas? Atau Operasi Ketupat Lebaran sudah dimulai?" saya berbasa-basi mencoba mencairkan ketegangan.
"Ah, enggak Pak. Ini operasi rutin biasa kok," jawab pak pulisi sambil membuka-buka SIM dan STNK yang saya sodorkan.
"Rutin? Maksud Bapak? Kok kemarin ndak ada? Kok ya pas tanggal tua gitu loh, Pak. Maaf lo...."
"Ah, Bapak bisa saja," jawab Pak Pulisi sambil sedikit tertawa. Ia terlihat tak tersinggung oleh kata-kata saya. Sebentar kemudian, pak pulisi itu mengembalikan SIM dan STNK saya.
"Silakan jalan, Pak. Selamat malam dan hati-hati ya, Pak," kata Pak Pulisi masih dengan sopan dan sedikit tersenyum.
Saya balas mengucapkan terima kasih dan menghidupkan kendaraan. Tapi kata-kata Pak Pulisi itu membuat saya bertanya-tanya. Dia bilang razia itu operasi rutin? Rutin bagaimana?
Hampir setiap hari saya pulang kantor melewati Jalan Daan Mogot. Tapi hanya sekali dalam sebulan ada razia. Kalau saya perhatikan razia memang hanya muncul di malam hari pada tanggal-tanggal tua. Pas dompet buruh gajian seperti saya ini sudah saatnya minta diisi.
Pada hari-hari yang lain, di tanggal muda, ketika para buruh sudah gajian, tak terlihat seorang pulisi pun di malam hari di jalan yang saya lewati. Razia pun tak ada. Saya curiga, jangan-jangan dompet pak pulisi itu juga sudah waktunya minta diisi?
Ah, saya tentu saja tak mau berprasangka buruk. Razia tadi malam mungkin memang sebuah rutinitas biasa. Seperti kita makan dan minum. Kemarin-kemarin, razia mungkin juga digelar di jalan yang lain, dan saya tak melihatnya. Selalu ada kemungkinan lain, kan?
Tapi saya jadi bertanya-tanya, apa di negeri lain itu pulisinya juga rajin menggelar razia?
Kang Mbilung mungkin bisa cerita bagaimana tabiat pulisi Tokyo. Kawan-kawan yang tinggal di Singapura, Malaysia, atau negara tetangga lainnya mungkin juga punya cerita tentang pulisi di negara masing-masing. Adakah mereka juga punya rutinitas yang sama -- terutama pas tanggal-tanggal tua begini?
Jangan-jangan razia rutin di tanggal tua itu cuma khas Endonesah? Menurut sampean bagaimana?
Posted at 6:50:30 pm by pecas ndahe
tautan tetap