Setiap kali Ramadan datang, kenangan saya melayang ke masa kecil di kampung. Pada suatu masa ketika setiap lepas Magrib kami berbondong-bondong ke masjid memakai sarung dan peci. Ah, sarung. Siapa di antara sampean yang masih suka pakai sarung?
Sarung sebenarnya bisa elegan dan sekaligus kasual seperti celana setelan bikinan desainer kondang Hugo Boss lo, Mas," kata Paklik Isnogud suatu saat. "Tapi, ia kini surut jadi benda yang sangat privat: hanya untuk di kamar tidur, di kamar mandi, atau buat sembahyang pagi."
"Loh, Paklik suka pakai sarung juga?"
"Sarung itu favorit saya je, Mas. Mungkin favorit banyak orang lain juga. Cuma saya kok merasa bahwa orang-orang mulai memandang sarung dengan sebelah mata, Mas."
"Maksud Paklik?"
"Akhir-akhir ini satu-satunya kesempatan ketika sarung go public ialah bila orang pergi ke masjid, di hari Jumat atau hari raya. Selebihnya: ia hanya ornamen pesta pernikahan yang agak merepotkan bagi sebagian orang.
Sarung jadi lambang sesuatu yang pribumi, sesuatu yang 'rakyat banget', tapi terdesak; sesuatu yang cocok dengan lingkungan, tapi terancam oleh modernisasi yang menabrak-nabrak. Perlahan-lahan akhirnya sarung juga jadi lambang suatu kebersahajaan yang mandiri dalam menghadapi kementerengan kaki plastik."
"Sampean mungkin benar, Paklik. Saya juga mulai merasa begitu. Padahal sarung itu sepertinya diciptakan oleh seseorang yang jenius ya, Paklik? Soalnya sarung itu teknologi tepat buat segala manfaat. Kita mengenakannya buat perhelatan, kita memakainya juga buat ke kakus. Kita mempergunakannya buat selimut penahan dingin, kita juga mengerudungkannya untuk berlindung dari terik. Kita bisa (bila kita kepingin lari cepat) meringkasnya jadi semacam serual pendek, dengan memilin ujungnya serta meliukkannya ke pinggang belakang. Kita juga bisa mempergunakannya jadi topeng. Dan dalam keadaan tak jadi busana, sarung bisa jadi pembungkus (dan sekaligus penenteng) buku, misalnya, kalau kita pindah rumah."
"Betul itu, Mas. Cuma yang lagi-lagi agak aneh itu riwayat sarung. Ada masanya ketika ia jadi tanda identitas sebuah lapisan yang dicemooh. Pada 1970, misalnya, tokoh Partai Nasional Indonesia Hadisubeno memperingatkan agar klta waspada terhadap "kaum sarungan". Ia tak menyebut spesifik siapa, tapi dengan segera ungkapan ltu jadi sesuatu yang jelas.
Sebab, kata-kata Hadisubeno adalah percikan baru dari ketegangan yang lama di masyarakat Jawa, ketegangan yang terasa tapi jarang diucapkan: antara kaum ningrat dan priayi yang abangan, dan kaum pinggiran yang santri di lain pihak. Dan sebagai orang pinggiran, kaum santri yang berpakaian sarung itU untuk waktu yang lama bukanlah orang-orang yang didengar dalam percaturan kebudayaan. Mereka adalah udik.
Waktu tentu saja bisa mengubah sengketa seperti itu. Mungkin saja hal-hal yang udik kini ditimbang kembali dan - oleh perubahan sosial, ekonomi ataupun politik bahkan lebih dihargai. Namun, kita tak pernah bakal lupa kisah Si Dul di hari lebaran dalam buku karangan Aman Dt. Modjoindo: anak Betawi ini, dengan segala impian anak kampung, mencoba memakai topi dan dasi.
Engkongnya, guru ngaji yang galak, menyemburnya. Si Dul pun kembali memakai sarung, tapi hatinya remuk. Kita tahu di mana Aman, pengarang Balai Pustaka yang dikuasai para birokrat departemen itu, berpihak.
Di Dunia Ketiga, sejarah pakaian memang sejarah perbenturan kebudayaan dan politik, yang terkadang meletus keras terkadang hanya seperti lahar di perut gunung. Di Turki, untuk membebaskan bangsanya, Mustafa Kemal membabat turbus dari kepala orang banyak.
Di India, juga untuk membebaskan bangsanya, Gandhi mempertahankan hasil industri khadi. Di Indonesia sarung juga telah jadi barang sosial budaya di sebuah zaman peralihan: ia pun suatu titik konflik.
Kita bisa melihatnya -- justru karena sifatnya yang serba guna -- sebagai tanda keterbatasan kita. Tapi kita juga bisa, dari sisi lain, dan dari masa lain, melihatnya dengan rasa kangen. Kita bisa jadi snob yang mencemoohnya sebagai gombal engkong Si Dul yang disakralkan.
Kita juga bisa mengibarkannya tinggi-tinggi -- sekadar agar tak disamakan dengan kaum OKB, para nouveaux riches yang kurang lebih adalah Si Dul baru -- dengan glamour. Ya seperti sampean ini, Mas. Udik tapi glamour, hehehe... "
"Haiyah, Paklik ini bisa aja ... "
Posted at 6:34:48 am by pecas ndahe
tautan tetap