"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, September 23, 2006
Sarung Pecas Ndahe

Setiap kali Ramadan datang, kenangan saya melayang ke masa kecil di kampung. Pada suatu masa ketika setiap lepas Magrib kami berbondong-bondong ke masjid memakai sarung dan peci. Ah, sarung. Siapa di antara sampean yang masih suka pakai sarung?

Sarung sebenarnya bisa elegan dan sekaligus kasual seperti celana setelan bikinan desainer kondang Hugo Boss lo, Mas," kata Paklik Isnogud suatu saat. "Tapi, ia kini surut jadi benda yang sangat privat: hanya untuk di kamar tidur, di kamar mandi, atau buat sembahyang pagi."

"Loh, Paklik suka pakai sarung juga?"

"Sarung itu favorit saya je, Mas. Mungkin favorit banyak orang lain juga. Cuma saya kok merasa bahwa orang-orang mulai memandang sarung dengan sebelah mata, Mas."

"Maksud Paklik?"

"Akhir-akhir ini satu-satunya kesempatan ketika sarung go public ialah bila orang pergi ke masjid, di hari Jumat atau hari raya. Selebihnya: ia hanya ornamen pesta pernikahan yang agak merepotkan bagi sebagian orang.

Sarung jadi lambang sesuatu yang pribumi, sesuatu yang 'rakyat banget', tapi terdesak; sesuatu yang cocok dengan lingkungan, tapi terancam oleh modernisasi yang menabrak-nabrak. Perlahan-lahan akhirnya sarung juga jadi lambang suatu kebersahajaan yang mandiri dalam menghadapi kementerengan kaki plastik."

"Sampean mungkin benar, Paklik. Saya juga mulai merasa begitu. Padahal sarung itu sepertinya diciptakan oleh seseorang yang jenius ya, Paklik? Soalnya sarung itu teknologi tepat buat segala manfaat. Kita mengenakannya buat perhelatan, kita memakainya juga buat ke kakus. Kita mempergunakannya buat selimut penahan dingin, kita juga mengerudungkannya untuk berlindung dari terik. Kita bisa (bila kita kepingin lari cepat) meringkasnya jadi semacam serual pendek, dengan memilin ujungnya serta meliukkannya ke pinggang belakang. Kita juga bisa mempergunakannya jadi topeng. Dan dalam keadaan tak jadi busana, sarung bisa jadi pembungkus (dan sekaligus penenteng) buku, misalnya, kalau kita pindah rumah."

"Betul itu, Mas. Cuma yang lagi-lagi agak aneh itu riwayat sarung. Ada masanya ketika ia jadi tanda identitas sebuah lapisan yang dicemooh. Pada 1970, misalnya, tokoh Partai Nasional Indonesia Hadisubeno memperingatkan agar klta waspada terhadap "kaum sarungan". Ia tak menyebut spesifik siapa, tapi dengan segera ungkapan ltu jadi sesuatu yang jelas.

Sebab, kata-kata Hadisubeno adalah percikan baru dari ketegangan yang lama di masyarakat Jawa, ketegangan yang terasa tapi jarang diucapkan: antara kaum ningrat dan priayi yang abangan, dan kaum pinggiran yang santri di lain pihak. Dan sebagai orang pinggiran, kaum santri yang berpakaian sarung itU untuk waktu yang lama bukanlah orang-orang yang didengar dalam percaturan kebudayaan. Mereka adalah udik.

Waktu tentu saja bisa mengubah sengketa seperti itu. Mungkin saja hal-hal yang udik kini ditimbang kembali dan - oleh perubahan sosial, ekonomi ataupun politik bahkan lebih dihargai. Namun, kita tak pernah bakal lupa kisah Si Dul di hari lebaran dalam buku karangan Aman Dt. Modjoindo: anak Betawi ini, dengan segala impian anak kampung, mencoba memakai topi dan dasi.

Engkongnya, guru ngaji yang galak, menyemburnya. Si Dul pun kembali memakai sarung, tapi hatinya remuk. Kita tahu di mana Aman, pengarang Balai Pustaka yang dikuasai para birokrat departemen itu, berpihak.

Di Dunia Ketiga, sejarah pakaian memang sejarah perbenturan kebudayaan dan politik, yang terkadang meletus keras terkadang hanya seperti lahar di perut gunung. Di Turki, untuk membebaskan bangsanya, Mustafa Kemal membabat turbus dari kepala orang banyak.

Di India, juga untuk membebaskan bangsanya, Gandhi mempertahankan hasil industri khadi. Di Indonesia sarung juga telah jadi barang sosial budaya di sebuah zaman peralihan: ia pun suatu titik konflik.

Kita bisa melihatnya -- justru karena sifatnya yang serba guna -- sebagai tanda keterbatasan kita. Tapi kita juga bisa, dari sisi lain, dan dari masa lain, melihatnya dengan rasa kangen. Kita bisa jadi snob yang mencemoohnya sebagai gombal engkong Si Dul yang disakralkan.

Kita juga bisa mengibarkannya tinggi-tinggi -- sekadar agar tak disamakan dengan kaum OKB, para nouveaux riches yang kurang lebih adalah Si Dul baru -- dengan glamour. Ya seperti sampean ini, Mas. Udik tapi glamour, hehehe... "

"Haiyah, Paklik ini bisa aja ... "



Posted at 6:34:48 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (6)  

Next Page