Ikarus adalah tamsil tentang ketakaburan. Manusia berambisi dan ia pun melambung
tinggi, tapi akhirya -- kita tahu -- ia terjungkal. Orang bilang puasa itu bisa menjaga kita agar terhindar dari ketakaburan semacam itu.
Saya beroleh ajaran itu dari Paklik Isnogud ketika tadi kami tengah berbincang asal-asalan. Itung-itung kultum menjelang bulan Ramadan. Saya tahu Paklik si priyayi abangan itu memang tak pernah berpuasa, tapi saya merasa tak ada salahnya berbincang tentang hakekat hidup dan puasa dengannya.
"Kenapa Paklik menceritakan hikayat Ikarus?" saya bertanya setengah penasaran.
"Karena kita hidup di zaman ketika Erasmus dan kaum humanis lainnya menyerukan keseimbangan dan sikap tak berlebihan, Mas. Seruan mereka itu sebetulnya suatu imbauan yang universal, imbauan yang bisa didapat baik dalam hadis Rasul maupun ajaran Budha, baik dalam pepatah Minang maupun dalam kitab Wedhatama. Pada akhimya manusia memang tahu, lantaran pengalaman berabad-abad, bahwa ia tak boleh gegabah dengan kelebihannya. Sewaktu-waktu roda nasib bisa berbalik, dan air bah melanda bila dam tak cukup kuat ditegakkan.
Itulah pesan sebenarnya dari Ruang Kebangkrutan [Boedels Kamer]. Sampean tahu di mana ruang ini berada, Mas?"
Saya menggelengkan kepala.
"Ruang itu ada di Amsterdam, di sebuah bangunan yang pada pertengahan abad ke-17 dipakai sebagai balaikota. Nah, pesan dari Eramus itu pula yang bergaung ketika orang Belanda mendirikan Wisselbank pada 1609. Bank itu didirikan dengan mengutamakan dinamisasi dana-dana untuk usaha. Yang diutamakan ialah menjaga agar jumlah simpanan jauh lebih tinggi ketimbang jumlah yang mungkin akan dikeluarkan. Wisselbank adalah suatu ekspresi kehati-hatian.
Bank itu ibarat gereja yang menganjurkan puasa bagi para pencari harta -- meskipun orang bisa menafsirkan bahwa puas itu bukan cuma berarti menahan nafsu, melainkan juga menimbun nafsu.
Tentang nafsu, saya ingat sebuah tulisan di majalah Squire, Mas. Majalah ini suatu ketika pernah menulis tentang potato chips. Judulnya: Rasa Bersalah Amerika. Barangkali itulah gejala zaman yang kenyang dari masyarakat yang berlemak dirundung rasa bersalah kepada tubuh yang menggendut -- dirundung rasa dosa sebagai makhluk berlebihan di tengah jagat yang lapar.
Perlahan-lahan, orang Amerika pun mawas diri. Dan mereka melihat ke orang Tarahumara. Orang Indian Tarahumara tak makan American hamburger. Suku bangsa yang hidup di pegunungan tinggi di utara Meksiko ini mempunyai menu yang menurut ukuran Amerika mirip menu orang kelaparan: cuma makan daging dua kali setahun. Selebihnya kalori mereka berasal dari jagung, kacang-kacangan, buah, sayur, kentang, atau telor kadang-kadang.
Meskipun begitu orang Tarahumara toh biasa bertanding lari terus-menerus, sampai dua hari, sepanjang jarak 320 kilometer. Itu pun lazimnya didahului dua sampai lima hari persiapan: setengah puasa.
Tergerak untuk memanfaatkan orang Tarahumara, suatu ketika pemerintah Meksiko merekrut mereka buat atlet Olimpiade. Setelah dimasukkan ke dalam pusat latihan, mereka diperlakukan menurut resep atlet modern: makan steik daging sapi, banyak telor, dan susu. Akibatnya: berantakanlah proses perut yang sederhana itu.
Dan kita tak pernah dengar ada juara maraton dari Meksiko."
Paklik Isnogud mengakhiri ceritanya. Saya tertegun dibuatnya.
Posted at 12:36:54 pm by pecas ndahe
tautan tetap