"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, September 20, 2006
Habibie Pecas Ndahe

"Ini penghinaan. Anda memecat saya sebagai Panglima Kostrad?"

"Bukan dipecat, tetapi diganti."

"Mengapa? Saya justru ingin mengamankan Presiden."

"Itu tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab kepada Panglima ABRI, bukan tugasmu…."

"Atas nama mertua dan ayah saya ..."

"Tidak. Sebelum matahari terbenam nanti, semua pasukan Kostrad sudah harus diserahkan kepada panglima baru."

Sampean tahu Ki Sanak, itu dialog antara siapa dan siapa? Ya, Letnan Jenderal Prabowo Subianto dan Presiden B.J. Habibie pada 22 Mei 1998 di Wisma Negara. Dialog itu aslinya dalam bahasa Inggris. Saya membaca petikannya hari ini di sini. Dan ingatan kita melayang seperti kaset yang di-rewind ke hari-hari yang menegangkan waktu itu.

Ketika itu, Habibie belum 24 jam diangkat sebagai presiden menggantikan Soeharto yang tiba-tiba lengser. Prabowo, anak begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo sekaligus menantu Soeharto, masih jadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat.

Kita tahu, Habibie mencopot Prabowo dari jabatan itu dan menggantikannya dengan Letnan Jenderal Johny Lumintang. Prabowo ngamuk. Ia menggerakkan pasukan ke Jakarta dan mengepung Istana Merdeka dan Kuningan, kediaman pribadi Habibie.

Mungkin Prabowo hendak mengikuti jejak Ketua Mao yang pernah mengutip sebuah pepatah: "Peliharalah tentara untuk 1.000 hari, buat digunakan di satu pagi." Yang bing qia ri, yong zai yichao.

Entah, saya tak tahu. Yang jelas, insiden itu kini tinggal sejarah. Sampean bisa mengikuti cerita yang mengasyikkan itu lewat catatan harian Habibie yang akan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Detik-detik yang Menentukan.

Dalam buku setebal 549 halaman itu sampean, misalnya, akan tahu bahwa pada saat-saat terakhir kekuasaannya, Soeharto ternyata justru menafikan Habibie. Ia "dibiarkan" tanpa disapa meski sudah mengejar Soeharto dari Cendana sampai Istana Merdeka. "Presiden Soeharto, manusia yang sangat saya hormati, cintai, dan kagumi, ternyata menganggap saya seperti tidak pernah ada…." begitu tulis Habibie.

Ah, begitu tragis. Padahal dulunya Soeharto dan Habibie itu dwitunggal. Bahkan ada yang bilang, Habibie itu anak emas Soeharto.

"Di ujung kekuasaan, akhirnya kita memang sendiri, Mas. Kesepian," kata Paklik Isnogud suatu ketika. "Bahkan di puncak gunung pun cuma ada satu jalan, bukan? Turun."

Saya terdiam dan merenungkan kata-katanya. "Paklik benar. Tapi dari mana datangnya kearifan sampean itu, Paklik?"

"Ndak dari mana-mana, Mas. Ini kan cuma sejarah yang berulang. Dan kalau sudah ngomongin Habibie, saya jadi ingat Soedjatmoko. Kenal, Mas?"

"Mboten, Paklik."

Paklik mulai bercerita. Soedjatmoko itu salah satu pemikir besar kita. Dia pernah jadi wakil Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia pernah berbicara, dengan memikat, tentang pilihan teknologi. Ia mengingatkan kita akan sumber alam yang kian habis, bencana pada lingkungan, perlunya perluasan lapangan kerja yang bisa memulihkan harga diri rakyat sesuatu yang lebih berarti ketimbang gemuruhnya ekonomi yang tumbuh dengan mesin-mesin piawai.

Kita jangan mengulang kesesatan negeri industri yang terdahulu, kata Soedjatmoko. Kita jangan tergantung kepada ukuran mereka tentang yang ''maju'' dan ''tak maju''.

Soedjatmoko pun menyerukan dipilihnya intermediate technology. Kurang-lebih itu sama artinya dengan teknologi ''sandal jepit'': sesuatu yang sederhana tapi tak sekadar terompah kayu, dan juga cocok dengan iklim, kaki, dan kemampuan kita.

Kita pun tergugah. Kita seakan mendengarkan sebuah imbauan moral: manusia tak boleh serakah dengan gemerincingnya benda- benda. Dan naluri yang terpendam dalam ide-ide sosial-politik Indonesia pun berderap ke permukaan lagi: kita bergelora melihat bangsa Indonesia bisa punya alternatif yang lebih baik bagi dunia. Kita tak akan sekadar membebek. Pada saat yang sama kita tak melupakan nasib orang kebanyakan: rakyat bisa bergerak bebas dan mantap justru hanya dengan sandal jepit.

Soedjatmoko mengingatkan kita kepada Gandhi pada era 1930-an, ketika pemimpin India itu berbicara tentang industri khadi di kampung-kampung dan dengan tenang, tekun, dan tabah memutar alat pintal benang untuk kain yang dipakainya sendiri.

Dengan itulah Gandhi melawan Imperium Inggris yang ingin menjadikan India sebuah pasar barang dan mesin. Dengan itu pula Gandhi menyatakan solidaritasnya kepada rakyat India yang dengan kerja dan hidup bersahaja memulihkan martabatnya.

Sandal jepit atau pesawat terbang? Saya kira bukan di situ pilihannya, Mas. Sebab siapa pun yang menemukan roda dan api, mesin uap dan tenaga atom, pada mulanya dan pada akhirnya adalah karena pembebasan manusia. Sebelum penemuan teknologi didahului oleh pemikiran ilmu, (apalagi sesudahnya), proses yang berlangsung adalah proses berpikir yang bebas tanpa rasa bersalah dan berdosa.

Pada momen itu manusia menafikan segala takhayul dan dogma dan doktrin dan petuah. Tanpa meneruskan proses pembebasan pikiran ini, teknologi hanyalah alat penguasaan yang bisa mengerikan. Atau kita hanya beroleh ketok magic: bengkel adalah rahasia, kita hanya percaya, semuanya akan beres, kita tanpa kritik, hanya terkesima.

Jadi ketika Habibie bertanya: pesawat terbang atau teknologi terapan untuk para petani, saya kira bukan di situ pilihannya, Mas.

"Ngomong-omong, sampean pengagum Habibie ya, Paklik?" tiba-tiba saya potong ceritanya.

Paklik Isnogud cuma tersenyum tanpa menjawab....


Posted at 12:32:51 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (8)  

Next Page