Password-mu harimaumu, bisa mengerkah kepalamu. Kalau sampean ndak hati-hati menyimpan kata sandi, jangan kaget kalau timbul gegeran. Seorang wartawan kriminal di Surabaya pernah pecas ndahe gara-gara
password itu.
Seorang kawan sesama buruh di Jawa Timur menceritakan gegeran itu kemarin. Syahdan ada wartawan harian kriminal
Rek Ayo Rek terbitan Surabaya bernama Aep Ganda Permana, 37 tahun. Ia tinggal di kompleks perumahan Tegal Besar Permai, Kaliwates, Jember.
Senin pekan lalu, rumah Cak Aep didatangi puluhan tetangganya. Mereka menenteng koran Rek Ayo Rek edisi hari itu. Ada apa? Rupanya, para tetangga Cak Aep itu mau menanyakan perihal headline berita koran itu yang menyebutkan ada seorang suami yang membunuh istrinya secara sadis hanya gara-gara sang suami tak mendapat jatah biologis.
Para tetangga penasaran karena dalam berita itu jelas tertulis bahwa sang korban pembunuhan itu adalah Ny. Rita (istri Cak Aep) dan pembunuhnya adalah suaminya sendiri yang inisialnya Per. Tempat kejadian pun tak lain ya rumah Cak Aep itu.
Berita itu cukup meyakinkan sebab dilengkapi sebuah foto ukuran kartu pos yang menampakkan seorang perempuan tergeletak bersimbah darah. Nama fotografernya tertulis AEP. Kurang apa coba?
Tentu saja warga kompleks itu kaget bukan kepalang setelah menemukan Ny.Rita masih segar bugar. Mereka juga kaget karena Cak Aep juga nampak santai seperti baru bangun tidur. Giliran Cak Aep yang bingung.
"Kok bisa begini ya?" katanya.
Ia merasa tak pernah menulis berita itu.
Namun, kekagetan Cak Aep justru membikin tetangganya semakin penasaran. Mereka malah menuduh Aep sengaja membikin berita palsu. "Sampean itu kurang kerjaan ya? Apa sudah sumpek, trus bikin kisruh? Mosok bojone dhewe ditulis mati, sing genah wae."
"Saya ndak bikin berita fiktif itu," kata Aep membela diri.
Aep yang bingung lantas mencoba menelpon beberapa redakturnya di Surabaya, namun tak ada jawaban. Wartawan kriminal itu lalu keluar rumah naik sepeda motornya. "Saya akan cari tahu. Ada yang tidak beres. Percayalah Pak, Bu, saya tidak membuat berita itu," katanya berusaha menenangkan anak-istri, dan tetangganya.
Setelah hampir seharian Aep mencari tahu asal-muasal munculnya berita tentang dirinya dan keluarganya itu di korannya sendiri, ia mendapat jawaban dari redakturnya di Surabaya. Jawabannya singkat, padat, dan jelas.
"Berita itu bagus, layak jadi headline. Apalagi dikirim melalui alamat email yang biasa digunakan Aep untuk mengirim berita," begitu kira-kira jawaban pak redaktur.
Tentu saja Aep kaget bukan kepalang lantaran ia merasa tak pernah membuat dan mengirim berita itu lewat
email. Ia pun curiga jangan-jangan ada yang memakai emailnya untuk mengirim berita itu.
Aep lalu mampir ke warnet tempat ia biasa mengetik berita. Setelah online dan membuka email, ia menemukan pada 'Sent Item' ada dokumen pengiriman sebuah berita dan selembar foto ke redakturnya. "Benar dugaan saya, si pembuat dan pengirim berita itu tahu password email saya," katanya.
Setelah mendapatka fakta itu, Aep pun pulang. Beres? Belum. Keluarga dan tetangganya ternyata masih menunggu. Mereka kembali mendesak Aep menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.
Aep mencoba menjawa sebisanya. Ia menjelaskan ada orang yang membikin berita palsu menggunakan data pribadinya dan mengirimkannya ke redakturnya dengan membobol
password email-nya. Tapi, karena kebanyakan warga masih awam dengan istilah-istilah yang disebut Aep, mereka justru makin penasaran dan tak percaya. "Pass...woott opo? Iii meel opo? Ojo mbulet wae lah. Jelasno sing sak benere. Gak usah mbujuki," teriak para tetangga.
Jadi Ki Sanak, berhati-hatilah kalau menyimpan
password. Jangan sampai sampean mengalami kejadian seperti Aep. Kecuali sampean mau pecas ndahe ...
Posted at 5:28:53 pm by pecas ndahe
tautan tetap