Ada banyak analisis kenapa gerakan PKI di pengujung September, empat puluh satu tahun silam, akhirnya gagal. Rencana matang yang telah disusun sebelumnya ternyata berantakan. Di antaranya, ada yang bilang, karena organisasi itu pecah. Para pemimpinnya tak kompak lagi. Kenapa?
Saya ngobrol dengan Paklik Isnogud untuk merekonstruksi apa yang sebetulnya terjadi dengan partai yang pernah begitu berkuasa itu. Saya tahu, Paklik pasti bakal bercerita panjang lebar. Ternyata, Paklik tak cuma bercerita. Ia malah mengajak saya berwisata sejarah dan mengenal tokoh-tokoh PKI.
"Begini, Mas," kata Paklik memulai ceritanya. Syahdan pada waktu D.N. Aidit berumur 27 tahun, yakni pada 1951 ia mengambil-alih kepemimpinan PKI. Bersama dia adalah Lukman, 30 tahun. Sudisman, 30 tahun. Dan yang termuda adalah Nyoto yang masih 25 tahun.
Sampai dengan saat kehancuran PKI pada 1965-1966, keempat pemimpin komunis itu nampak dari luar sebagai suatu empat serangkai yang kompak. Tapi, kenyataan di balik tembok itu ternyata tak selalu demikian.
Hancurnya Partai membongkar apa yang selama itu tersembunyi. Di dalam dan di luar sel tahanan, orang-orang komunis atau simpatisan PKI mulai melihat kekurangan para pemimpin besar dan kecil mereka. Salah taktik yang selama ini dianggap tak mungkin dilakukan sang pemimpin, egoisme yang sebelumnya tersembunyi di sementara tokoh, bahkan pengkhianatan serta saling fitnah, adalah hal-hal buruk yang tiba-tiba menjadi lebih buruk di dalam krisis -- meskipun pukulan nasib dan kekalahan tak jarang menimbulkan kembali sifat yang kuat dan mulia pada manusia.
Perpecahan itu kemudian menjadi lebar. Seperti yang ditulis oleh Guy J. Pauker dalam artikelnya The Rise and Fall of The Communist Party of Indonesia, dalam mencoba melakukan reorganisasi, sisa-sisa PKI terbagi oleh perbedaan doktrin.
Di bawah Jusuf Adjitorop yang kemudian tinggal di Beijing, seruannya mengandung pujaan kepada Mao Zedong. Tapi sebuah grup lain, yang menamakan diri "Grup Marxis-Leninis PKI", mengutuk para pemimpin PKI yang menurut mereka dikendalikan Peking hingga "bermain judi" dengan "Gerakan 30 September".
Di antara Politbiro PKI yang lama sendiri, pukulan setelah 1 Oktober 1965 menyebabkan Sudisman dengan bahasa samar, tapi mudah ditebak, menyesali Aidit. Sebagaimana dikutip Pauker, tulisan Sudisman yang berisi "otokritik" mengecam "gaya kerja", yang telah memberi kekuasaan kepada pimpinan Partai untuk "membangun saluran organisasi mereka sendiri di luar kontrol Politbiro dan Sentral Komite". Dalam kata-kata yang lebih terang, yang dimaksudkannya nampaknya ialah tindakan Aidit membentuk Biro Khusus, dengan ketua Sjam -- seorang yang hanya bisa dekat kepadanya.
Di dalam PKI pun rasanya berlaku juga kodrat, bahwa wewenang yang berada di luar kontrol amat mudah mencelakakan orang. Sebab, sebuah partai, biarpun itu sebuah organisasi yang doktriner dan menuntut disiplin semacam Partai Komunis, pada akhirnya terdiri juga dari manusia -- dengan momen-momennya yang lemah.
Tapi, siapa bisa mengatakan kelemahan Aidit waktu dia di puncak sana, meskipun mungkin dia tak disukai? Bahkan konon seorang penyair Lekra yang merupakan orang setianya, S.W. Kuntjahjo, pernah memujanya dalam syair: "Matanya seperti
bulan".
Yang menarik ialah bahwa bila yang menang dianggap tak bisa bersalah, orang lain yang surut dalam persaingan dengan mudah dikecam. Konon, yang semacam ini terjadi pada diri Njoto.
Kita tak tahu persis bagaimana latarbelakang orang ini. Ia disebut-sebut lahir di Jawa Timur -- Besuki, Jember atau Blitar, entahlah -- pada 1925. Ayahnya konon seorang pekerja PKI, di Solo, yang kemudian pada 1925 lari ke Besuki dan menjadi pedagang.
Namun, latar belakang itu tak cukup menjelaskan bagaimana tokoh kurus berkacamata dengan wajah guru yang ramah ini, bisa menguasai bahasa Belanda, Inggris, Rusia, pandai jadi dirigen, main musik, menulis puisi, sarat dengan bacaan, suka makan enak, charmant, dan sangat cocok dengan gaya hidup seorang Bung Karno.
Mungkin justru karena itu, karena ia hangat, suka lelucon dan suka wanita, ia harus bentrok dengan orang keras-kaku seperti Oloan Hutapea, anggota CC PKI yang kemudian pelan-pelan menggeser Njoto dari Harian Rakyat. Rex Mortimer, dalam Indonesian Communism under Sukarno, menyebut Njoto dan Hutapea sebagai "musuh pribadi dan politik yang pahit" menjelang 1964.
Kabarnya suatu ketika Njoto dituduh jatuh cinta kepada seorang wanita Rusia, seorang penterjemah yang pandai dan cantik -- dan nekat mau meninggalkan isterinya. Partai pun konon marah besar kepadanya -- sebagaimana konon orang-orang PKI lain marah -- ketika intelektuil ini berkirim surat dari perjalanan ke Mesir: ia cuma bercerita tentang pengalaman mengintip perempuan Mesir lagi mandi!
Bayangkan Mas, Nyoto melakukan perjalanan jauh, melewati samudera, hanya untuk mengintip perempuan mandi. Apa ndak bikin orang jengkel itu?"
Terus terang saya ngakak mendengar penutup cerita Paklik itu. Nyoto ternyata laki-laki normal. Ia juga manusia yang punya kelemahan, masih tergoda perempuan. Urusan beginian tampaknya tak pilih tebu. Mau PKI atau PKK. Mau pemimpin atau hamba sahaya. Semua sama saja. Ah, senang rasanya mengetahui cerita ini ....
Posted at 5:36:10 pm by pecas ndahe
tautan tetap