"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, September 12, 2006
Priok Pecas Ndahe

Hari ini, persis 22 tahun yang silam, Tanjung Priok dilanda huru-hara. Dari sebuah arsip lama, saya putar ulang kembali cerita tentang malam berdarah itu untuk sampean semua,  Ki Sanak, sekadar mengenang sebuah luka....

Malam itu, Rabu 12 September 1984, sebuah panggung didirikan di Jalan Sindang, persis di perempatan lorong 102, di jantung kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di atasnya diberi atap tenda terpal warna  garis-garis hijau putih. Puluhan loud speaker diikat di tiang listrik di sepanjang Jalan Sindang yang lebarnya sekitar 7 meter.

Dalam undangan yang disebarkan oleh Remaja Islam Sindang, acara yang akan diselenggarakan adalah pengajian remaja, yang diisi ceramah beberapa ustad, antara lain Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana dan M. Nasir. Pengajian yang diadakan di persimpangan jalan memang sudah biasa digelar di kawasan tersebut.

Acara malam itu dimulai sekitar pukul 20.00. Ternyata, yang muncul sebagai  pembicara pertama malam itu adalah Amir Biki. Ia mengenakan celana cokelat dan kemeja batik hitam. Ia juga membawa sebilah badik, yang ditunjukkannya pada massa. Pidato mengecam berbagai hal, dari penggusuran tanah sampai keluarga berencana dan RUU keormasan. Ia juga menjelek-jelekkan pemerintah.

Tampaknya la merencanakan sesuatu karena beberapa kali ia menegaskan agar massa "menunggu instruksinya", dan "ceramah saya ini mungkin yang pertama dan terakhir". Puncak pidatonya adalah tatkala ia menuntut "kepada penguasa agar melepaskan keempat pemuda yang ditahan. Ia mengancam akan menggerakkan massa jika mereka tidak dibebaskan sebelum pukul 23.00 malam itu.

Rupanya, Amir Biki pada sekitar pukul 22.00, seperti diungkapkan Jenderal Benny Moerdani, menyampaikan tuntutan yang sama lewat telepon pada markas aparatur keamanan. Amir mengancam "akan melakukan pembunuhan dan perusakan-perusakan apabila keempat  tahanan tersebut tidak dibebaskan". Tuntutan lewat telepon itu diulangi pada sekitar pukul 23.00.

Beberapa pembicara lain setelah Amir Biki kabarnya tak kurang keras suaranya. Malah ada pembicara yang menghasut massa dan isi hasutannya sangat rasialistis. "Pembicaraannya ngawur dan jelas bertentangan dengan ajaran Islam," kata seorang sumber.

Tatkala pukul 23.00 tiba, dan keempat tahanan tidak dibebaskan, Amir Biki pun menggerakkan massa. Ia membagi mereka dalam dua kelompok, masing-masing membawa bendera hijau. Amir berjalan di depan, memimpin satu kelompok yang menuju markas Kodim di Jalan Yos Sudarso, melewati Jalan Anggrek, menempuh
jarak sekitar 1,5 km. Namun, setenah perjalanan, di depan kantor Polres di Jaan Yos Sudarso, mereka dihadang sepasukan tentara.

Pasukan ini mencegah dan berusaha membubarkan massa. Tatkala mereka terus bergerak, petugas keamanan melepaskan tembakan peringatan. "Tapi Pak Amir rupanya sudah emosional. Ia malah memegang bendera dan meneriakkan 'Maju dan Serbu'," kata seorang yang malam itu berbaris di dekat Amir Biki dan luput dari
tembakan.

Yang terjadi pun terjadilah. Ketika dua kelompok yang berseberangan sudah saling berhadapan, selanjutnya kita bisa menebak apa yang akan terjadi: bentrok.

Massa tercerai-berai oleh tembakan. Datangnya bantuan pasukan membuat mereka mundur. Saat itulah perusakan dan pembakaran mulai terjadi, terutama dilakukan oleh kelompok lain yang melewati Jalan Jampea.

Sekitar tengah malam itu Riswanto, 20 tahun, pembantu yang baru bekerja empat hari di Toko Tanjung Jaya di Jalan Jampea, terbangun. "Saya lihat asap masuk kamar dan terdengar suara ribut-ribut," kata pemuda asal Purwokerto. Bersama tiga rekan pria sesama pembantu, ia menghambur keluar kamar dan bertemu pembantu wanita.

Toko Tanjung Jaya, yang menjual onderdil, bahan bakar, dan pelumas, memang menjadi sasaran amukan massa. Sebelumnya, massa urung membakar Apotek Tanjung di sebelahnya, setelah diberitahu bahwa pemiliknya Cina Islam. Tapi api yang membakar Tanjung Jaya ikut meludaskan Apotek Tanjung, yang memang tidak dijaga. Esoknya, di reruntuhan Tanjung Jaya ditemukan delapan mayat keluarga Tan Kio Liem serta seorang pembantunya.

Dalam waktu singkat, pasukan keamanan bisa menguasai keadaan. Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani kabarnya ikut memeriksa situasi setempat setelah lewat tengah malam.

Jumlah korban, yang pada hari Kamis tercatat sembilan orang meninggal, kabarnya bertambah. Sebuah sumber kepolisian menyebutkan, sampai Sabtu pekan lalu, korban yang meninggal tercatat 28 orang. Sementara itu, sejumlah perusuh dan tokoh yang diduga terlibat ditahan. Antara lain Abdul Kadir, Djaelani, Tony Ardie, dan Mawardi Nur.

Sejarah kemudian mencatat huru-hara di Tanjung Priok itu sebagai salah satu insiden paling kelam dalam sejarah modern Kota Jakarta. Saya penasaran, sewaktu peristiwa itu terjadi, sampean ada di mana? Sampean kira-kira sedang apa?


Posted at 6:03:36 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (14)  

Next Page