Hari ini, persis 22 tahun yang silam, Tanjung Priok dilanda huru-hara. Dari sebuah arsip lama, saya putar ulang kembali cerita tentang malam berdarah itu untuk sampean semua, Ki Sanak, sekadar mengenang sebuah luka....
Malam itu, Rabu 12 September 1984, sebuah panggung didirikan di Jalan Sindang, persis di perempatan lorong 102, di jantung kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di atasnya diberi atap tenda terpal warna garis-garis hijau putih. Puluhan loud speaker diikat di tiang listrik di sepanjang Jalan Sindang yang lebarnya sekitar 7 meter.
Dalam undangan yang disebarkan oleh Remaja Islam Sindang, acara yang akan diselenggarakan adalah pengajian remaja, yang diisi ceramah beberapa ustad, antara lain Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana dan M. Nasir. Pengajian yang diadakan di persimpangan jalan memang sudah biasa digelar di kawasan tersebut.
Acara malam itu dimulai sekitar pukul 20.00. Ternyata, yang muncul sebagai pembicara pertama malam itu adalah Amir Biki. Ia mengenakan celana cokelat dan kemeja batik hitam. Ia juga membawa sebilah badik, yang ditunjukkannya pada massa. Pidato mengecam berbagai hal, dari penggusuran tanah sampai keluarga berencana dan RUU keormasan. Ia juga menjelek-jelekkan pemerintah.
Tampaknya la merencanakan sesuatu karena beberapa kali ia menegaskan agar massa "menunggu instruksinya", dan "ceramah saya ini mungkin yang pertama dan terakhir". Puncak pidatonya adalah tatkala ia menuntut "kepada penguasa agar melepaskan keempat pemuda yang ditahan. Ia mengancam akan menggerakkan massa jika mereka tidak dibebaskan sebelum pukul 23.00 malam itu.
Rupanya, Amir Biki pada sekitar pukul 22.00, seperti diungkapkan Jenderal Benny Moerdani, menyampaikan tuntutan yang sama lewat telepon pada markas aparatur keamanan. Amir mengancam "akan melakukan pembunuhan dan perusakan-perusakan apabila keempat tahanan tersebut tidak dibebaskan". Tuntutan lewat telepon itu diulangi pada sekitar pukul 23.00.
Beberapa pembicara lain setelah Amir Biki kabarnya tak kurang keras suaranya. Malah ada pembicara yang menghasut massa dan isi hasutannya sangat rasialistis. "Pembicaraannya ngawur dan jelas bertentangan dengan ajaran Islam," kata seorang sumber.
Tatkala pukul 23.00 tiba, dan keempat tahanan tidak dibebaskan, Amir Biki pun menggerakkan massa. Ia membagi mereka dalam dua kelompok, masing-masing membawa bendera hijau. Amir berjalan di depan, memimpin satu kelompok yang menuju markas Kodim di Jalan Yos Sudarso, melewati Jalan Anggrek, menempuh
jarak sekitar 1,5 km. Namun, setenah perjalanan, di depan kantor Polres di Jaan Yos Sudarso, mereka dihadang sepasukan tentara.
Pasukan ini mencegah dan berusaha membubarkan massa. Tatkala mereka terus bergerak, petugas keamanan melepaskan tembakan peringatan. "Tapi Pak Amir rupanya sudah emosional. Ia malah memegang bendera dan meneriakkan 'Maju dan Serbu'," kata seorang yang malam itu berbaris di dekat Amir Biki dan luput dari
tembakan.
Yang terjadi pun terjadilah. Ketika dua kelompok yang berseberangan sudah saling berhadapan, selanjutnya kita bisa menebak apa yang akan terjadi: bentrok.
Massa tercerai-berai oleh tembakan. Datangnya bantuan pasukan membuat mereka mundur. Saat itulah perusakan dan pembakaran mulai terjadi, terutama dilakukan oleh kelompok lain yang melewati Jalan Jampea.
Sekitar tengah malam itu Riswanto, 20 tahun, pembantu yang baru bekerja empat hari di Toko Tanjung Jaya di Jalan Jampea, terbangun. "Saya lihat asap masuk kamar dan terdengar suara ribut-ribut," kata pemuda asal Purwokerto. Bersama tiga rekan pria sesama pembantu, ia menghambur keluar kamar dan bertemu pembantu wanita.
Toko Tanjung Jaya, yang menjual onderdil, bahan bakar, dan pelumas, memang menjadi sasaran amukan massa. Sebelumnya, massa urung membakar Apotek Tanjung di sebelahnya, setelah diberitahu bahwa pemiliknya Cina Islam. Tapi api yang membakar Tanjung Jaya ikut meludaskan Apotek Tanjung, yang memang tidak dijaga. Esoknya, di reruntuhan Tanjung Jaya ditemukan delapan mayat keluarga Tan Kio Liem serta seorang pembantunya.
Dalam waktu singkat, pasukan keamanan bisa menguasai keadaan. Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani kabarnya ikut memeriksa situasi setempat setelah lewat tengah malam.
Jumlah korban, yang pada hari Kamis tercatat sembilan orang meninggal, kabarnya bertambah. Sebuah sumber kepolisian menyebutkan, sampai Sabtu pekan lalu, korban yang meninggal tercatat 28 orang. Sementara itu, sejumlah perusuh dan tokoh yang diduga terlibat ditahan. Antara lain Abdul Kadir, Djaelani, Tony Ardie, dan Mawardi Nur.
Sejarah kemudian mencatat huru-hara di Tanjung Priok itu sebagai salah satu insiden paling kelam dalam sejarah modern Kota Jakarta. Saya penasaran, sewaktu peristiwa itu terjadi, sampean ada di mana? Sampean kira-kira sedang apa?
Posted at 6:03:36 pm by pecas ndahe
tautan tetap