"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, September 10, 2006
Cerpen Pecas Ndahe

Tahukah sampean apa cerita pendek [cerpen] tersingkat di dunia? Kalau tak tahu, sampean tak sendirian. Paklik Isnogud juga menggeleng keras ketika saya tanya, lalu misuh-misuh setelah saya tunjukkan jawabannya seperti foto di bawah ini.


[sent by mister gandrik]

Terang saja Paklik misuh-misuh karena merasa dikadali. Sebelumnya, saya tak bisa menjawab tebakannya sehingga ia tersenyum penuh kemenangan. Dia tanya begini.

"Apa sajak terpendek di dunia, Mas?"

Secara saya tak pernah baca puisi dan sajak, saya pun menjawab dengan ngawur. Dan salah semua.

"Ah, sampean payah. Sampean pasti belum pernah baca sajak Sitor Situmorang ya, Mas?"

Lagi-lagi saya menggeleng.

"Sitor pernah membuat sajak yang sangat pendek. Malam Lebaran, bulan di atas kuburan. Sudah begitu saja. Pendek, kan?"

"Lah, itu sajak atau wong nggremeng, Paklik?"

"Wah, sampean ini pancen payah kok, Mas. Itu sajak yang menggetarkan je. Karya yang maha dahsyat. Bahwa sampean ndak merasakan itu soal lain. Karena yang namanya sajak itu menyangkut soal roso. Rasa, Mas."

"Rasa? Maksudnya bagaimana itu? Kok kedengarannya ngoyo woro, ndak masuk akal sih, Paklik?"

"Begini ya Mas, dalam karya sastra, apalagi puisi, yang namanya rasa itu hadir secara rumit, halus, canggih, tersamar, tak terduga. Sebab, bahasa di situ tak melulu bekerja sebagai instrumen penyampai maksud, melainkan bisa juga bermain atau bergerak mengikuti impuls-impuls yang tak selalu terjelaskan. Kadang sebuah citraan begitu kuat dan memukau, hingga tak penting lagi apakah itu masuk akal atau tidak. Ya seperti sajak Sitor itu."

"Halah, sampean ini kok ndakik-ndakik. Saya ndak tahu Paklik. Sekarang gantian sampean yang menebak."

Karena tak mau kalah, saya pun ganti memberi tebakan pada Paklik yang akhirnya membuat dia misuh-misuh itu. Dengan senyum penuh kemenangan, saya meledeknya. "Ini soal roso, rasa, Paklik...."

"Roso gundulmu, Mas."


Posted at 8:42:19 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (6)  

Next Page