Tahukah sampean apa cerita pendek [cerpen] tersingkat di dunia? Kalau tak tahu, sampean tak sendirian. Paklik Isnogud juga menggeleng keras ketika saya tanya, lalu misuh-misuh setelah saya tunjukkan jawabannya seperti foto di bawah ini.

[sent by mister gandrik]
Terang saja Paklik misuh-misuh karena merasa dikadali. Sebelumnya, saya tak bisa menjawab tebakannya sehingga ia tersenyum penuh kemenangan. Dia tanya begini.
"Apa sajak terpendek di dunia, Mas?"
Secara saya tak pernah baca puisi dan sajak, saya pun menjawab dengan ngawur. Dan salah semua.
"Ah, sampean payah. Sampean pasti belum pernah baca sajak
Sitor Situmorang ya, Mas?"
Lagi-lagi saya menggeleng.
"Sitor pernah membuat sajak yang sangat pendek.
Malam Lebaran, bulan di atas kuburan. Sudah begitu saja. Pendek, kan?"
"Lah, itu sajak atau
wong nggremeng, Paklik?"
"Wah, sampean ini pancen payah kok, Mas. Itu sajak yang menggetarkan je. Karya yang maha dahsyat. Bahwa sampean ndak merasakan itu soal lain. Karena yang namanya sajak itu menyangkut soal
roso. Rasa, Mas."
"Rasa? Maksudnya bagaimana itu? Kok kedengarannya
ngoyo woro, ndak masuk akal sih, Paklik?"
"Begini ya Mas, dalam karya sastra, apalagi puisi, yang namanya rasa itu hadir secara rumit, halus, canggih, tersamar, tak terduga. Sebab, bahasa di situ tak melulu bekerja sebagai instrumen penyampai maksud, melainkan bisa juga bermain atau bergerak mengikuti impuls-impuls yang tak selalu terjelaskan. Kadang sebuah citraan begitu kuat dan memukau, hingga tak penting lagi apakah itu masuk akal atau tidak. Ya seperti sajak Sitor itu."
"Halah, sampean ini kok
ndakik-ndakik. Saya ndak tahu Paklik. Sekarang gantian sampean yang menebak."
Karena tak mau kalah, saya pun ganti memberi tebakan pada Paklik yang akhirnya membuat dia misuh-misuh itu. Dengan senyum penuh kemenangan, saya meledeknya. "Ini soal
roso, rasa, Paklik...."
"Roso gundulmu, Mas."
Posted at 8:42:19 am by pecas ndahe
tautan tetap