Segala sesuatu yang seragam itu menjemukan. Coba kalau semua orang menyukai irama dangdut dan lagu SMS itu. Coba kalau semua orang memakai sarung putih. Coba kalau semua lelaki gundul. Ah, untunglah dunia ini penuh warna, kerlap-kerlip seperti lampu jalanan di Jakarta.
Mungkin karena lampu jalanan itu berbeda, warna-warni, teman saya Ndoro Den Ayu yang bekerja di Istana Negara itu suka sekali jalan-jalan di malam hari menyusuri Jakarta. "I love this city light," katanya. Malam, jalanan, lampu warna-warni, lalu lintas yang sepi, itu sensasi yang menyenangkan buat Ndoro Den Ayu.
Dia bercerita, dulu waktu masih pacaran, ia sering naik mobil berdua bersama Ndoro Den Bagusnya hanya untuk melihat lampu menyala. Mereka meniti inci demi inci setiap jengkal jalanan. Lampu demi lampu. Gedung demi gedung. Sampai larut malam. Ia mengaku mendapatkan semacam ekstase, kegembiraan yang tak terkatakan hanya dengan melihat lampu-lampu berpendar, berkilau, gemerlap warna-warni.
Saya ndak terbayang seandainya lampu-lampu di Jakarta berwarna hijau semua. Atau putih semua. Masihkah Ndoro Den Ayu terpukau oleh kerlap-kerlip cahaya yang seragam? Masihkah dia mencintai "this city light"? Masihkah dia menyukai ritual wisata malamnya?
Saya jadi ingat Paklik Isnogud. Ia adalah kerlip lampu penuh warna di pabrik saya. Buruh-buruh pabrik menyukai, sebagian mengagumi Paklik, antara lain karena ia sosok, pribadi, tokoh yang berbeda. Dare to be different. Ya caranya berpakaian. Ya caranya makan. Ya caranya berbicara. Pokoknya berbeda semua.
Saya pernah bertanya, bagaimana ia bisa berbeda dari yang lain. Paklik menjawab, "Mungkin karena saya orang yang bebas."
"Maksud Paklik?"
"Pribadi-pribadi yang bebas itu menarik dan memikat karena mereka tak seragam. Mereka menampakkan personalitas, Mas. Mungkin itulah sebabnya orang berbondong datang ke pembacaan puisi Rendra. Bukan hanya karena puisinya, tapi karena personalitas itu ada di sana. Dia mungkin burung merak. Dia superstar."
"Kalau begitu, supaya kita berbeda, kita harus jadi superstar dong Paklik?"
"Mungkin juga, Mas. Sebab, bintang-bintang di langit terlalu bermiripan. Malam bisa jadi jemu. Orang banyak selalu butuh sebuah wajah yang hidup, gilang gemilang, bukan sebuah daftar nama dan angka, bukan?"
Posted at 6:57:25 pm by pecas ndahe
tautan tetap