"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, August 30, 2006
Bahu Pecas Ndahe

Benar kata mas andrianto anthronic, menyalip dari bahu jalan [apalagi menjelang tikungan] itu berbahaya. Sebab selalu ada kejutan di balik tikungan. Karena itu, mari kita dukung gerakan tidak memakai bahu jalan -- kecuali darurat.

Saya melihat kejutan di balik tikungan itu pekan lalu, sekitar pukul 22.00 WIB, di jalan tol Jagorawi. Ceritanya saya mau menjemput ibunya anak-anak di Puncak malam itu.

Jalan tol agak sepi mungkin karena bukan hari libur. Langit cerah. Tapi saya agak lelah setelah kerja seharian. Saya jalankan kendaraan dengan rileks. Yah sekitar 70 kilometer/jam, sesuai batas kecepatan yang diperbolehkan di jalan tol.

Saya sengaja ambil lajur paling kiri karena merasa tak terlalu ngebut dan untuk memberi kesempatan kalau ada mobil lain yang mau menyalip. Saya cukup tahu dirilah. Saya tahu, bila malam tiba, setan-setan jalanan pasti akan menginjak pedal gas dalam-dalam dan lari gila-gilaan seolah mau mengejar sesuatu. Mungkin mereka ingin cepat sampai rumah atau bertemu seseorang. Dan mereka itu pasti akan mengambil lajur tengah atau kanan.

Pada suatu titik di jalan tol itu, tiba-tiba ada sebuah sedan di belakang yang mengedip-ngedipkan lampu tanda minta jalan. Saya cuek saja dan hanya melirik spion. Lah wong saya jalan di lajur kiri, bagaimana mau memberinya jalan? Ndak salah kan?

Eh, mobil itu ternyata makin galak. Sopirnya membunyikan klakson keras-keras. Saya bingung. Saya tahu dia pasti mau mendahului, tapi kan saya sudah berada di lajur paling pinggir. Kenapa dia masih minta diberi kesempatan menyalip juga? Lah saya terus disuruh ambil lajur yang mana lagi? Bahu jalan? Kenapa pula dia harus sampai menghardik lewat klakson? Bukankah adab menyalip di malam hari itu cukup memakai tanda kedipan lampu jauh saja? Lagi pula, kenapa dia harus mendahului dari kiri?

Saya melirik situasi di lajur kanan lewat spion. Di kejauhan ada nyala sepasang dua pasang lampu kendaraan. Saya masih berbaik sangka, mungkin pengemudi sedan itu kesulitan menyalip dari kanan. Tapi kenapa juga dia tak sedikit sabar dengan mengurangi laju kendaraannya dan lebih suka menghardik saya dengan klaksonnya supaya minggir?

Karena merasa benar dan kesal juga, akhirnya saya putuskan tak pindah lajur dan menjaga kendaraan berjalan apa adanya. Masa bodo dengan sopir semprul itu. Apa yang terjadi saudara-saudara?

Saya tak tahu siapa idiot yang malam itu akhirnya ngotot menyalip dari kiri mobil saya. Saya sebut dia idiot karena nekat memakai bahu jalan untuk mendahului. Gila, pikir saya. Aksi koboi macam itu sangat berbahaya. Kalau ada mobil yang sedang mogok dan berhenti di pinggir bagaimana?

Benar saja. Belum selesai saya berandai-andai, sopir mobil gendeng itu menginjak rem habis-habisan. Sesaat setelah menyalip saya, pas di jalan yang agak menikung, kok ya ndilalah ada truk tronton sedang berhenti. Mungkin mogok. Untung saja sopir itu sigap dan reaksinya belum terlambat. Mobilnya masih sempat berkelit mengelakkan truk tronton itu dengan gaya bak stuntman profesional, lalu langsung ngebut lagi.

Melihat aksi nekat dalam waktu cuma beberapa detik itu saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Apakah pengemudi itu tak tahu aturan dan etika berkendaraan di jalan tol? SIM-nya nembak? Atau dia memang sengaja mau mempertaruhkan nyawanya?

Saya tak tahu. Yang jelas malam itu saya mendapatkan satu pelajaran lagi: pakailah bahu jalan kalau mau bertaruh nyawa.


Posted at 9:35:29 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (5)  

Next Page