Benar kata mas
andrianto anthronic, menyalip dari bahu jalan [apalagi menjelang tikungan] itu berbahaya. Sebab selalu ada kejutan di balik tikungan. Karena itu, mari kita dukung gerakan tidak memakai bahu jalan -- kecuali darurat.
Saya melihat kejutan di balik tikungan itu pekan lalu, sekitar pukul 22.00 WIB, di jalan tol Jagorawi. Ceritanya saya mau menjemput ibunya anak-anak di Puncak malam itu.
Jalan tol agak sepi mungkin karena bukan hari libur.
Langit cerah. Tapi saya agak lelah setelah kerja seharian. Saya
jalankan kendaraan dengan rileks. Yah sekitar 70 kilometer/jam, sesuai
batas kecepatan yang diperbolehkan di jalan tol.
Saya
sengaja ambil lajur paling kiri karena merasa tak terlalu ngebut dan
untuk memberi kesempatan kalau ada mobil lain yang mau menyalip. Saya
cukup tahu dirilah. Saya tahu, bila malam tiba, setan-setan jalanan
pasti akan menginjak pedal gas dalam-dalam dan lari gila-gilaan seolah
mau mengejar sesuatu. Mungkin mereka ingin cepat sampai rumah atau
bertemu seseorang. Dan mereka itu pasti akan mengambil lajur tengah
atau kanan.
Pada suatu titik di jalan tol itu, tiba-tiba ada sebuah
sedan di belakang yang mengedip-ngedipkan lampu tanda minta jalan. Saya cuek saja dan hanya melirik spion. Lah wong saya jalan di lajur
kiri, bagaimana mau memberinya jalan? Ndak salah kan?
Eh, mobil itu ternyata
makin galak. Sopirnya membunyikan klakson keras-keras. Saya bingung.
Saya tahu dia pasti mau mendahului, tapi kan saya sudah berada di lajur
paling pinggir. Kenapa dia masih minta diberi kesempatan menyalip juga?
Lah saya terus disuruh ambil lajur yang mana lagi? Bahu jalan? Kenapa
pula dia harus sampai menghardik lewat klakson? Bukankah adab menyalip
di malam hari itu cukup memakai tanda kedipan lampu jauh saja? Lagi
pula, kenapa dia harus mendahului dari kiri?
Saya melirik
situasi di lajur kanan lewat spion. Di kejauhan ada nyala sepasang dua
pasang lampu kendaraan. Saya masih berbaik sangka, mungkin pengemudi
sedan itu kesulitan menyalip dari kanan. Tapi kenapa juga dia tak
sedikit sabar dengan mengurangi laju kendaraannya dan lebih suka
menghardik saya dengan klaksonnya supaya minggir?
Karena
merasa benar dan kesal juga, akhirnya saya putuskan tak pindah lajur
dan menjaga kendaraan berjalan apa adanya. Masa bodo dengan sopir
semprul itu. Apa yang terjadi saudara-saudara?
Saya tak tahu
siapa idiot yang malam itu akhirnya ngotot menyalip dari kiri mobil
saya. Saya sebut dia idiot karena nekat memakai bahu jalan untuk
mendahului. Gila, pikir saya. Aksi koboi macam itu sangat berbahaya.
Kalau ada mobil yang sedang mogok dan berhenti di pinggir bagaimana?
Benar
saja. Belum selesai saya berandai-andai, sopir mobil gendeng itu
menginjak rem habis-habisan. Sesaat setelah menyalip saya, pas di jalan
yang agak menikung, kok ya ndilalah ada truk tronton sedang berhenti. Mungkin mogok.
Untung saja sopir itu sigap dan reaksinya belum terlambat. Mobilnya masih sempat
berkelit mengelakkan truk tronton itu dengan gaya bak
stuntman profesional, lalu langsung ngebut lagi.
Melihat
aksi nekat dalam waktu cuma beberapa detik itu saya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Apakah pengemudi itu tak tahu aturan dan etika berkendaraan di jalan
tol? SIM-nya nembak? Atau dia memang sengaja mau mempertaruhkan
nyawanya?
Saya tak tahu. Yang jelas malam itu saya mendapatkan satu
pelajaran lagi: pakailah bahu jalan kalau mau bertaruh nyawa.
Posted at 9:35:29 pm by pecas ndahe
tautan tetap