Klakson ternyata bukan cuma aksesori kendaraan. Ia juga semacam alat "penyambung lidah" pengemudinya. Semacam pentungan atau senapan bagi polisi. Buat saya, klakson itu juga alat membentak orang lain.
Saya sampai pada kesimpulan itu setelah dihardik orang di Jalan Panjang, persisnya di lampu merah perempatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pukul 23.00 WIB, Senin. Lampu menyala merah tanda berhenti. Saya berada di posisi antrean ketiga pada lajur paling kiri dari tiga lajur yang ada.
Hanya sempat berhenti beberapa detik, lampu berubah hijau. Dua mobil di depan saya beringsut malas. Maklum, hari sudah larut. Para pengemudi mungkin sudah lelah setelah bekerja seharian dan mulai mengantuk.
Saya pun mulai memindahkan persneling ke gigi satu dan menginjak gas perlahan. Mendadak, mobil Panther warna gelap di belakang saya membunyikan klaksonnya berkali-kali. Tentu saja saya kaget karena tak menduga bakal dihardik sedemikian galak oleh seorang pengemudi di malam hari. Saya tak tahu mengapa dia begitu tak sabar. Mungkinkah karena dia sedang terburu-buru? Ada sesuatu yang mendesak dan darurat? Genting?
Saya tak tahu. Yang jelas saya merasa terganggu, tapi cuma bisa mengumpat dalam hati. Munyuk! Semprul. Sontoloyo.
Ah, beginikah adab berlalu lintas zaman sekarang? Ke mana etika dan sopan santun di jalan raya. Malam hari, jalanan sepi. Kenapa harus membunyikan klakson berkali-kali untuk membuat mobil di depan menekan gas? Mengapa ia tak memberi kode dengan menyalakan lampu jauh saja? Toh ini sudah malam dan saya bukan idiot yang tak mengenal kode.
Orang Jakarta mungkin sudah terlalu sibuk dan selalu dalam keadaan bergegas. Setiap detik adalah sekian rupiah. Waktu adalah uang. Buat orang Jakarta, mungkin pantang jalan pelan-pelan. Kalau ada yang menghambat di depan, segera hardik dengan klakson. Tak peduli malam dan jalanan sepi.
Tadi malam saya mendapat pelajaran berharga: klakson itu simbol waktu adalah uang.
Posted at 12:04:22 pm by pecas ndahe
tautan tetap