"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, August 21, 2006
Anak Muda Pecas Ndahe

Seorang kawan yang umurnya masih belia bercerita tentang rasa kecewa dan marahnya pada sang orang tua. Ia lalu memberontak dan kabur dari rumah. Ah, kenapa anak muda gampang naik darah? Saya membayangkan, 15 tahun lagi anak-anak saya mungkin akan begitu juga.

Didera rasa penasaran, juga hati yang resah, saya pun mencari tahu kepada siapa lagi kalau bukan pada Paklik Isnogud. Saya mau menanyakan pendapatnya tentang anak-anak muda zaman sekarang, juga kemarahan dan keresahan mereka itu. Ke mana gerangankah dia?

Saya menemukan Paklik Isnogud di tempat biasa, warung kupi depan pabrik. Seperti biasa, Paklik duduk di pojok menikmati kupi hitam dan rokok lintingannya. Begitu melihat saya dari jauh, ia langsung melambaikan tangannya, meminta saya mendekat.

"Sini, Mas. Monggo. Silaken duduk sini dekat saya. Ada apa kok kelihatannya wajah sampean kisruh?"

"Ndak ada apa-apa, Paklik." Saya tersenyum, lalu mengambil teh [dalam] botol. "Saya cuma mau nanya sedikit saja, Paklik."

"Takon opo? Mau tanya apa? Apa yang mengganggu pikiran sampean? Duit?"

"Iya, eh, bukan Paklik, hehehe..... Ini lo, soal anak-anak muda."

"Anak muda? Lah kok tanya saya? Saya kan ndak muda lagi, Mas."

"Justru itu Paklik. Karena Paklik saya anggap sudah tidak muda lagi, sudah lebih usianya, saya justru mau bertanya ke sampean."

"Kok aneh, mosok sampean tanya soal anak muda ke saya. Apa ndak salah alamat, Mas?"

"Ya ndak Paklik. Begini lo, saya ini kok merasa anak-anak muda zaman sekarang itu kok ya masih ada yang berantem dengan orang tuanya. Ndak betah tinggal bersama orang tuanya. Ndak suka tinggal di rumah. Memang sih, ada juga anak muda yang ndak seperti itu, ndak semua anak muda melawan orang tua. Tapi kok saya merasa jumlahnya seimbang. Kenapa Paklik?"

Saya lalu bercerita tentang seorang kawan yang masih belia usianya itu.

"Lah ndak aneh to, Mas. Namanya juga anak muda. Anak muda itu dari dulu ya memang begitu. Kalau ndak begitu, namanya bukan anak muda. Sejak era Siti Nurbaya, lalu Ali Topan, dan sekarang apa lagi, anak muda itu selalu konflik dengan orang tuanya. Anak-anak maunya begini, orang tua maunya begitu. Ndak pernah ketemu. Sudah jamak itu. Kenapa sampean tanya lagi?"

"Saya cuma heran saja, kenapa orang tua jarang seperti itu, Paklik?"

"Ah, ini sama saja dengan pertanyaan mengapa orang tua punya kelebihan?"

"Maksud  Paklik?"

"Begini, Mas." Paklik merebahkan punggungnya ke bangku bambu. Kakinya diselonjorkan. Saya tahu, Paklik pasti mau memulai kuliah panjang.

Orang-orang yang sudah sepuh itu ya Mas, kebanyakan punya kelebihan karena mereka punya kesalahan yang kita tak punya.

Time is a kind friend, seorang penyair perempuan yang sedih menulis, it makes us old.

Orang bilang bahwa hanya yang pernah bercita-cita, tapi kemudian khilaf, hanya yang pernah bergelora, tapi kemudian redup -- hanya mereka ini yang tahu betapa benarnya penyair itu, dalam kesedihan dan kearifannya waktu adalah teman yang baik. Ia membikin kita tua.

Ia membikin sederet nama jadi sejarah. Ia membikin serangkai gelombang menjadi mandek. Ia membikin arus deras menjadi reda. Seperti kata Konfusius, Kong Hu Cu, Mas, "Orang tak dapat melihat bayangan dirinya di dalam air yang mengalir, tapi ia dapat melihatnya pada air yang diam."

Orang tua memang punya kelebihan karena mereka adalah air yang diam.

Jika kau cermat memandang ke dalamnya, kata orang, kau akan melihat dirimu lengkap. Kau akan melihat dirimu dalam perbandingan. Di air itu pengalaman telah membuang sauh, dan jauh di dasar terkandung simpanan kenangan. Terutama kenangan tentang kesalahan.

Dan itulah sejarah. Sebab apakah sebenarnya sejarah kalau bukan impian yang tak sepenuhnya terlaksana -- suatu kronologi tentang kekeliruan?

Tapi jangan terlampau marah terhadap kesalahan. Kata orang pula, kesalahan mungkin hanya satu tahap dalam mencari kebenaran. Anak pun bisa berjalan setelah ia pernah jatuh.

Setiap kali, pada dasarnya yang terjadi adalah ikhtiar perbaikan. Kini kita mengeluh tentang "mahalnya harga bensin" dan hilangnya semangat "kebangsaan". Tapi sekitar 10 tahun yang lalu, di masa Orde Baru masih berjaya, kita mengeluh tentang demokrasi, kemerdekaan bersuara yang ditindas, dan korupsi yang memamerkan foya-foya dan wanita.

Kita tak mudah melihat bahwa masa itu sendiri sebenarnya mengandung harapan besar. Keamanan mulai baik, orang dapat berjalan dari Banda Aceh ke Medan tanpa takut diserang Gerakan Aceh Merdeka dan di desa-desa orang tetap tidur dengan nyenyak. Sebagaimana pun kita kini sering tak mudah melihat bahwa masa kini punya hal-hal yang layak disyukuri, dalam perbandingan.

Barangkali kita belum akan bisa melihat perspektif itu sekarang. Barangkali kita harus menunggu 15 tahun lagi untuk menerima keluhan baru, kekecewaan lain, dan kesalahan yang berbeda.

Kalau sampean ndak percaya, ya tunggu 15 tahun lagi, Mas!

Lalu pengalaman akan tambah mengajarkan bahwa sejarah modern kita memang tak terlalu gemilang, tapi upaya yang baik mungkin lebih banyak ketimbang jumlah kegagalan. Orang boleh saja mengutuk upaya-upaya itu sebagai "penyelewengan". Tapi mereka lupa bahwa kita memang harus terus mencari bagaimana sebaiknya "jadi merdeka" ini.

Sebab itulah barangkali setiap generasi suatu saat dalam hidupnya merasa perlu mengadakan rekonsiliasi dengan masa silam dan masa depannya. Rekonsiliasi itu adalah untuk melihat kesalahan sebagai sesuatu yang tidak mutlak dengan lebih sabar.

Coba saja sampean ingat-ingat, Mas. Orde Baru yang lahir di Indonesia pada 1966 adalah satu cita-cita yang ingin "mengoreksi" Orde Lama. Orde Lama itu sendiri, dengan "demokrasi terpimpin", ingin "mengoreksi" keadaan demokrasi parlementer sebelumnya. Dan demokrasi parlementer itu juga suatu usaha "mengoreksi" apa yang ada.

Baik buruknya sebuah sistem, benar atau salahnya sebuah ide, sukses atau gagalnya sebuah cara pemerintahan, semua itu juga proses -- bukan kategori-kategori theologis.

Rasa jijik -- atau rasa marah -- tentu saja wajar. Namun, kemarahan juga proses. Time is a kind friend....  Lalu kita perlu melihat ke air yang diam.

Di sanalah kita akan tahu kenapa orang tua punya kelebihan.

"Begitulah, Mas. Moga-moga sampean jadi lebih bisa memahami anak-anak muda kita." Paklik mengakhiri kuliah panjangnya dengan ringan.

[untuk T, perempuan yang gelisah itu... ]


Posted at 7:11:39 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (5)  

Next Page