Orang Jepang mungkin memang manusia aneh. Lah mosok semua gunung dinamai Fuji. Terus mereka juga percaya bunuh diri di puncak gunung itu jalan paling indah mencapai nirwana. Top banget, ya?
Saya mendapatkan cerita itu dari -- bukan Paklik Isnogud atau Kang Mbilung -- seorang kawan sesama buruh pabrik yang kebetulan tinggal di Tokyo. Mas Abel, kawan saya itu, beristri orang Jepang asli. Cerita itu dia kirimkan lewat surel, surat elektronik, dan masuk ke inbox tadi malam. Saya mau membagikan cerita Mas Abel kepada sampean karena kebetulan ada nuansa 17 Agustusan dan sejarah kemerdekaan Republik Endonesyah. Begini kisah Mas Abel.
Saya punya tetangga. Namanya Ishigami-san,
seorang veteran perang. Usianya 86 tahun. Dia memang sudah agak
pikun, tapi jika ditanya tentang pengalamannya bertugas di Indonesia selama
masa Perang Dunia II, ia jadi sangat antusias dan sentimentil. Ishigami-san
bahkan cukup hafal Indonesia Raya.
Hah, Indonesia Raya? Secara Pak Ishigami Itu sudah puluhan tahun meninggalkan Endonesyah, kok ya masih ingat gitu loh. Coba, berapa di antara kita yang juga hafal lagu kebangsaan Jepang? Saya saja bahkan tak tahu apa judulnya.
Ah, sudahlah. Saya meneruskan membaca surat dari Mas Abel itu.
Nah, beberapa hari yang lalu, Ishigami-san mendadak mampir ke tempat tinggalku dengan
membawa beberapa lembar foto hitam-putih lawas yang mulai menguning, plus
selembar salinan stambul Terang Bulan. Ia bernostalgia. Matanya
berkaca-kaca.
Pada selembar
foto yang ia tunjukkan itu tampak sekelompok tentara berkuda berbaris rapi di
sebuah lapangan, dengan membelakangi gunung "Sumatora Fuji". Orang Jepang melafalkan "Sumatera" dengan
"Sumatora", huruf "e" diganti "o". Gunung ini
jelas tak ada dalam peta Indonesia maupun peta dunia, kecuali dalam memori
Ishigami-san.
Gunung Sumatera
Fuji yang dimaksud Ishigami-san tak lain adalah Gunung Sibayak (2.094
meter), gunung tertinggi kedua di Sumatera Utara setelah Gunung Sinabung (2.460
meter). Ishigami-san memang pernah tiga bulan bertugas di Kabanjahe, ibu
kota Kabupaten Tanah Karo.
Memandang "Sumatera Fuji" dari kejauhan, bagi Ishigami-san, seakan melihat lanskap
Jepang. Ishigami-san menunjuk semburat putih di puncak Sibayak. Dulu, ia
dan teman-temannya menyangka itu lapisan salju. Padahal, itu hanyalah lelehan
material vulkanik yang keluar dari lubang kepundan.
Cerita itu
menggambarkan betapa orang Jepang sangat fanatik pada Gunung Fuji (3.776 meter).
Gunung Fuji bersinonim dengan Fujiyama. Tapi, orang Jepang selalu menyebut
Gunung Fuji dengan Fujisan. Menurut kamusnya, arti Fujiyama dan Fujisan setara.
Kasta berbahasalah yang membedakan penyebutan itu. Sebutan Fujisan lebih kromo,
sebutan Fujiyama ngoko.
Mungkin saking
tergila-gilanya pada Fujisan asli, ada sekitar 314 gunung di Jepang yang
juga diberi nama Fuji. Tentu saja Fujisan gadungan ini kalah tinggi, kalah pamor. Lha,
salah satu gunung yang terdekat dengan Fujisan asli tingginya hanya 183 meter,
tapi penduduk di sekitarnya tetap menyebutnya "Fujisan".
Fujisan dianggap
gunung suci. Dulu, pendakian ke Gunung Fuji selalu dihubungkan dengan
peribadatan. Fujisan sudah menjadi obyek pemujaan sejak berabad silam yang
banyak diabadikan dalam lukisan dan syair kuno. Tapi, sekarang, kebanyakan
orang mendaki Fujisan cuma untuk jalan-jalan.
Bagi orang yang
sudah bosan hidup, Fujisan adalah tempat paling tepat untuk menghabisi nyawa
sendiri. Konon, bunuh diri di Fujisan dan sekitarnya, merupakan cara paling
indah untuk mencapai nirwana.
Hm, cerita yang menarik, saya membatin. Orang Jepang memang manusia yang aneh. Sampean setuju ndak?
Posted at 9:37:28 am by pecas ndahe
tautan tetap