"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, August 18, 2006
Fuji Pecas Ndahe

Orang Jepang mungkin memang manusia aneh. Lah mosok semua gunung dinamai Fuji. Terus mereka juga percaya bunuh diri di puncak gunung itu jalan paling indah mencapai nirwana. Top banget, ya?

Saya mendapatkan cerita itu dari -- bukan Paklik Isnogud atau Kang Mbilung -- seorang kawan sesama buruh pabrik yang kebetulan tinggal di Tokyo. Mas Abel, kawan saya itu, beristri orang Jepang asli. Cerita itu dia kirimkan lewat surel, surat elektronik, dan masuk ke inbox tadi malam. Saya mau membagikan cerita Mas Abel kepada sampean karena kebetulan ada nuansa 17 Agustusan dan sejarah kemerdekaan Republik Endonesyah. Begini kisah Mas Abel.

Saya punya tetangga. Namanya Ishigami-san, seorang veteran perang. Usianya 86 tahun. Dia memang sudah agak pikun, tapi jika ditanya tentang pengalamannya bertugas di Indonesia selama masa Perang Dunia II, ia jadi sangat antusias dan sentimentil. Ishigami-san bahkan cukup hafal Indonesia Raya.

Hah, Indonesia Raya? Secara Pak Ishigami Itu sudah puluhan tahun meninggalkan Endonesyah, kok ya masih ingat gitu loh. Coba, berapa di antara kita yang juga hafal lagu kebangsaan Jepang? Saya saja bahkan tak tahu apa judulnya.

Ah, sudahlah. Saya meneruskan membaca surat dari Mas Abel itu.
 

Nah, beberapa hari yang lalu, Ishigami-san mendadak mampir ke tempat tinggalku dengan membawa beberapa lembar foto hitam-putih lawas yang mulai menguning, plus selembar salinan stambul Terang Bulan. Ia bernostalgia. Matanya berkaca-kaca.

Pada selembar foto yang ia tunjukkan itu tampak sekelompok tentara berkuda berbaris rapi di sebuah lapangan, dengan membelakangi gunung "Sumatora Fuji". Orang Jepang melafalkan "Sumatera" dengan "Sumatora", huruf "e" diganti "o". Gunung ini jelas tak ada dalam peta Indonesia maupun peta dunia, kecuali dalam memori Ishigami-san.

Gunung Sumatera Fuji yang dimaksud Ishigami-san tak lain adalah Gunung Sibayak (2.094 meter), gunung tertinggi kedua di Sumatera Utara setelah Gunung Sinabung (2.460 meter). Ishigami-san memang pernah tiga bulan bertugas di Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Tanah Karo. 

Memandang "Sumatera Fuji" dari kejauhan, bagi Ishigami-san, seakan melihat lanskap Jepang. Ishigami-san menunjuk semburat putih di puncak Sibayak. Dulu, ia dan teman-temannya menyangka itu lapisan salju. Padahal, itu hanyalah lelehan material vulkanik yang keluar dari lubang kepundan. 

Cerita itu menggambarkan betapa orang Jepang sangat fanatik pada Gunung Fuji (3.776 meter). Gunung Fuji bersinonim dengan Fujiyama. Tapi, orang Jepang selalu menyebut Gunung Fuji dengan Fujisan. Menurut kamusnya, arti Fujiyama dan Fujisan setara. Kasta berbahasalah yang membedakan penyebutan itu. Sebutan Fujisan lebih kromo, sebutan Fujiyama ngoko. 

Mungkin saking tergila-gilanya pada Fujisan asli, ada sekitar 314 gunung di Jepang yang juga diberi nama Fuji. Tentu saja Fujisan gadungan ini kalah tinggi, kalah pamor. Lha, salah satu gunung yang terdekat dengan Fujisan asli tingginya hanya 183 meter, tapi penduduk di sekitarnya tetap menyebutnya "Fujisan".  

Fujisan dianggap gunung suci. Dulu, pendakian ke Gunung Fuji selalu dihubungkan dengan peribadatan. Fujisan sudah menjadi obyek pemujaan sejak berabad silam yang banyak diabadikan dalam lukisan dan syair kuno. Tapi, sekarang, kebanyakan orang mendaki Fujisan cuma untuk jalan-jalan.

Bagi orang yang sudah bosan hidup, Fujisan adalah tempat paling tepat untuk menghabisi nyawa sendiri. Konon, bunuh diri di Fujisan dan sekitarnya, merupakan cara paling indah untuk mencapai nirwana.

Hm, cerita yang menarik, saya membatin. Orang Jepang memang manusia yang aneh. Sampean setuju ndak?


Posted at 9:37:28 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (6)  

Next Page