"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, August 16, 2006
Roestam Pecas Ndahe

Menjelang perayaan 17 Agustusan, Paklik Isnogud mengajak saya mengenang sastrawan Roestam Effendi malam ini. "Sampean apa masih ingat dia, Mas? Baiklah saya segarkan ingatkan sampean."

Ah, Paklik tahu benar saya pasti akan menjawab tidak. Karena itu, tanpa menunggu jawaban saya, Paklik langsung bercerita.

"Roestam Effendi itu sastrawan angkatan Pujangga Baru. Ia pernah menulis drama bersajak Bebasari pada awal 1920-an.

Tahun-tahun ketika Bebasari ditulis adalah tahun-tahun radikal. Menjelang Roestam berumur 17 tahun, Hindia Belanda resah. Di Toli-toli, Sulawesi Tengah, terjadi letusan ketidak-puasan rakyat. Beberapa pangreh praja dan seorang Belanda tewas. Di tahun yang sama, Juli 1919, Haji Hasan di Garut, Jawa Barat, menolak memberikan padinya ke pemerintah kolonial, dan ia terbunuh diserbu pasukan.

Roestam Effendi, sampean mungkin mulai ingat Mas, lalu masuk partai komunis. Ia berangkat ke Belanda dan jadi anggota parlemen. Konon dia meninggalkan lapangan sastra di Indonesia karena ingin memperjuangkan kemerdekaan nasional secara langsung dan nyata di lapangan politik. Ia tak percaya lagi sepenuhnya kepada kekuatan kata-kata agaknya.

Pada 1946 ia pulang ke Indonesia, tak lagi komunis, tak lagi menulis. Tapi puisinya telah menghidupkan kekuatan liris bahasa Indonesia yang tak bisa diam:

Malam lah sunyi, lah sunyi senyap
Embun kan jatuh, kan jatuh lembab
Lampu lah mati, lah kelip kelap
Pena lah penat, lah banyak sesat

Begitulah Mas, sekilas tentang kawan kita Mas Roestam itu. Malam ini, mari kita mengenang dia dan karya-karyanya."

"Sebentar Paklik. Kenapa sampean mengajak saya mengenang Pak Roestam itu? Apa hubungannya dengan 17 Agustusan, sih?"

"Sebetulnya ndak ada yang istimewa Mas. Saya cuma mau mengingatkan pada sampean bahwa republik ini bukan hanya dibangun oleh para pahlawan yang mengangkat senjata. Bukan, Mas. Republik ini juga ditatah oleh para penyair yang mengangkat pena, seperti Mas Roestam. Pondasinya juga disusun oleh orang-orang biasa seperti sampean, saya, dan kere-kere di pinggir jalan itu. Betapapun kecilnya peran mereka."

Saya terdiam sambil merenungkan kata-kata Paklik. Apa sampean setuju pendapat Paklik?


Posted at 7:59:59 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (1)  

Next Page