Menjelang perayaan 17 Agustusan, Paklik Isnogud mengajak saya mengenang sastrawan Roestam Effendi malam ini. "Sampean apa masih ingat dia, Mas? Baiklah saya segarkan ingatkan sampean."

Ah, Paklik tahu benar saya pasti akan menjawab tidak. Karena itu, tanpa menunggu jawaban saya, Paklik langsung bercerita.
"Roestam Effendi itu sastrawan angkatan
Pujangga Baru. Ia pernah menulis drama bersajak
Bebasari pada awal 1920-an.
Tahun-tahun ketika
Bebasari ditulis adalah tahun-tahun radikal. Menjelang Roestam berumur 17 tahun, Hindia Belanda resah. Di Toli-toli, Sulawesi Tengah, terjadi letusan ketidak-puasan rakyat. Beberapa pangreh praja dan seorang Belanda tewas. Di tahun yang sama, Juli 1919, Haji Hasan di Garut, Jawa Barat, menolak memberikan padinya ke pemerintah kolonial, dan ia terbunuh diserbu pasukan.
Roestam Effendi, sampean mungkin mulai ingat Mas, lalu masuk partai komunis. Ia berangkat ke Belanda dan jadi anggota parlemen. Konon dia meninggalkan lapangan sastra di Indonesia karena ingin memperjuangkan kemerdekaan nasional secara langsung dan nyata di lapangan politik. Ia tak percaya lagi sepenuhnya kepada kekuatan kata-kata agaknya.
Pada 1946 ia pulang ke Indonesia, tak lagi komunis, tak lagi menulis. Tapi puisinya telah menghidupkan kekuatan liris bahasa Indonesia yang tak bisa diam:
Malam lah sunyi, lah sunyi senyap Embun kan jatuh, kan jatuh lembabLampu lah mati, lah kelip kelap Pena lah penat, lah banyak sesatBegitulah Mas, sekilas tentang kawan kita Mas Roestam itu. Malam ini, mari kita mengenang dia dan karya-karyanya."
"Sebentar Paklik. Kenapa sampean mengajak saya mengenang Pak Roestam itu? Apa hubungannya dengan 17 Agustusan, sih?"
"Sebetulnya ndak ada yang istimewa Mas. Saya cuma mau mengingatkan pada sampean bahwa republik ini bukan hanya dibangun oleh para pahlawan yang mengangkat senjata. Bukan, Mas. Republik ini juga ditatah oleh para penyair yang mengangkat pena, seperti Mas Roestam. Pondasinya juga disusun oleh orang-orang biasa seperti sampean, saya, dan kere-kere di pinggir jalan itu. Betapapun kecilnya peran mereka."
Saya terdiam sambil merenungkan kata-kata Paklik. Apa sampean setuju pendapat Paklik?
Posted at 7:59:59 pm by pecas ndahe
tautan tetap