Yang penting memang bukan pahlawan-pahlawan. Lebih penting dari itu adalah perbuatan kepahlawanan. Sebab, yang membentuk sejarah bukanlah orang-orang besar, melainkan tindakan-tindakan besar -- dan itu tak terjadi setiap hari.

Celakanya, para pengarang kitab sejarah dan para ilustratornya ternyata sangat pandai memilih adegan. Napoleon membawa panji. Diponegoro berjubah putih di kelam perang. Mao Zedong bersinar bak matahari dari Yenan.
Tapi kita jarang diberi tahu tentang Napoleon yang sakit ambeien, Diponegoro yang menganggap diri Arjuna (walaupun tubuhnya gempal), dan Mao Zedong yang suatu hari memuji mumi orang yang jadi musuh utamanya, Chiang Khai-sek.
Kita mungkin lebih membutuhkan seorang pemimpin karena tak selamanya kita dapat memproduksikan seorang pahlawan besar. Pemimpin lebih gampang kita dapatkan karena tak selamanya mereka harus lahir dari guncangan sejarah.
Sebagian besar pemimpin yang pernah ada di dunia justru muncul bukan dari situasi krisis. Mereka naik atau dipilih dalam suatu suasana biasa-biasa saja, dan mungkin agak hambar. Tanpa revolusi, tanpa kup, tanpa peristiwa dramatis.
Jadi, masihkah kita memerlukan pahlawan?
Posted at 9:03:25 am by pecas ndahe
tautan tetap