"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, August 15, 2006
Pahlawan Pecas Ndahe

Yang penting memang bukan pahlawan-pahlawan. Lebih penting dari itu adalah perbuatan kepahlawanan. Sebab, yang membentuk sejarah bukanlah orang-orang besar, melainkan tindakan-tindakan besar -- dan itu tak terjadi setiap hari.

Celakanya, para pengarang kitab sejarah dan para ilustratornya ternyata sangat pandai memilih adegan. Napoleon membawa panji. Diponegoro berjubah putih di kelam perang. Mao Zedong bersinar bak matahari dari Yenan.

Tapi kita jarang diberi tahu tentang Napoleon yang sakit ambeien, Diponegoro yang menganggap diri Arjuna (walaupun tubuhnya gempal), dan Mao Zedong yang suatu hari memuji mumi orang yang jadi musuh utamanya, Chiang Khai-sek.

Kita mungkin lebih membutuhkan seorang pemimpin karena tak selamanya kita dapat memproduksikan seorang pahlawan besar. Pemimpin lebih gampang kita dapatkan karena tak selamanya mereka harus lahir dari guncangan sejarah.

Sebagian besar pemimpin yang pernah ada di dunia justru muncul bukan dari situasi krisis. Mereka naik atau dipilih dalam suatu suasana biasa-biasa saja, dan mungkin agak hambar. Tanpa revolusi, tanpa kup, tanpa peristiwa dramatis.

Jadi, masihkah kita memerlukan pahlawan?


Posted at 9:03:25 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (1)  

Next Page