Kalau merdeka itu nikmat, mengapa kita tak merasakannya lagi setelah perjuangan meraihnya selesai? Kenapa setelah merdeka, kenikmatan yang pernah ada ketika kita berusaha mendapatkannya malah hilang, dan orang justru cemas? Ketika saya mencari jawabnya kepada Paklik Isnogud, seperti biasa ia cuma tersenyum.
Dengan tutur yang lembut, kalimat lancar, dan diksi yang terpilih betul, Paklik lalu mengajak saya duduk dan ngobrol. "Begini Mas. Pernah ada
masanya orang mencoba menjawab pertanyaan itu dengan sebuah dongeng."
"Dongeng?"
"Ya, dongeng. Syahdan ada seorang anak raja berburu ke hutan. Ia tersesat, kelaparan. Ia tiba di sebuah pondok petani miskin. Di pondok itu ibu tani menolongnya, dan menyajikan makanan yang ada padanya sehari-hari -- karena ia tak tahu bahwa tamunya adalah anak raja. Ternyata pangeran itu suka masakan ibu tani. Sang pangeran merasa betapa nikmatnya santapan itu.
Kemudian, setelah ia berhasil kembali ke istana, dan beristirahat beberapa hari, ia pun memesan hidangan gaya petani yang pernah dicicipinya dulu. Makanan itu dihadapkan, tapi sang pangeran tak mendapatkan rasa lezat yang dicari.
Kenikmatan, dengan kata lain, tak datang pada orang yang kenyang. Ada sesuatu yang hilang daripadanya, sebagaimana ada sesuatu yang indah dalam hidup seadanya. Petani di pondok dekat hutan itu berbahagia, lebih dari sang pengeran, karena ia tak mencari-cari."
"Moral ceritanya apa itu, Paklik?"
"Kenikmatan itu tak bisa dicari, Mas. Kenikmatan itu justru datang dengan sendirinya ketika kita menjalani sesuatu. Ngelmu itu kelakone kanti laku."
"Wah, saya ndak paham, Paklik."
Lagi-lagi Paklik tersenyum. Dengan suara yang sareh, ia bilang, "Ya sudah, Mas. Ndak usah dipahami. Jalani saya hidup ini, hidup sampean. Rasakan. Nanti sampean pasti bisa juga mendapatkan kenikmatan itu."
"O gitu. Dalem itu artinya, Paklik."
"Dalem? Kok koyo sumur, Mas."
"Hehehe.... Ya sudah, Paklik. Matur nuwun. Saya ndak tanya lagi deh."
"Sama-sama, Mas."
Posted at 5:54:10 am by pecas ndahe
tautan tetap