Apa gunanya kemerdekaan
bila para budak yang hidup ini hari
akan jadi tiran di hari esok?
Saya baca kalimat itu di dinding di sebelah meja Paklik Isnogud. Saya ingat, pertanyaan itu pernah diucapkan Padri Florentino, salah satu tokoh dalam novel El Filibusterismo yang ditulis Jose Rizal pada 1891.
"Seluruh kisah di novel itu, Mas, konon, menyiratkan api yang sudah membayang dalam sekam: Rizal, yang kemudian jadi pahlawan Filipina, telah memutuskan untuk memilih jalan pembebasan dari Spanyol," kata Paklik tiba-tiba seolah-olah bisa membaca pikiran saya.
Saya terdiam. Paklik meneruskan kata-katanya.
"Mungkin sampean perlu tahu juga Mas, pada saat yang sama Rizal sebetulnya juga ragu, apakah jadinya Filipina kelak, setelah orang-orang Spanyol ditendang dengan keras dan orang bumiputra memerintah sehabis revolusi selesai membantai.
Kemerdekaan kadang memang mencemaskan.
Selalu memang ada alasan untuk cemas bahwa kemerdekaan bisa jadi demikian abstrak dan luas, hingga bisa berlaku bagi orang yang tersinting sekalipun.
Kebebasan memang mengandung hal-hal yang mencemaskan. Tapi justru karena itu ia memikat banyak orang. Kemerdekaan, dengan demikian, adalah semacam sensasi.
Mungkin itulah sebabnya kita harus meninjau kemerdekaan dengan cara lain. Kemerdekaan bukanlah semacam ruangan, dengan ukuran pasti dan mutlak dan kita bisa dengan mudah berkata, bahwa kurang dari itu berarti penindasan dan lebih dari itu adalah anarki. Kemerdekaan mungkin perlu dilihat sebagai sesuatu yang
terletak dalam situasi yang dinamis."
Saya tetap diam. Paklik Isnogud pergi, entah ke mana.....Mungkin dia mencari kemerdekaannya sendiri.
Posted at 7:45:43 am by pecas ndahe
tautan tetap