Paklik Isnogud pulang ke pabrik menjelang senja, persis burung yang masuk kandang setelah seharian lelah mencari makan. Parasnya kuyu. Bajunya kuyup. Saya sudah tak sabar bertanya, siapa nining itu?
Tapi saya terpaksa menahan rasa penasaran dan keinginan bertanya. Rasanya kok ndak enak hati saya memberondongnya dengan belasan pertanyaan tanpa memberi Paklik kesempatan meneguk segelas air dingin. Kasihan juga melihat di usianya yang tak muda lagi Paklik masih begitu keras bekerja tanpa pernah mengeluh. Ndak tega saya.
Eh, lah kok malah Pakliklah yang tiba-tiba berseru kegirangan begitu kami bertemu. "Wah, ini dia yang dicari-cari. Tadi pagi saya cari-cari sampean, Mas," kata Paklik. Wajahnya mendadak berseri-seri.
"Nah, itu juga yang mau saya tanyakan Paklik. Secara saya tadi melihat pesan yang sampean tulis di kertas kecil kuning itu. Saya kan jadi penasaran. Memangnya Nining itu siapa? Kok saya disuruh telepon itu loh?"
"Lah itu, Mas. Tadi itu sebelum saya berangkat, tiba-tiba telepon buat sampean. Yang telepon laki-laki. Tapi kok katanya dari Mbak Nining. Dia bilang sampean mau disuruh apa gitu. Karena buru-buru, saya ndak sempat nanya macem-macem. Saya cuma dengar dia bilang soal nining-nining gitu. Aku ora mudeng maksudnya, Mas."
"Yang telepon itu namanya siapa?"
"Kalau tak salah dengar namanya Mas Bagus atau Mas Bagas gitu lo."
"Mas Bagus? Lah kalau bener yang telepon itu namanya Mas Bagus, dia kan kawan kita yang kerja di bagian data mining. Itu tuh yang ngurusin semua tetek bengek soal data pabrik kita. Lah terus nining itu siapa?"
"Oalah. Yang telepon mungkin ya memang Mas Bagus dari data mining itu, Mas. Mungkin saya salah dengar. Lah wong buru-buru je, ya mungkin saja salah to, Mas. Dia bilang mining, saya dengarnya nining. Ya nuwun sewu, minta maap, Mas."
"Adoh, Paklik. Untung sampean cuma salah dengar dan ndak ada orang lain yang tahu soal ini. Kalau ndak kan bisa gawat urusannya Paklik. Kawan-kawan yang lain bisa curiga macam-macam. Dikira Nining itu mbak-mbak yang jual jamu itu."
"Hehehe.... Mosok serius gitu sih, Mas? Lah wong cuma salah dengar saja kok ditafsirkan macam-macam. Sampean kok ya terus jadi ketakutan begitu, seperti pencuri yang tertangkap basah?"
"E...e...e....Paklik, sampean jangan berprasangka dong. Saya kan menjaga supaya tak terjadi hil-hil yang mustahal. Namanya juga zaman edan je, semua kabar bisa jadi bahan gosip. Kalau urusan si Nining ini ndak diperjelas, nanti bisa menimbulkan fitnah."
"Ya sudah, Mas. Sekarang kan sudah klir, sudah jelas duduk perkaranya. Ndak usah diperpanjang lagi. Ndak usah khawatir Mas, ini cuma antara kita berdua saja, kok," kata Paklik sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hush. Paklik ini. Ya sudah, ini sudah sore. Saya mau pulang ini. Mesti ringkes-ringkes. Sampean mau pulang juga?"
"Belum, Mas. Ada yang mesti saya selesaikan dulu. Tapi sebentar deh, Mas. Saya mau mau cerita pengalaman saya tadi. Sampean mau mendengarkan ndak? Sebentar saja kok."
"Wah, ngobrol sama sampean ini mana bisa sebentar, Paklik. Soal apa to?"
"Gini, Mas. Tadi itu saya ketemu klien. Teman lama sebetulnya. Perempuan, Mas. Wis jan, kasihan je ceritanya."
"Perempuan? Ceritanya menyedihkan? Loh ceritanya itu Paklik jadi tempat curhat gitu ya? Wah, kemajuan ini. Kalau gitu, saya dengerin dulu deh ceritanya."
"Sebetulnya ndak ada yang istimewa, Mas. Kebetulan saja kawan saya itu baru saja ditinggal suaminya yang meninggal karena kanker. Yang membuat teman saya itu sedih bukan hanya karena suaminya meninggal. Tapi bagaimana sang suami masih menunjukkan cintanya sebelum ajal menjemput itu yang membuat hati kawan saya itu seperti diiris sembilu."
"Memangnya bagaimana, Paklik.?"
"Sebelum meninggal, mereka sempat bercakap-cakap berdua. Setelah percakapan saling menghibur dan menguatkan, sang suami meninggalkan beberapa pesan buat istrinya. Nah, terus ... ini yang membuat saya ikut terharu ... suaminya itu bilang begini: Jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku.
Apa ndak bikin kita terharu itu, Mas? Hati siapa yang kuat mendengar ungkapan hati seperti itu? Teman saya saja langsung nangis ngguguk berjam-jam. Dia merasa, dengan kata-kata seperti itu, sang suami seperti menunjukkan bahwa cintanya begitu besar bahkan sampai akhir hayatnya. Saya ikut kagum sama dia, Mas. Kok ya masih ada lelaki, seorang suami, di zaman edan begini, begitu besar cintanya pada sang istri?"
"Ah, Paklik bikin saya ikut sedih."
Setelah ngomong begitu, saya dan Paklik tiba-tiba kehilangan kata-kata. Kami mendadak bisu selama beberapa saat. Saya, mungkin juga Paklik, sama-sama merenungkan satu pertanyaan besar: masih adakah suami yang cintanya kepada sang istri tak pernah habis bahkan sampai akhir hayat?
Posted at 6:47:37 pm by pecas ndahe
tautan tetap