Siapakah sebenarnya calo itu? Seorang pekerja profesional? Oportunis? Pedagang perantara? Orang yang jeli menangkap peluang dan kesempatan? Ular beludak yang licik? Penolong di saat kita membutuhkan sesuatu yang mendesak? Atau apa? Ah, jangan-jangan calo itu sebenarnya wajah sisi gelap kita? Jangan-jangan sampean malah menjawab, "Calo juga manusiaaaa .... "
Siapa pun sesungguhnya calo itu, saya mau ucapkan selamat datang di Republik Calo. Ya, endonesah ini. Secara calo itu ada di mana-mana. Di stasiun sampai di toilet, mau di lapangan maupun di gedung megah. Selalu ada calo. Ya ndak heran kalau kita sebut saja negeri ini republik calo.
Ndak percaya? Begini deh. Ki sanak sekarang mau apa? Nonton pentas musik? Ada calo tiket kereta. Mau jual/beli rumah/tanah? Ada calo tanah. Mau mengangkut koper di bandara Soekarno-Hatta. Ada
calo barang. Ki sanak sulit cari tiket pesawat, kereta, bus? Tenang, ada calo dengan karcis di tangan. Mau memperpanjang SIM atau STNK? Silakan hubungi biro jasa alias calo. Sampean kena tilang? Jangan khawatir, ada calo yang siap menebusnya. Mau antri mengambil
formulir pendaftaran anak sekolah? Ada juga calonya. Kalau daerah ki sanak dilanda gempa pun ada yang siap membantu cari dana bencana. Namanya
calo dana bencana.
Paklik Isnogud pernah bercerita bahwa calo itu pada dasarnya orang yang "menang lewat intimidasi."
Saya pun bertanya apa maksudnya. Eh, dia malah balik bertanya, "Sampean pernah baca buku
Winning Through Intimidation?"
"Ah, sampean jangan ngarang, Paklik," jawab saya setengah tak percaya. "Mana ada buku begitu?"
Ternyata, kata Paklik lo, buku itu memang ada sejak 1973. Ditulis oleh seorang "broker" -- calo juga -- tanah dan bangunan, buku yang berjudul menyolok ini selama 8 bulan pernah termasuk dalam daftar buku terlaris menurut
The New York Times. Penulisnya, Robert J. Ringer, bahkan pernah diwawancara oleh majalah
Time. Konon kolumnis lucu Art Buchald pernah pula mengejeknya dalam satu tulisan, suatu pertanda bahwa
Winning Through Intimidation memang dapat perhatian luas.
Buku ini memang berdasarkan pengalaman Ringer dalam jual-beli real estate. Tapi ia nampak mau berbicara untuk pelbagai segi kehidupan. "
Winning Through Intimidation adalah sebuah buku tentang filsafat kenyataan," tulis Ringer dalam kata pengantarnya, seolah-olah ia seorang Martin Heidegger atau Ronggowarsito.
Prinsip-prinsip buku ini tak hanya berlaku untuk dunia bisnis, tapi "untuk kehidupan pada umumnya".
Filsafat Ringer adalah filsafat pertandingan yang tangguh. Untuk mencapai sukses, buku-buku yang mengajarkan "aturan-aturan negeri manisan" tentang kebajikan kerja rajin dan bersikap baik, semua itu harus dicampakkan. Kenyataan adalah apa yang nyata, bukan apa yang kita inginkan. Dan bagi Ringer, yang nyata itu bukan seperti kembang setaman yang cerah dan lembut, tapi hutan rimba yang oleh orang sopan disebut "brutal".
Ringer menulis, "Seperti banyak orang lain, saya ingin bahwa permainan bisnis
berlangsung di sebuah halaman taman kanak-kanak". Namun kenyataannya, kata Ringer pula, permainan itu "dilakukan dalam sebuah hutan yang kejam".
"Wah, wah, wah....berarti calo itu kejam yo, Paklik?"
"Tergantung dari mana sampean melihatnya, Mas. Ambil contoh begini. Misalkan suatu hari ada keluarga ada yang sakit dan butuh darah. Kebetulan stok di PMI lagi kosong. Sampean lalu minta tolong ke sana kemari, dan ternyata darah yang dibutuhkan masih kurang. Apa yang sampean lakukan kalau tiba-tiba ada calo menawarkan diri mencarikan darah, tentu saja imbalannya sampean harus bayar mahal? Apa sampean mau nolak? Apa calo itu jadi orang yang kejam? Dia mau membantu lo Mas, cuma ndak gratis."
"Wah, yo tetep kejam itu namanya. Secara kita sedang kepepet je, lah kok dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mestinya ya gratis saja atau kalaupun bayar ya sewajarnya gitu lo."
"Lah dia kan ndak maksa sampean. Dia kan cuma menawarkan diri. Sampean boleh pilih, mau beli atau tidak? Apa ya kejam itu namanya?"
"Ya tetep saja
ngono yo ngono, ning ojo ngono-ngono, Paklik."
"Ah sampean jangan pelit dan naif, Mas. Calo itu kan butuh ongkos juga buat mengumpulkan darah yang sampean butuhkan. Mungkin juga dia butuh uang untuk membayar orang yang mau mendonorkan darahnya. Apa sampean ndak mau mengganti pengeluaran si calo itu? Di dunia ini ndak ada yang gratis, Mas."
"Loh Paklik kok membela calo sih?"
"Saya bukan membela, Mas. Sejujurnya saya ndak suka juga sama yang namanya calo itu. Secara saya sering kapusan je. Tertipu setengah matang karena saya ndak suka yang mentah-mentah. Mosok saya pernah beli tiket kereta dari calo dengan harga sepuluh kali lipat. Alasannya, karcis di loket sudah habis. Eh, ternyata setelah saya beli, saya dikasih tahu petugasnya kalau karcis masih banyak. Apa ndak jengkel itu?
Tapi kadang-kadang kita perlu membuka pikiran lebih jembar. Lebih luas. Lebih legowo. Jangan-jangan kita juga melahirkan para calo itu. Kita pula yang memberi kesempatan para calo itu hidup dan berkeliaran. Jangan-jangan, calo itu sebenarnya sebagian sisi buruk kita yang cuma mau enaknya. Cuma mau gampangnya dan suka mengambil jalan pintas."
Diam-diam saya merenungkan kata-kata Paklik. Tentu saja dengan tetap skeptis. Mosok calo itu bagian dari diri kita? Menurut sampean bagaimana? Apa sampean juga pernah berurusan dengan calo? Lah mbok saya dibagi ceritanya....