Gempa di Yogya tak hanya meluluhkan gedung-gedung, tapi juga harapan.
Ini cerita tentang tetangga saya yang terpaksa menunda pernikahannya
gara-gara luka-luka tertimpa atap bandara Adisucipto. Padahal undangan
resepsi sudah disebar.
Sabtu
pagi sebelum berubah kelabu itu sebetulnya saya mau mengajak Mas Sulung
dan adiknya ke Planetarium Taman Ismail Marzuki. Mas Sulung lagi
gandrung pada benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, dan planet.
Hampir setiap hari, sepulang sekolah, ia menyanyikan lagu tentang
susunan tata surya yang diajarkan gurunya di Taman Kanak-Kanak. Mas
Sulung pun girang bukan kepalang setelah saya mengajaknya menonton film
tentang tata surya di Planetarium.
Siapa sangka, sebuah
telepon membuyarkan impiannya pagi itu. Telepon datang dari Lik
Kumkum, tetangga saya di Yogya dulu. Ia sedang di Jakarta untuk
menghadiri resepsi pernikahan adiknya besok. Ia mengkhawatirkan nasib
adiknya, Dimas Anton, dan keluarganya yang lain.
Lik Kumkum
bilang, Dimas Anton sudah harus berada di Cibinong untuk menjalani
upacara siraman Sabtu sore itu. Setelah itu, Minggu paginya, ia hendak
melakukan akad nikah dengan wanita idamannya, Nimas Nova. Lik Kumkum
pusing karena adik dan keluarganya yang lain tak bisa dikontak lewat
telepon angin setelah televisi menayangkan gambar-gambar tentang akibat
gempa di Yogya itu. Di rumah mereka pun sudah tak ada orang.
"Piye iki, Mas? Kalau ada apa-apa, bagaimana dengan acara besok? Sampeyan punya saran?" ia bertanya.
"Begini saja, saya akan kontak keluarga di Yogya untuk mencari tahu
keadaan keluarga sampeyan. Nanti saya kabari perkembangannya."
Lik Kumkum setuju.
Begitulah, saya segera angkat telepon menghubungi semua sumber saya dan
minta tolong dicarikan kabar keadaan Dimas Anton dan keluarganya. Dalam
tempo singkat, sebuah kabar masuk. Tak terlalu menyenangkan.
Ceritanya, Dimas Anton, ibu, dan enam orang anggota keluarga lainnya, sebetulnya sudah check-in di Adisucipto sejak pukul 05.30 WIB. Semua barang bawaan bahkan sudah dimasukkan ke bagasi. Karena menunggu waktu boarding, Dimas Anton dan rombongan duduk di ruang tunggu bandara.
Lantaran haus, Dimas Anton pun beli minuman di kafe di dalam bandara.
Belum sempat Dimas Anton meneguk minuman di tangannya, tiba-tiba ia
merasa bumi bergetar. Semula dia menyangka getaran suara yang
menggemuruh itu berasal dari mesin pesawat.
"Eh, waktu
saya menoleh ke ruang tunggu, ternyata semua orang yang ada di situ
sudah lari berhamburan. Saya yang panik juga berusaha lari, tapi belum
sempat menyentuh pintu, tubuh saya tertimpa balok kayu dan atap ruang
tunggu bandara yang ambrol," kata Dimas Anton.
Kepala,
kaki, dan tangannya mengucurkan darah. Untung, nyawanya masih bisa
diselamatkan dari reruntuhan ruang tunggu bandara yang ambrol itu. Ibu
dan enam saudara lainnya juga selamat karena sempat lari begitu gempa
terasa. Dimas Anton lalu dilarikan ke rumah sakit Panti Rapih. Tapi,
lukanya terlalu parah sehingga ia dipastikan tak bisa berangkat ke
Cibinong dan melakukan akah nikah.
Begitu mendengar kabar itu,
Lik Kumkum pun mengontak keluarga calon besan di Cibinong dan memberi
tahu musibah itu. Dimas Anton juga sempat menelepon calon istrinya.
Tentu saja setelah berulang kali ia menekan tombolnya HP-nya yang
sering tulalit karena jaringan telekomunikasi angin lumpuh total. Dan,
tangis pun pecah di Sabtu kelabu itu.
Ringkas cerita, Dimas
Anton batal menikah. Namun, resepsi pernikahan tetap dilanjutkan karena
undangan tak bisa dibatalkan. Hanya, ada sedikit modifikasi. Acara ijab
kabul diubah dengan acara doa bersama semua tamu yang hadir. Saat
resepsi, Nimas Nova pun berdiri sendiri dan tak menyanding siapa pun.
Terlihat mendung di wajahnya yang ayu.
Minggu pagi itu,
saya memang mengajak Mas Sulung dan adiknya menghadiri resepsi
pernikahan yang mengharukan itu di Cibinong, Bogor. Ibunya anak-anak
tak ikut karena sedang bekerja di Surabaya. Melihat ada yang aneh,
anak-anak pun bertanya, "Ayah, kenapa pengantinnya sendirian. Yang
satunya mana?"
Saya cuma menjawab pendek. "Pengantinnya kena gempa bumi."
"Oh yang di Jogja itu ya? Rumah eyang kena gempa bumi juga nggak?"
Saya menggeleng lalu memeluk mereka. Sepulang dari resepsi, saya baru
bisa memenuhi janji mengajak anak-anak ke Planetarium. Melihat planet.
Melihat bintang. Melihat harapan yang bersinar di kejauhan. Ah, hidup
memang penuh tikungan mengejutkan....
Posted at 11:03:44 am by pecas ndahe
tautan tetap