Hari ini saya bersujud, runduk, dan pasrah pada Gusti Allah setelah
mendengar kabar gempa bumi menghumbalang kota kelahiran saya:
Yogyakarta. Kota itu sekarang porak poranda dihajar gempa tektonik
berkekuatan 5,5 pada skala Richter pada pukul 05.55 WIB. Lebih dari
5.000 orang meninggal (
updated) dan ribuan lainnya luka-luka. Duh, Gusti....
Ketika membaca berita
ini,
saya segera teringat ibu yang sudah sepuh, kakak, adik, keponakan,
tetangga, dan seluruh kerabat di sana. Semoga Gusti Allah memberi
mereka semua kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi cobaan ini.
Syukurlah, ibu dan saudara-saudara selamat. Ketika saya telepon tadi
pagi, dengan suaranya yang sabar ibu bilang tak ada yang serius, cuma
foto-foto di dinding yang rontok digoyang gempa. "Cuma aku jadi repot
keluar masuk rumah, Nak. Gempanya terus-terusan sih," katanya.
Saya terbayang betapa repotnya ibu yang sudah agak susah jalan itu
harus keluar masuk rumah kami yang sudah reot itu bila gempa datang.
Sejak syaraf kaki kirinya terjepit, jalannya agak terseok.
Saya terdiam sejenak mendengar penjelasan ibu. Saya tak tahu harus
bilang apa. "Ya sudah, ibu hati-hati saja, ya." Cuma itu yang bisa saya
katakan sebelum menutup telepon tadi. Mulut saya terlalu kelu.
Tiba-tiba saya merasa ada cairan hangat mengalir jatuh di pipi saya....
Kerusakan itu ....
- Stadion Among Rogo remuk.
- Hotel Shantika di Jalan Jenderal Sudirman rusak.
- Bandara Adisucipto ambruk sebagian bangunannya. Landasannya retak.
- Situs Taman Sari di selatan Keraton ambruk.
- Candi Prambanan ambruk sebagian (update).
- Makam raja-raja Jawa di Imogiri ambruknya pagarnya (update).
- Beberapa bangsal dan museum pusaka di Keraton Yogya roboh. (update)
- Beberapa bagian Candi Boko di selatan Prambanan ambruk.
Posted at 10:30:20 am by pecas ndahe
tautan tetap