Masih adakah yang ingat tentang Pancasila? Sampeyan mungkin? Saya ragu.
Kalaupun iya, masih adakah yang juga ingat hari lahir Pancasila?
Hari-hari ini, ketika amuk massa bergemuruh di kota-kota kecil, ketika
perbedaan pendapat berubah menjadi konflik terbuka, saat Gus Dur, kiai
yang pernah jadi presiden itu, diusir dari sebuah seminar di kota
kecil, saya ingat Pancasila yang kita peringati hari kelahirannya
setiap 1 Juni.
Tentang
Pancasila, saya ingat ada kliping lama yang berkisah ihwal sebuah
diskusi kecil di senja hari. Pesertanya hanya 19 orang dan tak semua
aktif bicara. Ada sejumlah filosof, termasuk seorang filosof asing
terkemuka, dan beberapa filosof muda. Ada beberapa ahli ilmu sosial.
Ada negarawan pensiunan. Juga jenderal purnawirawan.
Yang
dibicarakan ialah soal ideologi nasional. Dan karena diskusi ini
terjadi di Indonesia, maka bersoaljawablah mereka tentang Pancasila.
Saya kutipkan beberapa cuplikan tak lengkap percakapan dalam diskusi itu.
T.B. Simatupang: "Sekiranya kita tidak mempunyai Pancasila, apakah kita
akan pernah mampu mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa ini ?
Alfian: "Dalam hal ini secara teoritis saya kira orang dapat mengatakan
ya. Umpamanya, Majapahit berdiri tidak berdasarkan Pancasila dan
Siriwijaya berdiri juga tidak berdasarkan Pancasila. Pada 1945 ...
pilihan yang cerdas, 'the intelligent choice' dari masyarakat Indonesia
menemukan Pancasila. Ditinjau dari segi sejarah, ... kita mungkin saja
memilih yang lain. Pilihan itu tergantung pada bagaimana orang
menafsirkan sejarah secara cerdas.
Sutan Takdir Alisjahbana:
"Tentang pertanyaan yang sama, tentang pertanyaan Saudara Simatupang,
dapatkah Indonesia menjadi bangsa tanpa Pancasilasecara historis?
Tetapi kalau kita melihat ke belakang, sebelum Perang Dunia II, gerakan
nasional tidak mengenal Pancasila."
Alisjahbana
melanjutkan, "Pernyataan nasionalisme Indonesia yang paling tepat dan
berpengaruh untuk gerakan nasional ialah Sumpah Pemuda ... Pancasila
adalah kompromi antara sebagian cendekiawan yang memimpin pada saat
itu, mereka tidak dipilih secara demokratis ... Kalau pilihan diberikan
pada pemuda-pemuda pada masa itu untuk merumuskan suatu undang-undang
dasar, mungkin mereka menghasilkan versi yang berbeda sama sekali ...."
T.B. Simatupang: "... Tentu kita dapat mengembangkan teori-teori dan
berkata bahwa pilihan yang lain mungkin juga diadakan, akan tetapi kita
hidup dalam sejarah dan adalah merupakan kenyataan bahwa dalam tahun
1945 tidak ada jalan untuk menghindarkan jalan buntu bahkan perpecahan,
kecuali apabila sebuah rumus kompromi dapat disetujui bersama ....
Pancasila merupakan kompromi antara kekuatan-kekuatan historis yang
bersama-sama menentukan hidup negara kita ....
Petikan percakapan itu diambil dari buku Percakapan Dengan Sidney Hook,
yang terbit pada 1976. Diskusi yang direkam dalam buku itu sebenarnya
merupakan diskusi dengan Prof. Sidney Hook, gurubesar filsafat
terkemuka yang pada 1971
jadi tamu di Indonesia.
Tentu
saja dalam diskusi mengenai Pancasila itu Sidney Hook banyak diam.
Sebab, memang tidak mudah bagi seorang ahli filsafat asing memahami
sebuah kata yang baginya mungkin terdengar seperti mantera.
Apalagi
Pancasila memang sesuatu yang lahir dari situasi sejarah Indonesia
sendiri. Takdir Alisjahbana keliru bila ia menganggap bahwa kompromi
yang terjadi pada 1945 itu hanya terjadi di kalangan pemimpin, yang
notabene tak dipilih rakyat. Ia lupa bahwa para pemimpin yang berembuk
menjelang perumusan Pancasila oleh Bung Karno 61 tahun yang lalu itu
adalah para pemimpin yang bertahun sebelumnya lahir dari keresahan
rakyat, dan diterima, bahkan didorong oleh rakyat juga. Dengan kata
lain, Pancasila bukanlah sesuatu yang aksidental.
T.B.
Simatupang lebih tepat merumuskannya sebagai "kompromi antara
kekuatan-kekuatan historis" di Indonesia Alfian berbicara tentang
"pilihan yang cerdas", yang tergantung "bagaimana orang menafsirkan
sejarah".
Kata kuncinya adalah "kompromi dan
"kekuatan-kekuatan historis". Artinya kita tak bisa meniadakan
perbedaan, bahkan pertentingan. Tapi kita perlu memahami, bahkan dalam
hidup bersama ini, kompromi tak harus berarti keji. Artinya juga kita
tak akan bisa melepaskan Pancasila dari kekuatan-kekuatan historis yang
hidup di masyarakat. Kecuali bila kian lama ia dianggap sebagai benda
yang begitu saja diturunkan dari atas, steril, necis, selesai.
Di
tengah konflik pluralisme yang menghumbalang hari-hari ini, saya merasa
perlu menengok kembali sebuah foto kusam kecoklatan berjudul:
PANCASILA. Tapi, adakah yang peduli? Sampeyan?
Posted at 4:25:01 pm by pecas ndahe
tautan tetap