Bagaimana rasanya jadi
istri? Jadi perempuan? Meski saya pernah bertanya pada istri sendiri,
saya sebetulnya tak benar-benar paham bagaimana rasanya. Samar-samar
saja saya tahu bahwa seorang istri itu sosok berwajah ganda. Ia manajer
sekaligus buruh. Ia kawan, juga lawan. Ia singa di siang hari, kucing
di malam hari.
Di
Cina, ada cerita tentang Sang Maharaja yang tidur dengan 121 istri dan
gundiknya. Tentu saja tak sekaligus. Perempuan-perempuan itu-harus
digilir sesuai dengan tingkat kedudukannya setidaknya begitulah menurut
risalah dari zaman dinasti Chou.
Yang kelas rendah melayani Sang
Paduka lebih dulu. Yang kelas tinggi menyusul belakangan. Giliran
pertama diperuntukkan bagi 81 orang yang berstatus asisten gundik:
selama sembilan malam, secara bergantian, mereka harus kelon dengan
Sang Putra Langit. Itu berarti tiap malam ada sembilan perempuan orang
yang bertugas. Setelah itu, pada tiga malam berikutnya, giliran jatuh
bagi 27 wanita yang berpangkat gundik penuh. Pada dua malam berikutnya,
rombongan para garwa, yang terdiri dari dua lapis, akan datang
menyediakan kenikmatan. Dan akhirnya, pada malam ke-15, Maharaja pun
beradu dengan Sang Permaisuri.
Sang Permaisuri dapat giliran di malam ke-15, sebab diharapkan proses
pertemuan sperma dengan sel telur terjadi di saat rembulan sedang
penuh. Di malam purnama itulah konon Yin sang ibu sedang berada di
puncaknya, siap mengimbangi Yang sang ayah yang kian kukuh -- setelah
diberi gizi oleh Yin sejumlah wanita lain selama beberapa malam
sebelumnya.
Di
Indonesia, ada kisah tentang mengenal Pariyem, tokoh yang ditampilkan
Linus Suryadi dalam sajak panjangnya tentang wanita Jawa dari dusun
yang pasrah. Ada Sumarah, istri seorang tahanan politik yang menjadi
tukang pijit dalam cerita Umar Kayam. Ada Midah, anak kiai yang jadi
pengamen dengan gigi emas, dalam novel Pramoedya Ananta Toer. Tapi
lebih dulu dari semua itu, ada Yah.
Armijn Pane telah menciptakan dalam Belenggu,
novel yang kontroversial itu hampir setengah abad yang silam. "Lakon
diriku tiada bedanya dengan lakon perempuan lain," kata wanita
"jalanan" itu kepada kekasihnya, seakan hendak membenamkan
penderitaannya dalam penderitaan ribuan mereka yang senasib.
"Tanyakan perempuan di Priok, ganti namanya dengan Yah ... riwayatnya sama saja. Apakah perlunya lagi kuceritakan?"
Dia
memang seperti mereka -- dengan beda. Ia bermula dari keluarga
baik-baik. Dulu ia bertetangga dan bersekolah dengan laki-laki yang
kemudian jadi pacarnya, dr. Sukartono. Lalu, pada suatu hari, ia harus
kawin dengan seorang yang 20 tahun lebih tua, dan hidup di Palembang.
Tak tahan, Yah lari ke Betawi pulang ke Bandung. Setelah
berpindah-pindah, Yah hidup dengan kemenangan-kemenangan yang
memabukkan.
"Tono, aku benar jahat. Di dalam hatiku tertawa
sebagai setan tertawa, kalau ada laki-laki terpikat olehku. Kalau dia
merendahkan diri tidur dengan aku, aku senang, aku gembira karena dia
tertarik ke lumpur tempat aku hidup."
Tapi kemudian dia
dengar, di Betawi itu, anak muda tetangganya, Sukartono, telah jadi
dokter. Suatu keinginan lain tiba-tiba menyingsing: Ia ingin bersua
dengan Tono, "Dengan zaman dahulu, zaman aku masih gadis, masih putih
bersih...." Yah pun berpura-pura sakit, menyebut diri Ny. Eni,
memanggil dokter yang tak pernah menolak datang itu, dan pertemuan
terjadi. Lalu mereka saling jatuh cinta: Tono, yang dalam krisis
perkawinan, dan Yah, yang mencoba mendapatkan sesuatu yang tak kenal
keluh dalam riwayatnya yang kusam.
Dipaparkan di sebuah buku
yang terbit di tahun 1940 - ketika kesusastraan Indonesia seakan-akan
hanya mengenal dunia yang necis dan sopan - tokoh Yah, mau tak mau
mengejutkan. Belenggu, yang
memang bukan novel yang mudah untuk dibaca, dan ditulis dengan gaya
Armijn Pane yang kadang simpang-siur, akhirnya jadi kisah yang banyak
disalahpahami.
Toh Armijn berhasil, dengan berani, menjadi
penulis Indonesia pertama yang menyatakan simpatinya yang terus terang
kepada sang pelacur. Tokoh Yah, terutama di ujung novel ini, bahkan
mengharukan, menyentuh, tanpa jadi melodramatis. Pada akhirnya Yah
meninggalkan Tono, yang sebenarnya sudah berpisah dengan istrinya dan
beranjak untuk datang kepadanya. Wanita itu berangkat ke Nieuw
Caledonie.
Di kapal, masih didengarnya suara Tono dalam satu
pidato radio. Tangannya pun dijulurkannya, seakan hendak memeluk
laki-laki itu. Lalu ia melangkah ke dek, memasuki gang, yang bertambah
sempit, bertambah rendah, "sebagai jalan yang ditempuh oleh manusia
yang melarat, semakin lama semakin sengsara". Dan ketika ia sampai ke
sebuah pintu, tempat suara Tono datang, wanita itu berdiri. Pintu ke
manakah itu? Pertanyaan itu ternyata tak terjawab, ketika Belenggu tamat.
Mungkin Yah adalah sebuah fenomena ketidakbebasan wanita. Kaum feminis
zaman kini bisa bicara banyak tentang dia: seorang yang dihisap ke
dalam prostitusi, perempuan yang, dengan senang hati, melepaskan sepatu
sang pria yang lelah.
Tapi kenapa Sukartono, pria terpelajar
dari kelas atas kota besar itu, bisa jatuh hati kepadanya? Kita bisa
beri jawaban klise: sang dokter tak berbahagia dalam perkawinannya.
Hanya kali ini soalnya terletak pada Tini yang "maju". Sukartono tak
dilukiskan Armijn sebagai seorang Jawa yang berpaham lama - ia
memainkan Beethoven pada biola dan mencoba menganjurkan kerancong untuk
musik baru -- tapi ia ternyata bukan suami untuk Tini.
Tini,
yang dengan air mata titik bicara tentang nasib perempuan yang seperti
"jembatan gantung" (yang diam saja bila dipijak-pijak), menolak hidup
sebagai istri bila itu berarti pengabdian. Karena itu, ia tak
berbahagia. Perkawinannya dengan Tono, baginya, sebuah kekalahan. "Apa
lagi kehendakmu?" tanyanya dengan garang kepada suaminya, di suatu
saat. "Aku sudah menjadi istrimu. Namaku sudah hilang, aku sudah
tunduk."
Dengan sikap seperti itu, tak heran bila peran
"istri" adalah peran yang tak menarik. Mungkin memang demikian. Mungkin
wanita memang harus bebas sebagai sekadar embel-embel, dan dalam
keadaan tertindas harus berteriak cukup keras.
Tapi akhirnya toh orang harus
bertanya, di manakah hal-hal kekal, seperti cinta misalnya, di tengah
pergumulan seperti itu. Menonton film seperti Terms of Endearment (1983) kita
tahu bahwa soal jawab itu belum selesai: film itu justru menyentuh
kita, karena hidup ternyata bisa lebih bertahan melalui kesedihan,
karena ada suatu hal yang sukar dan kuno tapi kukuh: sesuatu yang
mungkin disebut naluri, mungkin cinta, mungkin kenaifan.
Dan
itulah yang tak ada pada Tini yang progresif dan garang. Dan itulah
yang ada pada Yah -- meskipun harus ia tanggalkan. Tentu saja Yah bukan
Halimah yang juga progresif dan garang -- seperti Tini.
Posted at 1:43:15 pm by pecas ndahe
tautan tetap