Mencari pekerjaan itu katanya sama sulitnya dengan mencari jodoh. Ada
saja orang yang merasa gamang dengan apa yang telah dilakoni
bertahun-tahun. Di saat yang sama, lowongan pekerjaan tak terlalu
banyak. Problem umum atau sekadar kejenuhan sesaat?
Mat Gosip, kawan saya yang jadi wartawan media gosip itu, datang lagi
dengan pertanyaan mengagetkan, "Mas, sampeyan punya lowongan pekerjaan
nggak?"
Ditanya mendadak begini, saya bingung juga. "Lah memangnya sampeyan sudah bosan jadi kuli gosip?"
"Begitulah. Saya ingin mencari pekerjaan lain, yang berbeda sama sekali
dari yang sekarang. Jadi wartawan itu ternyata makan hati. Dan gajinya
ndak seberapa...."
"Hahaha....sik, sik, sik.....gajinya ndak seberapa itu berapa? Lah wong
sampeyan ini saya lihat kok ndak begitu. Sampeyan tinggal di apartemen.
Sehari-hari naik sedan gres. Handphone gonta-ganti. Lah kok mengeluh
gaji ndak seberapa itu kan kebangetan."
"Itu kan kelihatannya saja, Mas. Apartemen dan mobil itu masih nyicil,
Mas. Handphone ini fasilitas kantor. Buat hidup sehari-hari, ya
pas-pasan."
"Wah, itu sih sudah lebih dari pas-pasan, Mat. Nyicil apartemen,
biarpun kredit, kan sudah berapa juta tuh. Belum cicilan mobil, minimal
kan tiga juta sekian. Lah kok sampeyan bilang pas-pasan itu lo. Padahal
di luar sana, banyak orang yang ndak bisa kayak sampeyan itu."
"Mas, saya kan juga butuh bergaul. Sosialisasi, Mas. Butuh hiburan.
Butuh jalan-jalan. Semua itu ada ongkosnya. Kalau ndak bergaul, saya
ndak punya apa-apa, Mas. Modal pekerjaan saya itu ya bergaul. Tanpa
gaul, ndak ada berita, Mas."
"Lah, kantor sampeyan kan mestinya ikut mbayari ongkos gaul sampeyan
itu kan? Mestinya sampeyan ya ndak usah kekurangan ongkos.
Jangan-jangan sampeyan butuh ongkos yang lain ya?"
"Sudahlah, Mas. Pokoknya saya bosen. Saya butuh kerjaan lain. Sampeyan punya ndak?
"Oalah, Mat...Mat. Zaman sudah sore begini sampeyan nyari pekerjaan.
Susah, Mat, Yang nganggur saja banyak. Berjuta-juta. Lah sampeyan yang
sudah punya pekerjaan kok malah mau nambahi persaingan, nyari pekerjaan
baru. Nyebut, Mat. Nyebut."
"Semprul. Lah kok malah nyuruh saya nyebut itu loh. Aku ini butuh tenan. Kalau ndak butuh ya ndak nanya sampeyan."
"Sik, Mat. Sampeyan ini mau nyari kerjaan baru itu kenapa?"
"Bosen, Mas. Bertahun-tahun ketemu orang yang gombal semua. Ngomongnya
pun gombal juga. Wis jan, pecas ndahe tenan. Lama-lama saya mikir,
jangan-jangan saya ndak cocok kerja begini. Saya mau nyari kerjaan lain
aja, yang ndak banyak ketemu orang saja, yang gajinya gede."
"Oooh ada, Mat. Ini kerjaan ndak ketemu orang. Gajinya gede. Sampeyan mau jadi tukang gosok giginya macan di Taman Safari?"
"Hahaha.....semprul."
Posted at 1:53:28 pm by pecas ndahe
tautan tetap