"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.
Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!"
Selengkapnya klik di sini ...
selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.
Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.
Dua orang artis sinetron menikah di Bali. Ini berita biasa. Tapi yang
tak biasa itu, untuk ukuran zaman sekarang, umur mereka yang kayaknya
masih bau kencur, baru dua puluhan tahun. Kenapa mereka buru-buru
kawin? Apa sih untungnya menikah
muda? Sampeyan setuju ndak kalau ada orang kawin muda?
Pertanyaan itu menggoda kawan-kawan di pabrik tempat saya bekerja ketika tadi bareng-bareng nonton infotainment
yang memberitakan pernikahan anak pasangan artis Jamal Mirdad dan Lidya
Kandouw di Bali. Pernikahan itu sah-sah saja. Tapi begitu kawan-kawan
tahu bahwa umur anak-anak itu baru 20-an tahun, keributan pun terjadi
persis di pasar.
Mbakyu Criwis yang selalu mencriwisi apa saja lalu berkomentar, "Halah, kecil-kecil kok menikah. Sebentar lagi paling cerai."
"Emangnya nikah itu gampang," kata Mas Gagah menimpali.
"Lah ya biarin aja toh. Suka-suka mereka. Ibu dan bapaknya saja
tenang-tenang saja kok sampeyan yang ribut," kata Dul Codot yang
tumben-tumbennya sok arif bijaksana.
Tua, muda. Apalah bedanya dalam sebuah pernikahan. Segera menikah,
menurut saya, justru pilihan yang terbaik buat pasangan yang memang
sudah kebelet. Apa salahnya? Bukankah dengan segera menikah itu status
mereka, baik secara agama maupun hukum, jadi sah. Mereka jadi halal
melakukan apa saja.
"Lah, tapi kan mereka belum dewasa. Masih labil. Apa mereka siap
membina rumah tangga yang penuh tantangan ini?" Mbakyu Ceriwis mencoba
menyanggah.
Pernikahan itu proses. Bukan hasil akhir. Ini jalan buat mereka menuju
dewasa. Kalau di tengah jalan mereka merasa berat, ya sudah. Pisah
saja. Ndak apa-apa. Toh agama membolehkan, meskipun tak menyarankan.
Negara pun memberi jalan lewat pengadilan. Lagi pula, belum tentu
mereka menyerah di tengah jalan. Siapa tahu mereka kuat dan sukses
mempertahankan bahtera pernikahan.
"Ah, teori, Mas. Kenyataannya berat. Apa lagi kalau mereka cerai ketika sudah punya anak
nanti. Apa ndak kasihan sama anaknya?" Mas Gagah membela Mbakyu Ceriwis.
Loh, justru kalau mereka tak segera menikah yang kasihan justru
perempuannya. Kalau terjadi apa-apa dalam perjalanan hubungan mereka,
misalnya di tengah jalan si perempuan hamil, gimana coba? Si perempuan
kan ndak bisa nuntut apa-apa. Boro-boro mau minta harta gono-gini.
Dengan menikah, status hukumnya lebih jelas, Mas. Posisi si perempuan juga lebih kuat.
Kalaupun mereka punya anak dan terpaksa bercerai, itu juga ndak
apa-apa. Minimal secara hukum si anak punya bapak dan boleh
menuntut haknya pada si bapak. Coba kalau mereka tak menikah dan punya
anak, apa ndak kasihan si anak yang statusnya ndak jelas. Gimana dia
mau minta tanggung jawab si bapak?
"Tapi perceraian kan selalu membuat anak punya beban psikologis?" Mas Gagah bertanya.
Memang. Karena itu, kalau sudah menikah ya jangan sampai bercerai. Lebih baik...
"Sik, sik...daripada bercerai, ya jangan kawin muda. Itu lebih baik," Mbakyu Ceriwis menyerobot tak sabar.
Lah, memangnya kawin tua ndak ada kemungkinan cerai? Peluangnya sama
saja, Mbak. Mau kawin muda, mau kawin tua, ndak ada jaminan ndak cerai.
Menurut saya, apa pun risikonya, menikah muda itu lebih baik daripada
berhubungan tanpa status. Berani menikah itu berarti berani bertanggung
jawab. Kalau cuma berhubungan tanpa status, maunya cuma pacaran saja,
mau yang enak-enaknya saja, itu ndak bertanggung jawab.
"Wis ah, ndak usah dibahas. Bukan anak saya ini. Terserah sampeyan.
Pokoke aku ndak setuju," kata Mbakyu Ceriwis sambil ngeloyor pergi.
E...e....e ... kok mutung. Pendapat saya kan belum tentu benar juga,
Mbak. Sampeyan boleh ndak setuju, tapi jangan cemburut gitu, dong.
Nanti cantiknya hilang lo....
"Ah, gombaaaaallll ... "
Nah, menurut sampeyan bagaimana. Apa untung-rugi menikah dalam usia
muda? Apakah sampeyan setuju kalau anak sampeyan nanti minta kawin
ketika umurnya masih belasan? Jangan lupa lo, zaman dulu itu ibu-ibu
dan bapak-bapak kita, terutama yang di desa-desa, juga banyak yang
menikah muda lo....