"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, May 19, 2006
Kawin Pecas Ndahe

Dua orang artis sinetron menikah di Bali. Ini berita biasa. Tapi yang tak biasa itu, untuk ukuran zaman sekarang, umur mereka yang kayaknya masih bau kencur, baru dua puluhan tahun. Kenapa mereka buru-buru kawin? Apa sih untungnya menikah muda? Sampeyan setuju ndak kalau ada orang kawin muda?

Pertanyaan itu menggoda kawan-kawan di pabrik tempat saya bekerja ketika tadi bareng-bareng nonton infotainment yang memberitakan pernikahan anak pasangan artis Jamal Mirdad dan Lidya Kandouw di Bali. Pernikahan itu sah-sah saja. Tapi begitu kawan-kawan tahu bahwa umur anak-anak itu baru 20-an tahun, keributan pun terjadi persis di pasar.

Mbakyu Criwis yang selalu mencriwisi apa saja lalu berkomentar, "Halah, kecil-kecil kok menikah. Sebentar lagi paling cerai."

"Emangnya nikah itu gampang," kata Mas Gagah menimpali.

"Lah ya biarin aja toh. Suka-suka mereka. Ibu dan bapaknya saja tenang-tenang saja kok sampeyan yang ribut," kata Dul Codot yang tumben-tumbennya sok arif bijaksana.

Tua, muda. Apalah bedanya dalam sebuah pernikahan. Segera menikah, menurut saya, justru pilihan yang terbaik buat pasangan yang memang sudah kebelet. Apa salahnya? Bukankah dengan segera menikah itu status mereka, baik secara agama maupun hukum, jadi sah. Mereka jadi halal melakukan apa saja.

"Lah, tapi kan mereka belum dewasa. Masih labil. Apa mereka siap membina rumah tangga yang penuh tantangan ini?" Mbakyu Ceriwis mencoba menyanggah.

Pernikahan itu proses. Bukan hasil akhir. Ini jalan buat mereka menuju dewasa. Kalau di tengah jalan mereka merasa berat, ya sudah. Pisah saja. Ndak apa-apa. Toh agama membolehkan, meskipun tak menyarankan. Negara pun memberi jalan lewat pengadilan. Lagi pula, belum tentu mereka menyerah di tengah jalan. Siapa tahu mereka kuat dan sukses mempertahankan bahtera pernikahan.

"Ah, teori, Mas. Kenyataannya berat. Apa lagi kalau mereka cerai ketika sudah punya anak nanti. Apa ndak kasihan sama anaknya?" Mas Gagah membela Mbakyu Ceriwis.

Loh, justru kalau mereka tak segera menikah yang kasihan justru perempuannya. Kalau terjadi apa-apa dalam perjalanan hubungan mereka, misalnya di tengah jalan si perempuan hamil, gimana coba? Si perempuan kan ndak bisa nuntut apa-apa. Boro-boro mau minta harta gono-gini. Dengan menikah, status hukumnya lebih jelas, Mas. Posisi si perempuan juga lebih kuat.

Kalaupun mereka punya anak dan terpaksa bercerai, itu juga ndak apa-apa. Minimal secara hukum si anak punya bapak dan boleh menuntut haknya pada si bapak. Coba kalau mereka tak menikah dan punya anak, apa ndak kasihan si anak yang statusnya ndak jelas. Gimana dia mau minta tanggung jawab si bapak?

"Tapi perceraian kan selalu membuat anak punya beban psikologis?" Mas Gagah bertanya.

Memang. Karena itu, kalau sudah menikah ya jangan sampai bercerai. Lebih baik...

"Sik, sik...daripada bercerai, ya jangan kawin muda. Itu lebih baik," Mbakyu Ceriwis menyerobot tak sabar.

Lah, memangnya kawin tua ndak ada kemungkinan cerai? Peluangnya sama saja, Mbak. Mau kawin muda, mau kawin tua, ndak ada jaminan ndak cerai. Menurut saya, apa pun risikonya, menikah muda itu lebih baik daripada berhubungan tanpa status. Berani menikah itu berarti berani bertanggung jawab. Kalau cuma berhubungan tanpa status, maunya cuma pacaran saja, mau yang enak-enaknya saja, itu ndak bertanggung jawab.

"Wis ah, ndak usah dibahas. Bukan anak saya ini. Terserah sampeyan. Pokoke aku ndak setuju," kata Mbakyu Ceriwis sambil ngeloyor pergi.

E...e....e ... kok mutung. Pendapat saya kan belum tentu benar juga, Mbak. Sampeyan boleh ndak setuju, tapi jangan cemburut gitu, dong. Nanti cantiknya hilang lo....

"Ah, gombaaaaallll ... "

Nah, menurut sampeyan bagaimana. Apa untung-rugi menikah dalam usia muda? Apakah sampeyan setuju kalau anak sampeyan nanti minta kawin ketika umurnya masih belasan? Jangan lupa lo, zaman dulu itu ibu-ibu dan bapak-bapak kita, terutama yang di desa-desa, juga banyak yang menikah muda lo....Big Smile

Ayo, siapa punya pendapat lain?


Posted at 12:50:12 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (8)  

Next Page