Apa arti keperawanan buat sampeyan? Masih pentingkah keperawanan
dipertahankan hingga sampeyan menikah nanti? Sampeyan setuju seks
pranikah? Sebelum menjawab, ada baiknya bila sampeyan membaca berita
utama yang dimuat di halaman depan harian Warta Kota hari ini. Judulnya, Free Sex di Bogor Gawat.
Berita
itu berdasarkan penelitian untuk tesis seorang dosen Institut Pertanian
Bogor yang hendak meraih gelar doktor. Tesis dibuat dengan melakukan
penelitian mendalam terhadap perilaku pelajar di Bogor. Adapun
metodologinya adalah wawancara tatap muka dengan dengan lebih dari 600
pelajar pria dan wanita setingkat SMA. Bagaimana bu dosen itu sampai
mengambil kesimpulan seperti itu?
Menurut Warta Kota,
dari penelitian itu terungkap bahwa sepuluh persen pelajar yang
diwawancarai pernah melakukan hubungan seks pranikah. Responden
beranggapan bahwa keperawanan bukan sesuatu yang penting lagi di zaman
sekarang. Hwarakadah!
Saya teringat pada awal 1980-an, ada
seorang pelajar SMA di Jogja juga pernah melakukan penelitian yang sama
dengan hasil yang tak jauh berbeda. Hasil penelitian yang kontroversial
itu membuat beberapa pejabat Jogja merah mukanya dan si pelajar
akhirnya dikeluarkan dari sekolahnya. Kalau tak salah ia akhirnya
diterima di IPB tanpa tes [Bogor lagi? sebuah kebetulan?]. Tapi,
penelitian anak Jogja itu membuat media massa ramai memberitakannya dan
sejak itu istilah "kumpul kebo" [juga anak itu] terbang ke langit
popularitas.
Urusan seks, baik yang pranikah maupun
pascanikah, keperawanan, perlukah diatur? Mengapa urusan ini selalu
memicu kontroversi? Seorang sastrawan pernah menulis masalah ini tak
lama setelah kasus di Jogja itu bikin geger. Sang sastrawan mengaku
bahwa pengetahuannya tentang seks bermula dari cerita Ajisaka. Waktu
itu umurnya 10 tahun. Sambil berbaring di balai-balai kayu jati tua
yang sejuk, dengan asyik dia membaca legenda orang Hindu yang
memperkenalkan huruf "ha-na-ca-ra-ka" kepada orang Jawa itu.
Alkisah, suatu hari Ajisaka mampir ke sebuah rumah. Di rumah itu
tinggal seorang janda. Sewaktu Ajisaka masuk, mbok rondho tengah
menumbuk padi. Dalam ketekunan kerja, kainnya tersingkap di bagian
paha. Melihat ini, mani Ajisaka mendadak tumpah. Seekor ayam betina
yang ada di situ kemudian mematuk cairan itu, lalu...
Si sastrawan mengaku ada yang tak dipahaminya dalam cerita yang dimuat dalam majalah Panjebar Semangat
yang berbahasa Jawa itu. "Apa itu mani?" ia bertanya kepada seorang
sepupu yang kebetulan lewat. Sang sepupu terhenti sejenak. Ia menengok
ke kiri ke kanan, lalu mendekat sambil berbisik-bisik menjelaskan --
dengan diiringi isyarat gerak tangan yang tak seluruhnya dipahami.
Toh sejak itu, pengetahuannya tentang seks bertambah. Dari kisah
Ajisaka, sumber informasi meluas ke banyak penjuru. Waktu itu, si
sastrawan bercerita, memang belum ada cerita-cerita pornografis yang
distensil, situs porno di internet, VCD atau DVD bergambar adegan
esek-esek, gambar perempuan telanjang di ponsel seperti yang kini
diperjualbelikan di Jakarta secara sembunyi-sembunyi. Tapi ada saja
yang bisa merangsang dan mengejutkan.
Pada suatu hari,
bersama seorang kawan, sang sastrawan memasuki sebuah gedung tua tak
berapa jauh dan sekolah. Gedung itu bekas asrama sepasukan prajurit
KNIL yang baru saja meninggalkan kota mereka, entah ke mana. Seluruh
ruangannya kosong. Gentingnya telah banyak yang pecah dan hilang. Dari
sela-sela atap itu, cahaya pun masuk dan menerangi dinding-dinding
kamar. Di sana, bagaikan sederet mural yang kasar, terpampang
corat-coret arang yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya yang baru
11 tahun itu: adegan cabul, kata-kata seru, dan mungkin juga kesepian.
Pendeknya, seorang prajurit telah menumpahkan seluruh fantasinya.
Pengetahuan seks, dan rangsangan yang terbit karena hal itu, tampaknya
memang bisa datang, memergoki kita, dari mana saja. la bisa masuk dari
bisik-bisik teman, yang semalam mengintip tayuban di rumah mantri
polisi. Ia bisa datang dari dongeng yang pada dasarnya malah tak ingin
merusakkan akhlak: adegan Panji yang bercinta dengan para putri di tepi
kolam; cerita berahi Batara Guru di dekat Dewi Uma, Kisah Daud yang
menginginkan Bathseba dalam Injil.
Informasi seks, dan segala
daya tariknya, juga bahkan bisa didapat dari forum yang sangat sehat.
Di kelas III SMP dulu, misalnya, suatu ketika guru agama sastrawan itu
mencoba menjelaskan apa perlunya mandi junub. Untuk itu ia terpaksa
menyilakan para murid putri meninggalkan kelas sebentar -- lalu secara
kilat memberikan sejenis pendidikan seks. Apa yang diberikannya kelak
kemudian ternyata sangat berguna, tapi waktu itu mereka mendengarkan
dengan cekikikan, setengah malu, setengah berdebar-debar.
Anak-anak, apa boleh buat, punya rasa ingin tahu. Mereka juga punya
berahi sendiri. Dari sugesti erotis dalam pelajaran tentang mandi
junub, dari kisah Kudawanengpati atau adegan cinta Dewi Kunti, jalan
pun terbentang ke mana saja: bisa ke majalah Penthouse, atau film biru pada video, atau novel murah yang dijual di hotel-hotel buat para pejalan yang kesepian.
Tapi mungkin juga akhirnya tak separah itu. Bukankah manusia tak
seluruhnya jadi cabul, meskipun ekspresi pengalaman seksual bahkan
sudah ada dalam lukisan Zaman Batu?
Sebab, sementara mereka
menemukan yang jorok-jorok, mereka juga belajar hal-hal lain. Ada
memang anak (setidaknya begitulah menurut berita) yang memperkosa
sehabis ia menonton film yang merangsang syahwat. Tapi lebih banyak
lagi anak yang membaca cerita seks stensilan, ternyata, kemudian tumbuh
jadi orang baik-baik menurut ukuran normal. Berapa cerita porno yang
pernah Anda serap? Dan blue film?
Bahkan yang lebih seram dari itu? Mungkin Anda sendiri lupa. Sastrawan
itu juga lupa. Tapi seperti halnya Anda, para pembaca, sang sastrawan
pun merasa dirinya tak jadi bejat. Berdosa, memang, tapi bejat betul
barangkali belum.
Dan itulah yang terpikir sering kali
sebelum tidur. Bahwa dosa -- suatu pelanggaran terhadap hubungan dan
janji kita dengan Tuhan -- sering tak bisa begitu saja diterjemahkan
sebagai rusaknya hubungan sehari-hari dengan orang lain. Kita punya
kemungkinan mencegah dan memperbaiki kerusakan yang satu ini, tapi
tentang dosa, kapasitas kita agaknya lebih terbatas. Kita tak mudah
menyucikan dan menyelamatkan tetangga-tetangga kita.
Mungkin
kita akan mengalami frustrasi karena itu. Tapi barangkali juga tak
perlu: kalau kita percaya, bahwa kita sendiri tak jadi jebol hanya
karena sejumlah cerita bobrok, kita mungkin bisa percaya bahwa orang
lain akan demikian pula. Termasuk anak-anak kita. Termasuk anak-anak
saudara kita.
Well,
tentu saja sampeyan boleh tak setuju dengan pendapat itu. Saya cuma mau
menunjukkan bahwa dunia memang semakin tua.... tapi toh saya tetap
merasa cemas pada anak perempuan saya di rumah yang baru berusia 3
tahun.
Posted at 12:13:06 pm by pecas ndahe
tautan tetap