Baiklah para pembela Pak H, tetua desa yang sedang gering di
rumah sakit. Silakan sampeyan mempertahankan pendapat bahwa Pak H tak
perlu diadili dan harus diampuni kesalahannya. Silakan. Saya tak hendak
mengajak diskusi, adu mulut, adu kata-kata, atau adu tulisan kali ini.
Saya cuma mau mengajak sampeyan berandai-andai. Seandainya sampeyan
adalah Bung K dan hidup sampeyan berada di tangan Pak H, apa yang akan
sampeyan lakukan?
Sampeyan
ndak perlu menjawab pertanyaan itu sekarang. Silakan renungkan dulu
sambil membaca surat di bawah ini. Surat ini ditulis oleh Soekarno,
bekas presiden Indonesia, kepada Soeharto, presiden yang
menggantikannya. Soekarno menuliskannya dalam keadaan sakit dan
kesepian di Wisma Yaso, Jakarta.
Kepada yang terhormat
Saudara Presiden RI
Jenderal Soeharto
Saudara,
Maafkanlah
saya, bahwa saya lagi-lagi kirim surat hal apa-apa kepada Saudara.
Lebih dahulu saya mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada Saudara,
bahwa saya Saudara perbolehkan ke Jakarta. Hawa Jakarta ternyata baik
bagi saya. Rematik saya sudah berkurang.
Tetapi ada beberapa hal yang membuat keadaan saya di Jakarta itu kurang menyenangkan.
a.
Ny. Sugio, yang sudah enam tahun membantu rumah tangga saya di Jalan
Gatot Subroto (rumah itu adalah milik istri saya Dewi, milik penuh)
tidak diizinkan membantu rumah tangga lagi, sehingga segala sesuatu
(termasuk urusan beras, gula, kopi dan sebagainya) saya sendiri yang
harus mengurusnya. Tolong Saudara, tolong supaya Ny. Sugio boleh lagi
menjadi pemimpin rumah tangga saya.
b. Ada lagi
satu hal yang menyolok hati: Ibu Hadi, pengasuh anak-anak saya yang
perempuan, terutama Rachmawati, ia sudah hampir 20 tahun menjadi
"emban" anak-anak perempuan saya, juga tidak boleh masuk Slipi.
c.
Anak-anak Hartini yang di Bogor sudah satu rumah dengan ibunya dan
saya—yaitu anak-anak Hartini dari suaminya yang terdahulu, dua anak
tiri saya yang amat cinta kepada saya, juga tidak boleh bertemu dengan
saya. Siapa lagi yang harus saya tangisi mengenai hal-hal ini, kecuali
Saudara? Tolonglah, Saudara!
d. Tolong, supaya saya
lekas sembuh, tanpa gangguan-gangguan pikiran sebagai tersebut di atas.
Saya ingin ziarah pusara Bapak, ingin menengok rumah tangga yang
lain-lain, juga belum boleh.
Demikianlah Saudara Presiden, "tangisan" saya kepada Saudara Presiden. Tolonglah!
Sebelumnya saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih.
Hormat saya,
Soekarno
3 November 1968
Posted at 5:44:13 pm by pecas ndahe
tautan tetap