Ketika
Gunung Merapi memijarkan lava bak rama-rama di malam hari, saya
teringat akan Yogyakarta. Saya teringat tempat saya memulai hidup.
Tempat ibu saya menghabiskan masa tuanya dengan menunggu cucu-cucunya
sekolah. Tempat sanak kerabat melewatkan hari-hari mereka. Tempat
tetangga dan teman-teman masa kecil melanjutkan kehidupan mereka. Juga
tempat segenap kenangan masa lalu saya tertinggal....
Sebab,
siapa tak kenal Yogya? Banyak orang bahkan tak cuma kenal tapi juga
merasa terkait dengan kota ini. Mas Gandrik, misalnya, dulu tinggal di
sana meski sekarang cari rejeki di Jakarta.
Kere Kemplu, pengelana
Jalan Sutera, juga Mbakyu Em-Eijs, yang sekarang tinggal di satu sudut Jakarta, pernah kuliah di Jogja. Anak-anak komunitas
Lesehan
setiap hari masih berkeliaran di sana sampai sekarang. Jangan lupakan
pula Katon Bagaskara yang tertambat hatinya lalu menciptakan lagu
Yogyakarta itu.
Ingat Yogya, jadi ingat bakpia Pathuk, gudeg Juminten, SGPC, sego
kucing, soto sawah, sate Jono, sate Samirono, bakso Ateng, susu macan
Pakualaman, jamu Genggang, ayam goreng Mbok Sabar, bong supit
Prambanan. Saya juga terkenang pada Pasar Kranggan dan Beringhardjo,
stadion Kridosono, bioskop Ratih, Indra dan Permata, Stasiun Tugu,
Keraton, Kali Code, bakpia Pathuk, juga Malioboro.
Malioboro,
jalan legendaris yang membelah jantung Yogya itu, tak dapat disangkal
lagi punya daya tarik sangat istimewa - kalau tidak dapat dikatakan
magis. Sejak zaman kejayaan Kasultanan Yogyakarta dahulu, jalan yang
lurus bagai poros singgasana Sultan
hingga tugu di perempatan bagian utara kota ini telah menyaksikan berbagai peristiwa.
Prosesi kirab-dalem Sri Sultan
di
kereta kencana Kiai Garuda Yeksa, lengkap dengan segala pengiring.
Iring-iringan kanjeng tuan gubernur Belanda dengan para pejabat tinggi
pemerintah kolonial. Prosesi Kiai Tunggul Wulung, pusaka keramat
keraton yang mampu menghalau wabah penyakit pes yang menghantui seluruh
kawula.
Dan pada zaman
Yogya sebagai ibu kota revolusi: iring-iringan mobil butut para
pemimpin yang pada duduk dengan kepala tegak, dengan bendera
merah-putih berkibar-kibar dan pekik merdeka rakyat yang seakan tiada
putus, para pejuang berambut gondrong dengan pistol bergelantungan,
mondar-mandir di jalan yang jadi remang-remang karena kurangnya cahaya
listrik.
Semua itu direkam oleh rakyat, para kawula Yogya.
Tidak semuanya memancarkan kebesaran, grandeur, kesukaan. Sering bahkan
kedukaan dan keprihatinan. Tapi selalu saja rakyat, para kawula berdiri
tegak menyaksikannya dengan kepatuhan, kekaguman, kesetiaan. Panes et circus, roti dan permainan, sabda sang Caesar pada zaman Romawi kuno.
Di Yogya, mungkin circus
saja - seperti terlihat dalam segala macam prosesi di Malioboro -
ditambah sedikit beras dan gaplek, sudah akan membuat rakyat tenteram.
Bagi mereka circus seperti
itu bukan hanya permainan, tetapi juga upacara pernyataan solidaritas
total terhadap jagat semesta yang dicerminkan oleh
Kerajaan Ngayogyakarta.
Maka, Malioboro yang dijebol dan dibangun berkali-kali itu diharapkan rakyat akan mengembalikan lagi fungsinya sebagai koridor circus, gang panjang yang mampu mengikat grandeur dan romantika perjuangan dan pengorbanan.
Dan memang. Jalan itu sekarang memiliki trotoar pejalan kaki yang lebih
lebar, jalan khusus untuk sepeda motor dan becak, serta jalan khusus
untuk mobil dan andong. Mobil tidak lagi boleh diparkir di jalan itu,
melainkan di jalan-jalan samping di sebelah timur dan barat. Sebagian
lagi ditampung taman parkir persis di timur Stasiun Tugu.
Tiang-tiang
lampu gaya antik bermunculan, menambah cerahnya sinar Malioboro di
waktu malam. Pohon-pohon di pinggir jalan mulai ditanam, toko-toko
serta hotel-hotel ikut berbenah. Pedagang kaki lima berjejeran di
trotoar hingga pukul 9 malam, dan sesudah itu hingga larut ganti si
mbok penjual gudeg, sego kucing, nasi liwet, dan warung Padang lesehan
berderetan di depan toko-toko yang sudah tutup.
Selain
Malioboro, saya ingat Kali Code yang mengalir di tengah kota. Ini bukan
sungai yang istimewa cantik. Berkelok-kelok mengalir darl utara ke
selatan, dengan airnya yang lumayan jernih dan batu-batu lahar Gunung
Merapi berserakan sepanjang alur, sungai ini menjadi istimewa karena ia
membelah bagian pusat kota.
Maka
tebing-tebingnya yang tidak curam menjadi bagian yang menarik, bagi
mereka yang tidak mampu membuat rumah di kampung-kampung dan daerah
elite dan mau dekat fasilitas pusat kota. Waktu permukiman ledok-ledok
ini semakin padat, serta arus penduduk melarat terus saja masuk kota,
maka lahan-lahan yang lebih sempit di bawah-bawah tebing, praktis di
pinggir sungai, mulai juga dipadati rumah penduduk.
Apa yang
disebut lahan di pinggir sungai adalah tanah-tanah lunak dan pasir yang
sesungguhnya masih "bergerak" - wedi kengser, kata penduduk. Code, yang
sepanjang generasi selalu menerima kotoran para penghuni Yogya bagian
tengah dan mengalirkannya ke selatan, makin megap-megap kemampuannya
menampung dan mengalirkan segala sampah - dari tidak hanya penduduk
kota yang makin padat, tetapi terutama dari sangat berjubelnya para
penghuni sepanjang sungai. Apa mau dikata? Orang melarat, banyakkah
pilihannya?
Meskipun tanah pinggiran itu adalah tanah empuk
bercampur pasir yang sewaktu-waktu bergerak? Bila hujan turun dengan
derasnya, wedi kengser akan bergeser dan rumah-rumah di atasnya pun
ikut hanyut. Penduduk lari mengungsi ke para tetangga di lahan
tebing sebelah atas. Bila hujan berhenti, mereka turun lagi, membangun
lagi rumah mereka.
Kehidupan
pun kembali "normal". Sampah-sampah dan kotoran lain terus juga dibuang
ke sungai. Penduduk pada mandi, buang air, berkumur, mencuci beras dan
pakaian di sungai seperti biasa. Anak-anak bersembur-semburan, ibu-ibu
dengan kain basahan memandikan anak mereka. Dari atas jembatan Code
pemandangan itu bagai lukisan lanskap Bali dari Walter Spies. Indah,
tenteram, damai, gembira, sementara Code makin menyempit juga.
Saya
ingat, pada musim hujan 1984, tanpa satu ramalan yang jelas, apalagi
penerangan, curah hujan dengan dahsyatnya mengguyur Yogya dalam ukuran
yang jauh melampaui tahun-tahun yang sudah. Jalan-jalan di daerah
permukiman "elite", yang biasanya tidak kebanjiran, tahun itu harus
mengalaminya.
Dan
Code? Dengan kesakitan yang sangat, air pun naik dengan cepatnya. Dan
Code mengamuk dahsyat. Rumah-rumah wedi kengser di lahan bawah dan
rumah-rumah di ledok dihajarnya dan hanyut bagai rumah-rumahan kertas.
Jembatan-jembatan, yang agaknya sudah lama tidak diperiksa
keselamatannya, "tiba-tiba" jebol atau amblas.
Kembali
pemandangan rutin pada musim hujan terlihat. Mereka yang kehilangan
rumah mengungsi. Mereka yang tinggal di bagian ledok atas pun menerima
mereka. Dapur umum disiapkan. Para pejabat turun meninjau, membagikan
bantuan, menjabat tangan penduduk, mencolek pipi bayi-bayi mereka.
Untuk
kesekian kali pun diberikan penerangan akan bahaya tinggal di
lahan-lahan sempit pinggiran sungai, serta bahaya penyumpalan sampah
serta kotoran di sungai. Penduduk mendengarkan dan manggut-manggut.
Sesudah
hujan reda, dan mereka tahu bahwa tuan rumah sudah sampai pada batas
kemampuan menerima pengungsian, mereka pun berduyun kembali ke lahan
bawah - memilih bagian mana sekarang yang kebagian wedi kengser yang
agak padat, yang akan dapat menyangga rumah mereka, sampai musim hujan
yang akan datang.
Mungkin saja Malioboro satu koridor circus kitsch.
Tapi bagi para kawula yang dipaksa nasib memilih habitat di lahan-lahan
sempit di ledok dan wedi kengser, di bawah sana di sepanjang Code,
terlalu pentingkah lagi kategori circus kitsch dan pentas yang menghadirkan teater kolosal?
Para kawula agaknya tahu, ledok dan wedi kengser itu "bukit-bukit"
mereka yang kusam dan tidak romantis. Dengan tarikan napas panjang
mereka menerimanya bersama rutin musim hujan mereka. Sebaliknya mereka
tahu, Malioboro adalah "bukit-bukit" di seberang sana yang
sewaktu-waktu mereka butuhkan untuk mereka pandangi dan kagumi. Dan
Malioboro di bukit "sana" itu bagian yang tak terpisahkan dari bukit
"sini", di Code.
Hari ini saya teringat semua itu. Semua tentang Yogyakarta ....