"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.
Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!"
Selengkapnya klik di sini ...
selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.
Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.
Tiga
abad yang lalu, gunung bergemuruh ketika Sultan Agung mangkat. Babad
Tanah Jawi mencatat itu. Oktober 1988, Sultan Hamengku Buwono IX wafat,
dan tak ada gemuruh gunung dan tak ada gempa. Yang ada gemuruh lain:
ratusan ribu manusia membanjir berbelasungkawa, sejak jenazah tiba dari
Jakarta sampai dengan tubuh itu diiringkan dengan kereta berkuda ke
bukit-bukit kering di Imogiri. Seorang wanita tua di dekat Bandar Udara
Adisucipto bahkan terdengar menangis, "Duh, Gusti, duh, Gusti...."
Barangkali sebuah babad lain akan mencatat bahwa pemakaman Sri Sultan
adalah yang terbesar di abad ke-20, dalam hal jumlah manusia yang ikut
serta. Dan banyak yang bakal setuju. "Ngarsa Dalem telah membuat
pangeram-eram," bisik seorang tamu kepada Pangeran Hadiwinoto, salah
seorang putra raja Yogya yang wafat itu, ketika melihat hampir setengah
juta manusia datang menyambut. Dan Hadiwinoto kemudian sadar: benar,
Hamengku Buwono IX telah membuat sesuatu yang menakjubkan.
Hujan juga turun, tak disangka, setelah tiga bulan kota kering seperti
konon itulah kebiasaan bila ada anggota keluarga Keraton Jogja
meninggal. Hujan juga tumben turun di Washington, D.C., ketika jenazah
Sri Sultan disemayamkan di KBRI dan ketika diberangkatkan ke Jakarta,
waktu itu. Sebuah teja aneh berwarna putih bahkan tampak di atas langit
Imogiri ketika pemakaman berlangsung, dan dua burung hitam yang membisu
hinggap di tembok makam. Tapi, lebih dari segalanya yang menggetarkan
buat raja yang juga demokrat itu ialah rakyat, rakyat, rakyat.
Hari-hari
ini Gunung Merapi di Jogjakarta juga sedang bergemuruh. Hujan sesekali
turun pada musim yang mestinya sudah masuk di awal kemarau. Inikah
tanda-tanda bakal ada seorang raja atau tokoh besar yang mangkat?
Saya tak berani menduga. Buat saya, selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.