"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, May 04, 2006
Serakah Pecas Ndahe

Serakah itu baik, kata Gordon Gekko, tokoh dalam film Wall Street (1987), di depan sebuah rapat pemegang saham di Hotel Roosevelt yang tua di Manhattan.

Saya ingat adegan ini karena baru saja menonton kembali film lawas karya Oliver Stone itu. Sampeyan sudah pernah nonton?

Kenapa Gekko bisa mengambil kesimpulan yang dahsyat itu? Mungkin ia tahu, mengutip Ciambattista Vico dari abad ke-18 di Italia, justru dari kebengisan, kebakhilan, dan ambisi manusia, telah lahir banyak hal yang baik di dunia. Keserakahan jugalah yang telah mendorong orang membuat perkakas. Dari sana lahir teknologi, untuk memperoleh hasil yang kian lama kian besar.

Uang bahkan bisa mendorong orang jadi serakah. Sebab, siapa yang tak butuh uang? Mungkin cuma mereka yang tinggal di negeri dongeng yang tak butuh uang. Para ksatria itu, baik menurut sahibulhikayat Raja Arthur maupun dari jejer Keraton Amerta, tak pernah memikirkan uang. Bahkan Arjuna pun tak pernah diadegankan oleh dalang mana pun mengeluarkan uang untuk membeli busur dan anak panah.

Yang sering kita lupakan ialah bahwa para kesatria pada dasarnya adalah kelompok yang punya privilese: mereka terbiasa hidup terjamin berkat upeti dan jerih payah para saudagar dan petani....

Tapi siapa yang tak akan tergetar oleh mereka? Siapa yang tak akan kagum kepada tokoh-tokoh legendaris yang seolah-olah tak butuh duit? Kita pun masih kagum kepada Si Rambo: akan sangat janggal dan mengagetkan seandainya dalam sebuah adegan tiba-tiba Rambo meminjam uang atau menunjukkan kartu Diners Club atau Amexuntuk beli bir.

Di masa Bung Karno hidup, Indonesia memang punya citra seorang kesatria tanpa credit card, tanpa sedan Jaguar, tanpa arloji Rolex, dan tanpa parfum Bvlgari. Di masa Bung Karno, Indonesia lebih terasa sebagai sebuah tujuan, sebuah alasan untuk berjuang, a cause. Kita agaknya kini tak seperti itu lagi -- yang menyebabkan kita merasa seperti kehilangan sesuatu.

Barangkali kita memang telah kehilangan sesuatu. Tapi jangan silap: kita tak mungkin terus-menerus kagum atau berlaku seperti para kesatria. Semar-Petruk-Gareng pernah menunjukkan Arjuna pun bisa mengeluh lapar, dan Cervantes telah mencemooh Don Kisot, sang kesatria yang kesiangan.

Sebab, apa boleh buat: zaman tak lagi pagi. Banyak di antara kita kini yang memang lebih mencari kekayaan ketimbang keagungan. Kita kini lebih melihat Indonesia tidak sebagai suatu cause, tapi lebih sebagai satu wilayah yang berpenduduk, dengan perut dan pamrih dan kegelisahan. Kita tak punya lagi gelora yang dulu.

Tapi bukankah itu nasib sebuah gelora, sesuatu yang bisa indah untuk dikenang lama, tapi tak kuat lagi getarnya?


Posted at 12:45:41 pm by pecas ndahe
kirimkan pecahan ndasmu  

Next Page