
Serakah itu baik, kata Gordon Gekko, tokoh dalam film
Wall Street (1987), di depan sebuah rapat pemegang saham di Hotel Roosevelt yang tua di Manhattan.
Saya ingat adegan ini karena baru saja menonton kembali film lawas karya Oliver Stone itu. Sampeyan sudah pernah nonton?
Kenapa
Gekko bisa mengambil kesimpulan yang dahsyat itu? Mungkin ia tahu,
mengutip Ciambattista Vico dari abad ke-18 di Italia, justru dari
kebengisan, kebakhilan, dan ambisi manusia, telah lahir banyak hal yang
baik di dunia. Keserakahan jugalah yang telah mendorong orang membuat
perkakas. Dari sana lahir teknologi, untuk memperoleh hasil yang kian
lama kian besar.
Uang
bahkan bisa mendorong orang jadi serakah. Sebab, siapa yang tak butuh
uang? Mungkin cuma mereka yang tinggal di negeri dongeng yang tak butuh
uang. Para ksatria itu, baik menurut sahibulhikayat Raja Arthur maupun
dari jejer Keraton Amerta, tak pernah memikirkan uang. Bahkan Arjuna
pun tak pernah diadegankan oleh dalang mana pun mengeluarkan uang untuk
membeli busur dan anak panah.
Yang
sering kita lupakan ialah bahwa para kesatria pada dasarnya adalah
kelompok yang punya privilese: mereka terbiasa hidup terjamin berkat
upeti dan jerih payah para saudagar dan petani....
Tapi
siapa yang tak akan tergetar oleh mereka? Siapa yang tak akan kagum
kepada tokoh-tokoh legendaris yang seolah-olah tak butuh duit? Kita pun
masih kagum kepada Si Rambo: akan sangat janggal dan mengagetkan
seandainya dalam sebuah adegan tiba-tiba Rambo meminjam uang atau
menunjukkan kartu Diners Club atau Amexuntuk beli bir.
Di masa Bung Karno hidup, Indonesia memang punya citra seorang kesatria tanpa credit card,
tanpa sedan Jaguar, tanpa arloji Rolex, dan tanpa parfum Bvlgari. Di
masa Bung Karno, Indonesia lebih terasa sebagai sebuah tujuan, sebuah
alasan untuk berjuang, a cause. Kita agaknya kini tak seperti itu lagi -- yang menyebabkan kita merasa seperti kehilangan sesuatu.
Barangkali
kita memang telah kehilangan sesuatu. Tapi jangan silap: kita tak
mungkin terus-menerus kagum atau berlaku seperti para kesatria.
Semar-Petruk-Gareng pernah menunjukkan Arjuna pun bisa mengeluh lapar,
dan Cervantes telah mencemooh Don Kisot, sang kesatria yang kesiangan.
Sebab, apa boleh buat: zaman tak lagi pagi. Banyak di antara kita kini
yang memang lebih mencari kekayaan ketimbang keagungan. Kita kini lebih
melihat Indonesia tidak sebagai suatu cause,
tapi lebih sebagai satu wilayah yang berpenduduk, dengan perut dan
pamrih dan kegelisahan. Kita tak punya lagi gelora yang dulu.
Tapi bukankah itu nasib sebuah gelora, sesuatu yang bisa indah untuk dikenang lama, tapi tak kuat lagi getarnya?
Posted at 12:45:41 pm by pecas ndahe
tautan tetap